Ceritra
Ceritra Warga

Berhenti Scroll TikTok! Lakukan Ini Biar Tugas Cepat Selesai

Nisrina - Monday, 23 February 2026 | 12:15 PM

Background
Berhenti Scroll TikTok! Lakukan Ini Biar Tugas Cepat Selesai
Ilustrasi (Pexels/www.kaboompics.com)

Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Di depan mata, layar laptop masih putih bersih, hanya ada kursor yang berkedip-kedip seolah mengejek produktivitasmu yang nol besar. Padahal, laporan atau tugas besar itu harus dikumpulkan besok pagi. Alih-alih mengetik kalimat pertama, tanganmu malah lincah men-scroll TikTok, menonton video orang masak seblak atau debat kusir di kolom komentar Twitter yang sebenarnya nggak ada gunanya buat masa depanmu.

Pernah merasa begini? Tenang, kamu nggak sendirian. Dan yang lebih penting, ini bukan sekadar masalah kamu "malas" atau nggak punya niat. Secara sains, ada perang saudara yang sedang berkecamuk di dalam kepalamu. Selamat datang di dunia prokrastinasi, sebuah seni menunda yang secara ironis dilakukan oleh makhluk yang mengklaim dirinya paling cerdas di bumi: manusia.

Konflik Dua Kubu: Si Bos vs Si Bocah

Di dalam otak kita, ada dua karakter utama yang punya agenda bertolak belakang. Pertama, ada yang namanya Prefrontal Cortex. Anggap saja bagian ini sebagai "Si Bos" yang bijaksana. Dia yang merencanakan masa depan, berpikir logis, dan mengingatkan kalau kamu nggak kerja sekarang, bulan depan kamu cuma bisa makan promag karena nggak gajian.

Lalu ada lawannya: Sistem Limbik. Ini adalah bagian otak yang paling purba, yang sudah ada sejak zaman manusia purba masih lari-larian dikejar macan tutul. Sistem Limbik ini ibarat "Si Bocah" yang cuma pengen senang-senang sekarang juga. Dia nggak peduli sama laporan bulan depan atau nilai IPK. Yang dia peduli cuma satu: rasa nyaman. Bagi Sistem Limbik, ngerjain tugas itu membosankan dan bikin stres, sedangkan nonton Netflix itu menyenangkan dan bikin rileks. Dan tebak siapa yang sering menang? Yup, si bocah ini.

Masalahnya, Sistem Limbik ini bekerja secara otomatis dan instan. Begitu dia merasa ada sesuatu yang bikin nggak nyaman—seperti tugas yang sulit—dia bakal langsung memerintahkan otak buat mencari distraksi. Sementara itu, Prefrontal Cortex harus berusaha keras buat "on", dan sayangnya, tenaga dia terbatas. Kalau kamu sudah capek seharian, si Bos bakal kalah suara sama si Bocah yang merengek minta hiburan.

Prokrastinasi Bukan Masalah Manajemen Waktu, tapi Manajemen Emosi

Banyak orang berpikir kalau prokrastinasi itu masalah manajemen waktu yang buruk. Mereka beli buku agenda mahal, pasang aplikasi pengingat, tapi ujung-ujungnya tetep aja nunda. Kenapa? Karena menurut para peneliti psikologi, prokrastinasi sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri terhadap emosi negatif.

Kita menunda bukan karena nggak tahu cara ngatur waktu, tapi karena kita takut. Takut gagal, takut hasilnya nggak sempurna (perfectionism), atau sesimpel kita merasa tugas itu sangat membosankan sampai otak kita nganggep itu sebagai ancaman. Jadi, pas kamu milih main game daripada ngerjain skripsi, itu sebenarnya cara otakmu "melindungi" diri dari stres yang dihasilkan oleh skripsi tersebut. Masalahnya, ini solusi jangka pendek yang bikin masalah jangka panjang makin besar.

Jujurly, rasa lega saat kita menunda itu emang enak banget. Tapi rasa enak itu cuma bertahan sebentar sebelum akhirnya digantikan oleh rasa bersalah dan cemas yang luar biasa. Inilah yang disebut dengan lingkaran setan prokrastinasi.

Kenapa Kita Sering "SKS" (Sistem Kebut Semalam)?

Ada satu fenomena unik: kenapa kita tiba-tiba bisa jadi sangat produktif pas deadline tinggal beberapa jam lagi? Ini ada hubungannya dengan adrenalin. Pas waktunya mepet, Prefrontal Cortex kita akhirnya punya senjata buat ngelawan Sistem Limbik. Ketakutan akan konsekuensi buruk (seperti nggak lulus atau dipecat) menciptakan tekanan yang begitu besar sehingga otak dipaksa buat fokus.

Tapi, ya jangan bangga-bangga amat. Kerja dengan cara begini tuh mahal harganya. Bukan cuma hasil kerjanya yang seringkali pas-pasan (karena dikerjakan buru-buru), tapi kesehatan mental dan fisikmu juga jadi taruhan. Jantung berdegup kencang, kurang tidur, dan stres berkepanjangan itu bukan gaya hidup yang keren, lho.

Gimana Caranya Biar Nggak Terus-terusan Jadi Budak Prokrastinasi?

Nggak ada cara instan buat ngilangin kebiasaan ini, tapi ada beberapa trik yang bisa dicoba biar si Bos di otakmu lebih sering menang:

  • Aturan Lima Menit: Bilang ke otakmu, "Oke, gue cuma bakal ngerjain ini selama lima menit. Habis itu boleh berhenti." Biasanya, bagian tersulit adalah memulai. Begitu kamu sudah mulai jalan lima menit, momentumnya bakal terbentuk.
  • Maafkan Dirimu Sendiri: Kedengarannya klise, tapi penelitian menunjukkan kalau orang yang memaafkan dirinya karena menunda tugas sebelumnya, justru lebih jarang menunda di tugas berikutnya. Jangan terlalu keras sama diri sendiri sampai malah makin stres dan makin pengen lari ke distraksi.
  • Pecah Tugas Jadi Remah-remah: Jangan tulis "Kerjain Skripsi" di to-do list. Itu terlalu intimidatif buat si Sistem Limbik. Tulis yang kecil-kecil saja, kayak "Buka laptop" atau "Cari tiga referensi jurnal".
  • Singkirkan Gangguan: Kalau tahu bakal tergoda HP, taruh HP-nya di ruangan lain. Jangan kasih kesempatan buat si Bocah di otakmu buat ngelirik mainan.

Prokrastinasi adalah bagian dari sifat manusiawi kita. Kita bukan robot yang bisa produktif 24/7 tanpa celah. Tapi dengan memahami cara kerja otak kita sendiri, kita setidaknya bisa lebih sadar kapan si "Bocah Pencari Kenyamanan" mulai mengambil alih kemudi.

Jadi, kamu mau lanjut ngerjain apa yang seharusnya dikerjain, atau mau lanjut scroll konten lain lagi?

Logo Radio
🔴 Radio Live