Kenapa Orang Indonesia Susah Tidur Tanpa Guling di Luar Negeri?
Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 09:15 PM
Kenapa Cuma Kita yang Hobi Meluk Guling? Menelusuri Jejak Istri Belanda yang Tertinggal
Pernah nggak sih kalian ngerasa ada yang kurang pas waktu menginap di hotel luar negeri atau sekadar numpang tidur di rumah saudara yang "kebarat-baratan"? Kasurnya empuk, selimutnya tebal, AC-nya dingin, tapi pas mau merem, tangan dan kaki rasanya hampa. Kayak ada ruang kosong yang gagal diisi. Nah, di saat itulah kita sadar kalau kita sedang mengalami "sakau" guling.
Buat orang Indonesia, guling itu sudah kayak belahan jiwa. Mau statusnya jomblo atau sudah punya pasangan, guling tetap punya kasta tertinggi dalam hierarki kenyamanan tidur. Tapi tahu nggak sih, benda yang kita anggap wajib ada di atas kasur ini sebenarnya punya sejarah yang agak "ngenes" dan nggak banyak orang di luar sana yang paham kenapa kita sebegitu terobsesinya sama benda berbentuk silinder ini.
Bukan Warisan Nenek Moyang, Tapi Warisan Kesepian
Jangan kaget ya, tapi guling itu sebenarnya bukan asli produk budaya lokal Nusantara yang turun-temurun dari zaman Majapahit. Asal-usul guling justru erat kaitannya dengan masa kolonialisme Belanda di Indonesia. Dulu, para serdadu dan pejabat Belanda yang dikirim ke Hindia Belanda (sekarang Indonesia) itu kebanyakan datang sendirian tanpa membawa istri atau keluarga. Alasannya klasik: biaya mahal dan perjalanan laut yang taruhannya nyawa.
Di sinilah drama dimulai. Karena jauh dari rumah dan merasa kesepian, mereka butuh sesuatu untuk dipeluk saat tidur. Mau meluk bantal biasa, ukurannya terlalu kecil. Akhirnya, muncul ide untuk membuat bantal panjang yang bisa didekap sekaligus disandari kaki supaya suhu tubuh tetap terjaga dan nggak terlalu gerah di iklim tropis yang lembap ini. Secara teknis, guling membantu sirkulasi udara di antara kedua paha dan tangan, jadi kita nggak gampang keringatan pas tidur.
Lucunya, istilah "Dutch Wife" atau Istri Belanda justru lahir dari mulut orang Inggris. Alkisah, saat Thomas Stamford Raffles berkuasa di Jawa (1811-1816), dia melihat kebiasaan orang Belanda yang tidur sambil meluk bantal panjang. Raffles yang memang suka mengejek gaya hidup orang Belanda pun menyebut benda itu sebagai "Dutch Wife". Jadi, secara harfiah, guling adalah pengganti istri bagi para lelaki Belanda yang kesepian di tanah jajahan. Ironis ya? Sesuatu yang sekarang jadi simbol kenyamanan, dulunya adalah simbol kegalauan level kolonial.
Kenapa Dunia Tidak Kenal Guling?
Kalau kalian jalan-jalan ke Eropa atau Amerika Serikat, kalian bakal susah banget nemuin guling di toko perlengkapan tidur biasa. Di sana, mereka punya yang namanya "body pillow", tapi fungsinya beda. Biasanya body pillow cuma dipakai oleh ibu hamil atau orang yang punya masalah tulang belakang. Nggak ada ceritanya anak muda di London atau New York ngerasa "wajib" punya guling supaya bisa tidur nyenyak.
Budaya guling ini memang sangat spesifik tumbuh di wilayah yang pernah bersentuhan dengan pengaruh Belanda di Asia, terutama Indonesia. Di negara Asia lain kayak Jepang atau Korea, mereka punya versi sendiri seperti "dakimakura", tapi itu pun lebih ke arah budaya pop atau hobi tertentu, bukan standar tidur nasional seperti di sini. Bagi orang Barat, memeluk bantal panjang saat tidur itu dianggap aneh dan kekanak-kanakan. Padahal, mereka nggak tahu aja betapa nikmatnya posisi "ngangkang" yang presisi berkat bantuan guling.
