Ceritra
Ceritra Warga

Benarkah Mandi Malam Picu Rematik? Simak Penjelasannya di Sini

Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 01:15 PM

Background
Benarkah Mandi Malam Picu Rematik? Simak Penjelasannya di Sini
Ilustrasi (Pexels/Ron Lach)

Kalau ada satu kalimat yang paling sering diteriakkan ibu-ibu di seluruh pelosok Indonesia saat matahari mulai tenggelam, kemungkinan besar bunyinya begini: "Jangan mandi malam-malam, nanti rematik!" Ancaman ini seolah sudah menjadi warisan turun-temurun, setara dengan larangan duduk di atas bantal atau jangan keluar saat magrib kalau tidak mau diculik wewe gombel. Masalahnya, bagi kita yang hidup di era hustle culture—yang pulang kerja jam delapan malam dan masih harus menembus kemacetan yang menguras keringat—mandi malam bukan lagi pilihan, melainkan sebuah kebutuhan spiritual demi kewarasan.

Ketakutan akan rematik ini memang luar biasa mendarah daging. Bayangan akan sendi yang bengkak, kaku, dan nyeri di hari tua membuat banyak orang rela menahan gerah dan bau matahari demi patuh pada "petuah" orang tua. Tapi, mari kita jujur sebentar: apakah benar air dingin di malam hari punya kekuatan magis untuk merusak persendian kita secara permanen? Ataukah ini cuma sekadar taktik orang tua zaman dulu agar anak-anaknya tidak keluyuran malam dan hemat air?

Membongkar Akar Masalah: Air vs. Sendi

Mari kita luruskan faktanya secara medis. Dalam kamus kedokteran mana pun, tidak ada catatan yang menyebutkan bahwa mandi malam adalah penyebab utama rematik. Rematik sendiri sebenarnya adalah istilah awam untuk penyakit sendi yang jenisnya banyak sekali, mulai dari osteoartritis (pengapuran) sampai reumatoid artritis (penyakit autoimun). Penyebabnya pun kompleks, bisa karena faktor genetik, usia, cedera, hingga gaya hidup yang berantakan.

Lantas, kenapa mitos ini begitu laku di pasaran? Jawabannya ada pada sensasi fisik yang kita rasakan. Saat tubuh kita yang hangat terpapar air dingin di malam hari, suhu tubuh akan turun drastis secara mendadak. Hal ini menyebabkan kapsul sendi—semacam pembungkus yang melindungi sendi kita—mengalami pengerutan atau penyusutan sementara. Nah, proses penyusutan inilah yang terkadang menimbulkan rasa nyeri atau "linu" sesaat.

Efek "nyes" dan linu ini sering disalahartikan sebagai serangan penyakit. Padahal, itu cuma reaksi alami tubuh terhadap suhu ekstrem. Ibarat karet yang ditaruh di dalam freezer, ia akan mengeras dan kaku. Begitu juga dengan sendi kita. Tapi ingat, ini sifatnya sementara. Begitu suhu tubuh kembali normal, rasa linu itu biasanya akan hilang dengan sendirinya tanpa meninggalkan kerusakan permanen pada jaringan sendi.

Kenapa Orang Tua Kita Begitu Yakin?

Kita tidak bisa menyalahkan kakek-nenek atau orang tua kita sepenuhnya. Ada alasan logis di balik kekhawatiran mereka. Bagi orang yang sudah memiliki bakat rematik atau memang sudah menderita gangguan sendi, mandi malam pakai air dingin memang bisa menjadi pemicu kambuhnya rasa nyeri. Suhu dingin membuat cairan sendi (sinovial) menjadi lebih kental, yang pada gilirannya membuat pergerakan sendi jadi lebih seret dan sakit.

Jadi, hubungannya bukan sebab-akibat (mandi malam menyebabkan rematik), melainkan hubungan pemicu (suhu dingin memperparah gejala rematik yang sudah ada). Kalau kamu sehat walafiat, rajin olahraga, dan tidak punya riwayat masalah sendi, mandi malam sebenarnya aman-aman saja. Tapi ya, jangan juga mandi pakai air es di tengah udara puncak yang lagi dingin-dinginnya, itu namanya cari penyakit lain seperti hipotermia atau minimal flu berat.

Gaya Hidup Adalah Tersangka Utamanya

Alih-alih menyalahkan air dan sabun, mungkin kita harus mulai melihat kebiasaan harian kita. Kebanyakan dari kita lebih takut mandi malam daripada duduk diam di depan laptop selama sepuluh jam tanpa jeda. Padahal, kurang gerak, kelebihan berat badan, dan pola makan tinggi purin jauh lebih berpotensi mendatangkan rematik daripada mandi setelah pulang kantor.

Kita sering kali terjebak dalam pola pikir "kambing hitam". Lebih mudah menyalahkan ritual mandi malam daripada mengakui bahwa kita jarang sekali melakukan peregangan atau mengonsumsi air putih yang cukup. Rematik tidak datang hanya karena kamu mengguyur badanmu di jam 9 malam, ia datang karena akumulasi dari bagaimana kita memperlakukan tubuh kita selama bertahun-tahun.

Tips Mandi Malam yang 'Approved' oleh Ilmu Pengetahuan

Buat kamu para pejuang lembur atau mereka yang merasa tidak afdol kalau tidur dalam keadaan lengket, mandi malam tetap bisa dilakukan dengan nyaman tanpa perlu merasa berdosa. Tips paling sederhana dan masuk akal adalah dengan menggunakan air hangat. Air hangat membantu merelaksasi otot-otot yang tegang setelah seharian bekerja dan menjaga agar kapsul sendi tidak kaget.

Selain itu, jangan mandi terlalu lama. Lima sampai sepuluh menit sudah lebih dari cukup untuk membersihkan kuman dan kotoran. Setelah mandi, pastikan tubuh langsung dikeringkan dengan benar dan gunakan pakaian yang hangat. Menjaga suhu tubuh tetap stabil adalah kunci agar kamu tidak merasa linu-linu yang memicu munculnya "teori konspirasi" rematik di kepala.

Berhenti Menakut-nakuti Diri Sendiri

Sudah saatnya kita pensiun dari rasa takut yang tidak berdasar ini. Mandi malam adalah bagian dari sanitasi yang penting, terutama di kota besar yang penuh polusi. Mengaitkan mandi malam dengan rematik permanen adalah lompatan logika yang terlalu jauh. Secara medis, mandi malam tidak akan mengubah susunan tulangmu atau membuat sendimu keropos secara mendadak.

Mitos ini mungkin akan tetap ada, menghiasi obrolan di grup WhatsApp keluarga atau menjadi bahan teguran mertua. Namun sekarang, kamu punya senjata pengetahuan untuk tidak perlu panik lagi. Jadi, silakan nyalakan shower-mu, nikmati air hangatnya, dan tidurlah dengan nyenyak tanpa bayang-bayang rematik yang menghantui. Karena sejujurnya, yang lebih bahaya dari mandi malam adalah tidur dalam keadaan hati yang masih menyimpan rindu—eh, maksudnya tidur dalam keadaan badan kotor penuh bakteri.

Logo Radio
🔴 Radio Live