Ceritra
Ceritra Warga

Sering Oles Odol ke Jerawat? Kenali Risikonya Sebelum Terlambat

Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 02:15 PM

Background
Sering Oles Odol ke Jerawat? Kenali Risikonya Sebelum Terlambat
Ilustrasi (Pexels/Hanna Pad)

Bayangkan skenario ini: Kamu lagi asyik menggoreng bakwan di dapur, tiba-tiba "pletok!", cipratan minyak panas mendarat tepat di punggung tangan. Rasa perihnya langsung menjalar ke ubun-ubun. Refleks pertama yang muncul di kepala bukanlah mencari air mengalir, melainkan lari ke kamar mandi untuk mengambil odol alias pasta gigi. Atau dalam skenario lain, besok ada acara kondangan mantan, tapi tiba-tiba ada jerawat segede gaban muncul di jidat. Lagi-lagi, odol jadi pahlawan kesiangan yang dioleskan tebal-tebal dengan harapan besok pagi si jerawat bakal kempes tanpa sisa.

Kebiasaan ini sudah mendarah daging di masyarakat kita. Dari generasi kakek-nenek sampai ke gen-Z yang katanya sudah melek skincare, mitos odol ini masih saja laku keras. Padahal, kalau kita tanya ke dokter spesialis kulit atau dermatolog, mereka mungkin bakal mengelus dada sambil geleng-geleng kepala. Mari kita bedah pelan-pelan, kenapa ritual turun-temurun ini sebenarnya adalah tindakan "sabotase" terhadap kulitmu sendiri.

Kenapa Kita Begitu Percaya pada Odol?

Logikanya sebenarnya simpel, tapi sayangnya salah sasaran. Pasta gigi biasanya mengandung menthol atau peppermint. Begitu dioleskan ke kulit yang meradang atau luka bakar, ada sensasi dingin yang instan. Kita seringkali tertipu oleh rasa dingin ini, mengira bahwa proses penyembuhan sedang terjadi. "Wah, adem nih, pasti lukanya cepat kering," pikir kita. Padahal, rasa dingin itu cuma trik sensorik dari menthol yang menipu saraf kita sebentar, sementara di balik itu, bencana kimia sedang dimulai.

Selain menthol, odol mengandung bahan-bahan seperti kalsium karbonat, deterjen (Sodium Lauryl Sulfate atau SLS), dan baking soda. Bahan-bahan ini dirancang khusus untuk membersihkan enamel gigi, yang merupakan bagian terkeras di tubuh manusia. Nah, sekarang bayangkan bahan sekeras itu diaplikasikan ke kulit wajah atau area luka bakar yang jaringannya sedang rapuh-rapuhnya. Bukannya sembuh, yang ada malah iritasi parah.

Tragedi Jerawat: Dari Benjolan Kecil Jadi Luka Kimia

Memang benar, odol bisa bikin jerawat kering. Kandungan alkohol dan baking soda di dalamnya memang efektif menyerap minyak dan mengeringkan apa pun yang disentuhnya. Tapi masalahnya, odol tidak tahu kapan harus berhenti "mengeringkan". Dia tidak cuma mengeringkan jerawat, tapi juga menghisap kelembapan alami dari sel-sel kulit di sekitarnya.

Hasilnya? Kamu mungkin bakal mendapati jerawatmu kempes, tapi sebagai gantinya, muncul noda hitam besar atau bekas luka yang mengelupas dan perih. Dalam istilah medis, ini disebut dermatitis kontak iritan. Kulitmu mengalami luka bakar kimia ringan karena pH odol yang sangat basa (sekitar 8-9), sedangkan kulit manusia secara alami bersifat asam (sekitar 5,5). Ketimpangan pH ini bikin skin barrier atau pertahanan terdepan kulitmu langsung hancur berantakan. Kalau skin barrier sudah rusak, bakteri malah makin gampang masuk, dan jangan kaget kalau besoknya muncul jerawat-jerawat baru di area yang sama.