Filosofi Pelukan dan Kesehatan Mental Ala Kita
Kalau kita bicara pakai kacamata masa kini, guling itu sebenarnya punya fungsi psikologis yang luar biasa. Secara nggak sadar, memeluk sesuatu saat tidur memberikan rasa aman (sense of security). Di tengah hiruk-pikuk hidup yang makin nggak jelas, tekanan kerja yang bikin burnout, atau drama media sosial yang nggak habis-habis, memeluk guling adalah cara paling murah untuk mendapatkan "comfort" singkat sebelum kita menghadapi kenyataan di pagi hari.
Secara medis pun, tidur pakai guling itu ada faedahnya, lho. Buat yang suka tidur miring, guling membantu tulang punggung tetap sejajar. Jadi pas bangun tidur, pinggang nggak berasa kayak habis digebukin massa. Ini bukan cuma soal tradisi, tapi soal ergonomi tubuh yang tanpa sengaja sudah ditemukan oleh orang-orang zaman dulu.
Guling di Mata Gen Z dan Milenial
Uniknya, meski sekarang zaman sudah serba digital dan tren interior rumah makin minimalis ala Pinterest, guling tetap nggak tergusur. Anak muda sekarang mungkin punya selera kamar yang estetik, cat warna sage green, atau pakai sprei berbahan tencel yang harganya jutaan, tapi guling tetap harus ada di sana. Bahkan, sekarang banyak brand lokal yang bikin guling dengan teknologi "cool touch" atau bahan memory foam biar makin mantap dipeluk.
Guling juga sering jadi bahan obrolan receh di Twitter atau TikTok. Mulai dari perdebatan "tim guling lembek" vs "tim guling keras", sampai drama sarung guling yang motifnya harus senada sama sprei biar nggak merusak pemandangan kamar. Ini membuktikan kalau guling sudah bukan lagi sekadar alat tidur, tapi sudah jadi identitas budaya yang kita bawa sampai sekarang.
Penutup: Sebuah Warisan yang Patut Disyukuri
Meskipun sejarahnya berawal dari ejekan "Istri Belanda", kita harus berterima kasih pada keadaan masa lalu itu. Tanpa kesepiannya para serdadu Belanda, mungkin kita nggak akan pernah tahu nikmatnya tidur dengan formasi memeluk yang sempurna. Guling adalah bukti kalau sesuatu yang dianggap aneh oleh dunia, bisa jadi harta karun kenyamanan buat kita.
Jadi, kalau nanti kalian punya teman bule yang nanya kenapa kalian tidur peluk-peluk bantal panjang, kasih tahu aja sejarahnya. Bilang kalau ini adalah warisan kolonial yang paling berguna daripada sekadar monumen batu. Dan buat kalian yang malam ini masih tidur sendirian, jangan sedih. Ingat, guling selalu setia menunggu di kamar tanpa pernah menuntut komitmen atau membalas chat dengan singkat. Long live, guling!
Next News

Alasan Unik Kenapa Guling Jadi Perlengkapan Tidur Wajib
2 hours ago

Mitos atau Fakta Tidur Rambut Basah Bikin Pusing
2 hours ago

Jangan Cuma Rebahan! Ini Alasan Kamu Harus Rutin Ganti Sprei
4 hours ago

Rahasia Gigi Bersih dari Selilipan Usai Santap Daging
5 hours ago

Debat Rutinitas Pagi Pilih Sikat Gigi atau Sarapan Dulu
6 hours ago

Sering Cairkan Daging Ayam Pakai Air? Awas Jadi Sarang Bakteri
7 hours ago

Tips Kelola Sisa Makanan untuk Kaum Mendang-Mending
8 hours ago

Stop! Jangan Masukkan Semua Makanan ke Kulkas, Ini Alasannya
9 hours ago

Berhenti Scroll TikTok! Lakukan Ini Biar Tugas Cepat Selesai
11 hours ago

Efek Doomscrolling Sebelum Tidur: Lupa Waktu Hingga Cedera
12 hours ago






