Ceritra
Ceritra Warga

Cuma Pajangan? Simak Fakta Menarik Mengapa Pria Memiliki Puting

Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 04:15 PM

Background
Cuma Pajangan? Simak Fakta Menarik Mengapa Pria Memiliki Puting
Ilustrasi (Shutterstock/)

Pernahkah kamu sedang melamun di bawah guyuran shower, lalu tiba-tiba pandanganmu jatuh ke arah dada dan muncul sebuah pertanyaan eksistensial yang luar biasa absurd: "Buat apa sih gue punya puting?" Pertanyaan ini mungkin terdengar konyol, tapi sebenarnya ini adalah salah satu misteri biologi paling populer yang sering bikin orang garuk-garuk kepala. Bagi wanita, fungsinya jelas sebagai sarana menyusui. Tapi bagi pria? Puting payudara seolah-olah cuma aksesoris tempelan yang nggak ada gunanya, mirip kayak tombol 'scroll lock' di keyboard yang hampir nggak pernah dipencet.

Kalau kita bicara soal evolusi, biasanya alam itu sangat efisien. Organ yang nggak kepakai biasanya bakal hilang ditelan zaman. Tapi kenapa sampai sekarang, dari zaman manusia purba sampai era TikTok, pria masih tetap "dianugerahi" dua titik kecil di dadanya? Ternyata jawabannya bukan karena alam sedang malas, melainkan karena proses desain manusia di dalam rahim itu jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan.

Satu Blueprint untuk Semua

Mari kita tarik mundur waktu ke masa-masa awal kehidupan kita di dalam rahim ibu. Di minggu-minggu pertama kehamilan, janin itu sebenarnya belum punya jenis kelamin yang jelas secara fisik. Bayangkan rahim adalah sebuah pabrik perakitan, dan setiap manusia yang diproduksi di sana menggunakan satu blueprint atau cetak biru yang sama di awal proses.

Nah, di dalam cetak biru standar ini, puting payudara sudah masuk ke dalam daftar "fitur bawaan". Kenapa? Karena pembentukan puting terjadi jauh sebelum kromosom Y (yang menentukan jenis kelamin laki-laki) mulai mengambil alih kendali. Jadi, secara teknis, kita semua memulai hidup sebagai "perempuan" atau setidaknya memiliki basis tubuh perempuan sebelum hormon melakukan tugasnya masing-masing.

Banyak orang menyangka kalau jenis kelamin itu ditentukan instan pas pembuahan. Padahal, meski secara genetik jenis kelamin sudah terkunci lewat kombinasi XX atau XY, tubuh kita butuh waktu sekitar enam sampai tujuh minggu untuk benar-benar memutuskan mau jadi apa "pabrik" ini nantinya. Sebelum masa itu tiba, janin tumbuh mengikuti instruksi dasar yang mencakup pembentukan kelenjar susu dan puting.

Saat Kromosom Y "Terbangun" dari Tidurnya

Sekitar minggu keenam atau ketujuh, sebuah gen yang disebut SRY (Sex-determining Region Y) pada kromosom laki-laki mulai aktif. Ini adalah momen krusial di mana janin laki-laki mulai memproduksi hormon testosteron secara besar-besaran. Hormon ini bertindak seperti mandor proyek yang tiba-tiba datang ke lokasi konstruksi dan mengubah rencana bangunan di tengah jalan.

Begitu testosteron menyerbu masuk, sistem reproduksi wanita yang tadinya mau dibentuk langsung dibatalkan. Rahim nggak jadi dibuat, dan organ-organ lain mulai bermutasi menjadi versi laki-laki. Namun, ada satu masalah: puting payudara sudah terlanjur dipasang. Karena puting tidak mengganggu perkembangan organ laki-laki lainnya, alam merasa tidak perlu repot-repot menghapusnya.

Inilah yang disebut sebagai sisa-sisa embriologis. Dalam dunia evolusi, ada prinsip "kalau nggak rusak dan nggak bikin rugi, nggak usah dibuang." Menghapus puting dari tubuh laki-laki akan membutuhkan proses evolusi yang sangat rumit dan energi yang besar, sementara keberadaannya sendiri bersifat netral. Puting pada pria tidak menghabiskan kalori, tidak mengundang predator, dan tidak mengurangi peluang untuk bertahan hidup. Jadi, ya sudah, dibiarkan saja nangkring di sana sebagai kenang-kenangan masa awal perkembangan.

Bukan Sekadar Pajangan Tanpa Rasa

Meski sering dianggap tidak berguna, puting pria sebenarnya punya infrastruktur yang cukup lengkap. Di sana ada saraf, pembuluh darah, dan bahkan jaringan payudara dalam jumlah kecil. Itulah sebabnya, pria juga bisa merasakan sensasi atau rasa sakit di area tersebut. Bahkan dalam kasus medis yang langka, pria bisa mengalami kondisi yang disebut ginekomastia atau pembengkakan jaringan payudara akibat ketidakseimbangan hormon.

Lebih jauh lagi, secara biologis pria sebenarnya memiliki semua "perangkat keras" yang diperlukan untuk menghasilkan susu, meski "perangkat lunaknya" (hormon prolaktin) tidak tersedia dalam dosis yang cukup. Ada laporan langka tentang pria yang bisa memproduksi sedikit cairan susu dalam kondisi stres berat atau gangguan hormonal tertentu. Tapi tentu saja, secara fungsional, ini bukan sesuatu yang didesain untuk terjadi secara normal.

Sebuah Pengingat Tentang Kesamaan

Melihat puting pria dari sudut pandang sains sebenarnya memberikan pelajaran filosofis yang cukup dalam. Ini adalah pengingat bahwa pada level paling dasar, laki-laki dan perempuan itu berangkat dari titik yang sama. Perbedaan fisik yang kita lihat sekarang hanyalah hasil dari percabangan hormon di tengah jalan.

Jadi, kalau lain kali kamu merasa heran kenapa pria punya puting, anggap saja itu sebagai "fitur warisan" dari desain awal manusia yang paling universal. Kita semua adalah variasi dari satu tema yang sama. Evolusi mungkin terlihat sangat detail dan presisi, tapi ia juga punya sisi santai yang membiarkan hal-hal kecil tetap ada selama hal itu tidak mengacaukan sistem utama.

Pada akhirnya, puting pada pria adalah bukti nyata betapa uniknya biologi manusia. Sesuatu yang dianggap absurd dan tidak berfungsi ternyata menyimpan cerita panjang tentang bagaimana kita semua terbentuk di dalam kegelapan rahim. Sebuah "eror" kecil yang justru memperkaya narasi tentang asal-usul spesies kita.

Logo Radio
🔴 Radio Live