Mitos Luka Bakar: Jangan "Memanggang" Lukamu Sendiri

Kalau untuk jerawat saja sudah berbahaya, efek odol pada luka bakar jauh lebih horor. Saat kulit terkena panas (minyak, air mendidih, atau knalpot), jaringan kulit tersebut masih menyimpan panas di dalamnya. Penanganan yang benar adalah dengan mendinginkannya di bawah air mengalir suhu ruang selama 15-20 menit supaya panasnya keluar.

Nah, kalau kamu malah mengoleskan odol, lapisan pasta yang tebal itu justru bakal "mengunci" panas di dalam jaringan kulit. Alih-alih mendinginkan, odol bertindak seperti isolator atau selimut yang memerangkap suhu tinggi. Ini membuat kerusakan kulit merembet ke lapisan yang lebih dalam. Belum lagi kandungan bahan kimia di dalamnya yang bisa memicu infeksi pada luka terbuka. Alhasil, luka yang seharusnya bisa sembuh dalam hitungan hari tanpa bekas, malah berubah jadi koreng bernanah atau meninggalkan bekas luka hipertrofik yang menonjol.

Rusaknya Skin Barrier: Investasi Buruk Jangka Panjang

Banyak dari kita yang terlalu meremehkan kesehatan skin barrier. Padahal, skin barrier itu ibarat satpam yang menjaga kulit dari polusi, bakteri, dan kekeringan. Penggunaan odol secara sembarangan di kulit wajah adalah cara tercepat untuk memecat si "satpam" ini. Sekali skin barrier rusak, kulitmu bakal jadi super sensitif. Pakai produk skincare apapun bakal terasa perih, kulit gampang merah, dan teksturnya jadi kasar seperti kertas amplas.

Memperbaiki skin barrier yang rusak itu nggak murah dan nggak sebentar. Kamu harus keluar uang lebih banyak buat beli serum ceramide atau pelembap khusus medis, padahal awalnya cuma gara-gara pengen hemat pakai odol seharga sepuluh ribu rupiah. Benar-benar sebuah investasi yang sangat merugikan, bukan?

Apa yang Harus Dilakukan Sebagai Alternatif?

Zaman sudah canggih, kawan. Kita nggak perlu lagi pakai cara-cara "purba" untuk mengobati masalah kulit. Untuk jerawat, sekarang sudah banyak tersedia acne patch atau obat totol jerawat yang mengandung Salicylic Acid atau Benzoyl Peroxide. Bahan-bahan ini memang diformulasikan untuk kulit, bukan untuk sikat gigi. Harganya pun sudah sangat terjangkau di minimarket terdekat.

Untuk luka bakar ringan, kuncinya satu: Air mengalir. Jangan pakai mentega, kecap, apalagi odol. Setelah didinginkan dengan air, kamu bisa pakai salep khusus luka bakar yang mengandung perak sulfadiazin atau gel lidah buaya murni (yang tidak mengandung alkohol tinggi). Kalau lukanya sampai melepuh, jangan sekali-kali dipecahkan sendiri karena itu adalah pelindung alami kulitmu dari infeksi.

Kesimpulan

Kita memang seringkali tergoda dengan solusi instan dan murah meriah. Tapi dalam urusan kesehatan kulit, jalan pintas seringkali malah membawa kita ke jalan buntu yang lebih menyakitkan. Odol itu diciptakan oleh para ahli kimia untuk membersihkan plak gigi dan sisa-sisa rendang di sela-sela geraham, bukan untuk merawat kecantikan wajah apalagi mengobati luka medis.

Jadi, mulai sekarang, mari kita kembalikan fungsi odol ke tempat asalnya, yaitu di atas bulu sikat gigi. Biarkan kulitmu bernapas dan sembuh dengan cara yang semestinya. Jangan sampai niat hati ingin glowing atau cepat sembuh, malah berakhir dengan kulit yang iritasi parah dan dompet yang boncos karena harus bolak-balik ke dokter spesialis kulit. Sayangi skin barrier-mu, karena itu adalah satu-satunya benteng yang menjaga wajahmu tetap terlihat manusiawi.

Logo Radio
🔴 Radio Live