Alasan Unik Kenapa Guling Jadi Perlengkapan Tidur Wajib
Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 09:15 PM
Kenapa Tidur Tanpa Guling Itu Rasanya Ada yang Kurang? Ini Penjelasan Medis dan Psikologisnya
Pernah nggak sih kamu menginap di hotel berbintang yang kasurnya empuk banget, spreinya halus, dan AC-nya dingin sempurna, tapi pas mau tidur malah ngerasa ada yang "hilang"? Kamu guling-guling ke kanan dan ke kiri, mencoba memosisikan bantal sedemikian rupa, tapi tetap saja rasanya nggak sreg. Ternyata, masalahnya cuma satu: nggak ada guling. Bagi banyak orang Indonesia, guling itu bukan sekadar perlengkapan tidur tambahan, melainkan syarat sah untuk mendapatkan tidur yang berkualitas. Tanpa guling, rasanya seperti makan nasi padang tanpa sambal ijo—ada lubang besar dalam hidup yang susah dijelaskan.
Fenomena ini sebenarnya unik, karena kalau kamu jalan-jalan ke luar negeri, terutama di Eropa atau Amerika, guling alias bolster itu jarang banget ditemukan di kamar tidur. Mereka lebih akrab dengan bantal tumpuk yang banyak. Tapi buat kita, kaum rebahan yang menjunjung tinggi kenyamanan maksimal, memeluk guling adalah ritual wajib sebelum berangkat ke alam mimpi. Ternyata, kecintaan kita pada guling ini bukan cuma karena kebiasaan atau tradisi turun-temurun dari zaman kolonial Belanda saja, lho. Ada alasan medis dan psikologis yang sangat masuk akal di baliknya.
Penjaga Tulang Belakang Agar Tetap "On Track"
Mari kita bicara dari sisi medis dulu. Jujur saja, posisi tidur favorit kebanyakan orang adalah menyamping atau posisi meringkuk seperti janin. Nah, secara anatomis, saat kita tidur menyamping tanpa penyangga di antara kedua kaki, gaya gravitasi bakal menarik kaki bagian atas ke arah bawah. Hal ini menyebabkan panggul kamu berputar dan tulang belakang bagian bawah jadi nggak sejajar. Kalau kebiasaan ini diteruskan, jangan heran kalau pas bangun pagi kamu merasa pinggang kaku atau punggung terasa pegal-pegal seperti habis kerja rodi.
Di sinilah guling hadir sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Saat kamu memeluk guling dan menjepitnya di antara kedua lutut, guling berfungsi sebagai "spacer" atau pengganjal yang menjaga posisi pinggul tetap netral. Dengan kaki yang sejajar, tekanan pada saraf di area punggung bawah pun berkurang drastis. Postur tulang belakang jadi lebih lurus dan relaks. Jadi, kalau ada yang bilang kamu manja karena nggak bisa tidur tanpa guling, bilang saja kalau kamu lagi melakukan terapi ortopedi mandiri demi masa tua yang bebas encok.
Selain soal tulang belakang, memeluk guling juga membantu melancarkan sirkulasi darah. Dengan posisi kaki yang sedikit terangkat karena mengganjal guling, beban pada pembuluh darah di area kaki berkurang, sehingga aliran darah kembali ke jantung jadi lebih lancar. Ini cocok banget buat kamu yang seharian capek berdiri atau jalan kaki mengejar kereta commuter line.
Efek Psikologis: Mencari Rasa Aman di Tengah Dunia yang Berisik
Setelah urusan tulang selesai, mari kita masuk ke ranah yang lebih dalam: perasaan. Pernah kepikiran nggak kenapa memeluk sesuatu—entah itu guling, boneka, atau pasangan—bisa bikin hati mendadak adem? Secara psikologis, manusia itu punya insting alami untuk mencari rasa aman dan perlindungan saat mereka sedang dalam kondisi rentan, dan tidur adalah kondisi paling rentan bagi manusia.
