Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia Gigi Bersih dari Selilipan Usai Santap Daging

Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 06:15 PM

Background
Rahasia Gigi Bersih dari Selilipan Usai Santap Daging
Ilustrasi (Freepik/)

Bayangkan skenarionya begini: Kamu baru saja menyelesaikan seporsi rendang yang bumbunya meresap sampai ke tulang, atau mungkin sepiring iga bakar yang serat dagingnya sungguh menantang. Perut kenyang, hati senang. Tapi, ada satu pengganggu kecil yang bikin suasana jadi nggak tenang. Ya, apalagi kalau bukan si 'selilipan' alias sisa makanan yang nyangkut dengan angkuh di sela-sela geraham.

Secara refleks, tangan kamu pasti meraba wadah kecil di meja makan yang isinya batang-batang kayu runcing. Tanpa pikir panjang, kamu ambil satu tusuk gigi kayu, lalu mulai melakukan aksi 'ekskavasi' di dalam mulut dengan penuh konsentrasi. Rasanya? Wah, lega luar biasa pas sisa daging itu berhasil keluar. Tapi pertanyaannya, pernah nggak sih kamu kepikiran kalau ritual sederhana ini sebenarnya adalah cara pelan-pelan buat ngerusak kesehatan mulut kamu sendiri?

Bagi kebanyakan orang Indonesia, tusuk gigi kayu itu sudah kayak pahlawan tanpa tanda jasa yang selalu ada di warteg sampai restoran bintang lima. Padahal, kalau mau jujur-jujuran, para dokter gigi sebenarnya sudah lama banget 'menjerit' tiap kali melihat kita hobi nyongkel gigi pakai kayu. Bukan tanpa alasan, ada bahaya tersembunyi yang siap mengintai di balik batang kayu kecil itu.

Gusi Turun: Ketika 'Pagar' Mulut Kamu Mulai Menyerah

Salah satu risiko paling nyata yang sering diabaikan adalah gusi turun atau dalam bahasa keren medisnya disebut resesi gusi. Coba deh perhatikan cara kita pakai tusuk gigi. Biasanya kita bakal menekan kayu itu ke sela gigi dengan tenaga ekstra supaya kotorannya keluar, kan? Masalahnya, gusi kita itu bukan terbuat dari karet yang bisa ditarik ulur sesuka hati. Gusi itu jaringan yang lembut dan sensitif.

Kalau setiap habis makan kamu rajin 'menghajar' sela gigi pakai kayu yang keras dan kaku, lama-lama gusi kamu bakal stres dan mulai menyusut alias turun. Hasilnya? Akar gigi kamu bakal mulai terekspos. Kalau sudah begini, jangan kaget kalau tiba-tiba minum air es rasanya jadi ngilu minta ampun. Gigi kamu jadi lebih sensitif karena pelindung alaminya sudah kamu rusak sendiri pakai tusuk gigi kayu kesayangan itu.

Nggak cuma itu, kalau gusi sudah turun, ruang di antara gigi malah jadi makin lebar. Bukannya makin bersih, yang ada malah sisa makanan berikutnya makin gampang nyangkut di sana. Jadi kayak lingkaran setan, kan? Makin sering dicongkel, makin lebar celah giginya, makin sering selilipan, dan akhirnya makin sering pula kamu pakai tusuk gigi.

Kayu Itu Berpori, Bukan Teman yang Baik Buat Luka

Hal lain yang sering luput dari perhatian adalah material dari tusuk gigi itu sendiri. Sebagian besar tusuk gigi yang disediakan secara gratis di meja makan itu kualitasnya nggak jelas. Kayu adalah material organik yang berpori. Artinya, kalau proses produksinya nggak higienis, batang kayu itu bisa jadi sarang bakteri yang siap pindah ke mulut kamu.

Belum lagi soal risiko patah atau serpihan kayu yang tertinggal. Kamu pasti pernah kan, lagi asyik nyongkel, eh ujung tusuk giginya malah patah atau berserabut di dalam? Nah, serpihan kayu yang super kecil ini kalau masuk ke dalam jaringan gusi bisa memicu infeksi atau abses. Gusi kamu bisa bengkak, bernanah, dan rasanya nyut-nyutan sampai ke ubun-ubun. Bukannya beres masalah sisa makanan, malah jadi harus ke dokter bedah mulut gara-gara infeksi bakteri dari sebatang kayu.

Selain itu, ujung tusuk gigi yang runcing itu gampang banget bikin luka mikroskopis di gusi. Luka kecil ini adalah pintu masuk yang sempurna buat kuman. Jadi, jangan heran kalau sehabis sesi 'bersih-bersih' pakai tusuk gigi, gusi kamu sering berdarah. Itu tandanya gusi kamu sudah menjerit minta tolong.

Kenalan Sama Dental Floss: Si Benang yang Sering Kita Anaktirikan

Terus kalau nggak boleh pakai tusuk gigi, kita harus gimana? Masa harus membiarkan sisa rendang itu nangkring di gigi sampai besok pagi? Jawabannya sebenarnya simpel, tapi entah kenapa masih banyak orang yang merasa malas atau bahkan malu buat melakukannya: Pakai dental floss atau benang gigi.

Di Indonesia, pakai dental floss itu kesannya ribet dan terlalu 'niat'. Padahal, dental floss didesain khusus buat masuk ke sela gigi tanpa merusak jaringan gusi. Benangnya fleksibel, lembut, dan bisa menjangkau sudut-sudut yang mustahil disentuh sama tusuk gigi kayu yang kaku itu. Pakai benang gigi itu jauh lebih efektif buat mengangkat plak dan sisa makanan secara tuntas.

Memang sih, awalnya pakai dental floss itu butuh latihan biar nggak kelihatan kayak orang lagi main sirkus di depan cermin. Tapi percayalah, investasi waktu beberapa menit buat flossing jauh lebih murah daripada biaya yang harus kamu keluarkan buat tambal gigi atau perawatan gusi ke spesialis periodonsia nantinya.

Ubah Kebiasaan Demi Senyum yang Tetap Awet

Kita hidup di zaman di mana kesehatan itu mahal banget harganya. Mengubah kebiasaan dari pakai tusuk gigi ke dental floss mungkin terasa sepele, tapi dampaknya besar buat masa depan gigi kamu. Bayangkan aja kalau di usia tua nanti kamu masih bisa makan kacang goreng atau daging steak dengan nyaman tanpa rasa ngilu, itu semua dimulai dari cara kamu membersihkan gigi hari ini.

Jadi, mulai sekarang, coba deh kurangi ketergantungan sama tusuk gigi kayu di restoran. Kalau perlu, kantongi dental floss kecil di tas atau dompet kamu. Nggak usah peduli kalau teman makan kamu menganggap kamu terlalu 'ekstra'. Toh, yang bakal ngerasain sakit gigi atau gusi berdarah kan kamu sendiri, bukan mereka.

Intinya, gigi kita itu aset yang nggak ada cadangannya kalau sudah rusak parah. Jangan biarkan batang kayu murah seharga recehan merusak kesehatan mulut yang harusnya kamu jaga seumur hidup. Yuk, mulai pelan-pelan pensiunkan si tusuk gigi dan beralih ke cara yang lebih manusiawi buat gusi kita!

Logo Radio
🔴 Radio Live