Ceritra
Ceritra Warga

Mitos atau Fakta Tidur Rambut Basah Bikin Pusing

Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 09:15 PM

Background
Mitos atau Fakta Tidur Rambut Basah Bikin Pusing

Tidur dengan Rambut Basah: Antara Mitos Masuk Angin dan Horor Jamur yang Mengintai

Bayangkan skenario ini: Kamu baru saja pulang kerja atau selesai nongkrong sampai larut malam. Tubuh rasanya lengket, gerah, dan akhirnya kamu memutuskan untuk mandi keramas demi kesegaran hakiki. Masalahnya, setelah handukan sebentar, rasa kantuk yang luar biasa menyerang. Alhasil, kamu pun langsung ambruk di atas kasur dengan rambut yang masih setengah basah, bahkan cenderung becek. Di telinga kamu, mungkin terngiang suara Ibu atau Nenek yang memperingatkan, "Awas, jangan tidur pas rambut basah, nanti masuk angin atau pusing lho!"

Sebagian dari kita mungkin menganggap itu cuma mitos orang tua zaman dulu biar kita nggak malas mengeringkan rambut. Tapi, pernah nggak sih kamu bangun pagi setelah tidur dengan rambut basah dan merasa kepala cenat-cenut atau leher terasa kaku? Ternyata, di balik "ancaman" orang tua itu, ada penjelasan medis yang cukup masuk akal, plus beberapa risiko kesehatan kulit kepala yang jauh lebih horor daripada sekadar rasa pusing.

Kenapa Kepala Bisa Pusing? Bukan Cuma Soal Masuk Angin

Istilah "masuk angin" memang nggak dikenal dalam literatur medis internasional, tapi sensasi yang dirasakan itu nyata adanya. Saat kamu tidur dengan rambut basah, suhu di area kepala akan turun secara drastis dibandingkan suhu tubuh lainnya. Tubuh kita itu pintar, dia akan berusaha menyeimbangkan suhu tersebut. Proses pendinginan yang ekstrem di area kepala ini bisa memicu penyempitan pembuluh darah.

Nah, kondisi ini seringkali memicu sakit kepala tipe tegang atau tension headache. Sensasinya seperti kepala diikat kencang. Belum lagi kalau kamu tidur di bawah semburan AC atau kipas angin yang langsung mengarah ke kepala. Suhu dingin yang ekstrem membuat otot-otot di sekitar leher dan kepala menegang, dan taraaa! Pas bangun pagi, bukannya segar, kamu malah merasa seperti habis memikul beban hidup yang sangat berat di pundak dan kepala.

Bantalmu Adalah "Peternakan" Jamur Tersembunyi

Kalau urusan pusing dirasa masih bisa diobati dengan balsem atau obat sakit kepala, risiko yang satu ini mungkin bakal bikin kamu mikir dua kali buat tidur dengan rambut basah: infeksi jamur. Kulit kepala kita secara alami adalah rumah bagi berbagai jenis mikroorganisme, salah satunya adalah jamur Malassezia. Jamur ini sebenarnya normal-normal saja, asal jumlahnya terkendali.

Masalahnya, jamur sangat mencintai kelembapan. Ketika kamu tidur dengan rambut basah, kamu sedang menciptakan ekosistem "hutan hujan tropis" di bantalmu. Air dari rambut akan menyerap ke dalam bantal, membuatnya lembap dan hangat karena suhu tubuhmu. Ini adalah kondisi ideal bagi jamur untuk berpesta pora dan berkembang biak dengan sangat cepat. Hasilnya? Risiko ketombe yang parah, rasa gatal yang nggak tertahankan, hingga infeksi kulit kepala yang disebut dermatitis seboroik.

Bukan cuma di kulit kepala, jamur juga bisa berkembang biak di dalam bantal itu sendiri. Bayangkan, setiap malam kamu menempelkan wajah dan kepalamu di atas "sarang" jamur yang sudah menumpuk berbulan-bulan karena kebiasaan tidur dengan rambut basah. Nggak cuma bikin kulit kepala bermasalah, ini juga bisa memicu jerawat di wajah karena perpindahan bakteri dari bantal yang lembap tersebut.

Rambut Jadi Gampang Patah dan Rontok

Buat kamu yang sangat peduli dengan penampilan rambut, ada fakta medis yang cukup menyedihkan. Rambut manusia berada dalam kondisi paling lemah dan rapuh saat sedang basah. Secara struktural, kutikula rambut akan sedikit terbuka saat terkena air. Ketika kamu tidur, kepala kamu pasti akan bergerak-gerak di atas bantal—gesekan antara rambut yang basah dan rapuh dengan permukaan bantal akan menyebabkan helai rambut mudah patah.

Jangan heran kalau setelah sering melakukan kebiasaan ini, rambutmu jadi kelihatan kusam, bercabang, dan susah diatur. Istilah kerennya, tekstur rambut jadi "frizzy". Kamu mungkin sudah pakai vitamin rambut yang mahal, tapi kalau kebiasaan tidur dengan rambut basah ini masih jalan terus, ya hasilnya bakal nihil. Investasi skincare dan haircare kamu bakal kalah telak sama satu kebiasaan buruk ini.

Lalu, Harus Gimana Kalau Sudah Terlanjur Mager?

Kita semua paham bahwa ada hari-hari di mana mengeringkan rambut terasa seperti mendaki gunung—melelahkan banget. Tapi, daripada bangun dengan sakit kepala dan kulit kepala gatal, ada beberapa tips praktis yang bisa kamu lakukan. Pertama, kalau memang harus keramas malam, usahakan beri jeda minimal dua jam sebelum tidur. Gunakan handuk microfiber yang punya daya serap tinggi supaya rambut lebih cepat kering tanpa harus digosok kasar.

Kalau punya hair dryer, gunakan dengan suhu yang tidak terlalu panas. Fokuskan pada bagian akar rambut dan kulit kepala, karena itulah bagian yang paling krusial untuk dikeringkan supaya nggak jadi sarang jamur. Ujung rambut yang sedikit lembap mungkin masih bisa dimaafkan, tapi kulit kepala yang basah adalah "big no".

Jika kamu benar-benar tidak sempat mengeringkan rambut, cobalah untuk melapisi bantal dengan handuk kering yang bersih, dan sebisa mungkin jangan mengikat rambut saat tidur dalam keadaan basah karena itu akan memerangkap kelembapan lebih lama di satu titik. Tapi ingat, ini cuma solusi darurat, ya! Tetap lebih baik tidur dengan kondisi rambut yang sudah kering sempurna.

Kesimpulannya, omongan orang tua soal larangan tidur dengan rambut basah itu bukan sekadar mitos kosong. Meskipun istilah "masuk angin" terdengar tradisional, faktanya secara medis, kelembapan berlebih memang membawa dampak buruk bagi kesehatan saraf dan kulit kepala kita. Jadi, yuk lebih sayang sama diri sendiri. Luangkan waktu 10-15 menit untuk mengeringkan rambut daripada harus menderita pusing dan gatal-gatal keesokan harinya. Rambut sehat, tidur pun jadi lebih nyenyak tanpa bayang-bayang jamur di bantal!

Tags

Logo Radio
🔴 Radio Live