Saat kita memeluk guling, tubuh kita merespons dengan melepaskan hormon oksitosin. Hormon ini sering disebut sebagai "hormon kasih sayang" atau "hormon pelukan". Oksitosin punya kemampuan ajaib untuk menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dalam tubuh. Jadi, setelah seharian dikejar deadline kantor yang nggak masuk akal atau pusing mikirin cicilan, memeluk guling adalah cara termudah dan termurah untuk melakukan self-healing. Tekanan lembut pada dada saat kita memeluk guling memberikan sensasi grounding, yang membuat otak kita berpikir, "Oke, semuanya bakal baik-baik saja."
Selain itu, ada teori yang menyebutkan bahwa keinginan memeluk sesuatu saat tidur adalah sisa-sisa memori masa kecil atau bahkan masa ketika kita masih di dalam kandungan. Kita merasa lebih tenang saat ada sesuatu yang bersentuhan dengan tubuh kita. Bagi mereka yang tinggal sendirian di perantauan, guling sering kali menjadi "teman" yang menghilangkan rasa sepi. Memeluk guling memberikan kenyamanan emosional yang mirip dengan kontak fisik antarmanusia, yang secara nggak langsung bisa mengurangi rasa cemas dan membuat kita lebih cepat terlelap.
Bukan Sekadar Bantal Panjang
Guling juga secara nggak sadar melatih kita untuk bernapas lebih teratur. Dengan posisi tubuh yang tertopang dengan baik, saluran pernapasan cenderung lebih terbuka dibandingkan kalau kita tidur tengkurap yang malah bikin sesak. Tidur yang nyenyak bukan cuma soal durasi, tapi soal kualitas. Dan guling adalah kunci untuk mendapatkan deep sleep tanpa perlu obat tidur atau suplemen mahal.
Jadi, kalau lain kali kamu merasa sulit tidur atau merasa gelisah di malam hari, cobalah untuk lebih "serius" dalam memeluk gulingmu. Carilah guling yang tingkat keempukannya pas—jangan terlalu keras sampai bikin tangan kesemutan, dan jangan terlalu kempes sampai nggak berasa fungsinya. Pastikan juga sarung gulingnya bersih dan wangi, karena aroma yang menenangkan bakal menambah dosis kenyamanan berlipat ganda.
Kesimpulannya, memeluk guling itu adalah perpaduan sempurna antara kebutuhan medis untuk menjaga postur tubuh dan kebutuhan psikologis untuk merasa dicintai dan aman. Guling bukan cuma benda mati yang ditaruh di atas kasur, tapi dia adalah sistem pendukung (support system) paling setia yang nggak pernah protes meskipun kamu ilerin setiap malam. Jadi, jangan malu buat mengakui kalau kamu adalah "tim guling". Karena pada akhirnya, tidur yang berkualitas adalah investasi terbaik untuk kesehatan fisik dan mental kita di tengah dunia yang makin hari makin berisik ini. Selamat tidur, jangan lupa peluk gulingnya ya!
Next News

Kenapa Orang Indonesia Susah Tidur Tanpa Guling di Luar Negeri?
2 hours ago

Mitos atau Fakta Tidur Rambut Basah Bikin Pusing
2 hours ago

Jangan Cuma Rebahan! Ini Alasan Kamu Harus Rutin Ganti Sprei
4 hours ago

Rahasia Gigi Bersih dari Selilipan Usai Santap Daging
5 hours ago

Debat Rutinitas Pagi Pilih Sikat Gigi atau Sarapan Dulu
6 hours ago

Sering Cairkan Daging Ayam Pakai Air? Awas Jadi Sarang Bakteri
7 hours ago

Tips Kelola Sisa Makanan untuk Kaum Mendang-Mending
8 hours ago

Stop! Jangan Masukkan Semua Makanan ke Kulkas, Ini Alasannya
9 hours ago

Berhenti Scroll TikTok! Lakukan Ini Biar Tugas Cepat Selesai
11 hours ago

Efek Doomscrolling Sebelum Tidur: Lupa Waktu Hingga Cedera
12 hours ago






