Alasan Utama Diabetes Kini Menyerang Gen Z di Usia Muda
Nisrina - Friday, 20 February 2026 | 01:15 PM


Selama beberapa dekade terakhir masyarakat dunia selalu menganggap bahwa diabetes melitus khususnya tipe 2 adalah penyakit yang hanya menyerang orang tua atau kelompok lanjut usia. Gambaran umum penderita diabetes selalu identik dengan kakek atau nenek yang harus menjaga pola makan dengan sangat ketat. Namun pemandangan di berbagai rumah sakit dan klinik kesehatan saat ini telah berubah drastis dan menghadirkan realita baru yang sangat mengejutkan.
Berdasarkan laporan kesehatan terbaru yang juga disorot oleh laman Media Indonesia tren penyakit metabolik ini telah mengalami pergeseran usia yang sangat ekstrem. Generasi Z atau mereka yang saat ini berada di rentang usia 20-an justru menjadi target utama dan paling rentan terkena lonjakan gula darah. Kasus diabetes pada usia produktif meningkat tajam dan menjadi fenomena gunung es yang mengancam kualitas kesehatan masa depan bangsa.
Mengapa penyakit kronis yang dulunya butuh waktu puluhan tahun untuk berkembang kini bisa merusak tubuh anak muda yang seharusnya sedang berada di puncak kesehatan. Jawabannya berakar kuat pada perubahan gaya hidup radikal yang terjadi dalam satu dekade terakhir.
Tren Minuman Kekinian dan Bom Gula Cair
Salah satu tersangka utama penyumbang tingginya angka diabetes pada usia muda adalah menjamurnya industri minuman kekinian. Bagi sebagian besar anak muda jajan es kopi susu gula aren, teh boba, hingga minuman energi beraneka rasa seolah telah menjadi gaya hidup wajib dan rutinitas harian. Banyak yang tidak menyadari bahwa satu gelas minuman manis tersebut bisa mengandung gula setara dengan batas maksimal konsumsi gula harian orang dewasa.
Secara medis gula cair jauh lebih berbahaya dibandingkan gula padat. Ketika Anda mengonsumsi makanan padat yang manis tubuh masih membutuhkan waktu untuk mencernanya bersama dengan serat. Namun ketika Anda meminum gula cair glukosa akan langsung menembus aliran darah dalam hitungan menit. Lonjakan gula darah yang sangat cepat ini akan memaksa organ pankreas bekerja ekstra keras untuk memproduksi hormon insulin secara instan.
Jika pankreas terus menerus dipaksa bekerja layaknya mesin yang dipacu tanpa henti lama kelamaan organ ini akan mengalami kelelahan. Sel sel tubuh juga akan mulai kebal terhadap perintah insulin sebuah kondisi medis yang disebut resistensi insulin. Ketika sel menolak membuka pintunya gula akan menumpuk di dalam darah dan dari sinilah diagnosis diabetes tipe 2 bermula.
Gaya Hidup Sedentari di Balik Layar Handphone
Generasi Z adalah generasi pertama yang benar benar tumbuh bersama internet dan teknologi pintar. Meskipun teknologi membawa banyak kemudahan efek samping dari kemudahan tersebut adalah berkurangnya aktivitas fisik secara drastis. Gaya hidup minim gerak atau sedentary lifestyle kini menjadi epidemi baru di kalangan anak muda perkotaan.
Banyak anak usia 20-an menghabiskan waktu lebih dari sepuluh jam sehari dalam posisi duduk statis. Mulai dari duduk saat bekerja atau kuliah di depan laptop duduk saat bermain game online hingga rebahan sambil menggulir layar media sosial hingga larut malam. Tubuh manusia sebenarnya didesain untuk terus bergerak agar glukosa di dalam darah bisa dibakar oleh otot dan diubah menjadi energi.
Ketika otot otot besar di tubuh Anda tidak aktif glukosa yang berasal dari makanan akan terus mengendap di aliran darah. Selain itu kurangnya aktivitas fisik memicu penumpukan lemak visceral yaitu lemak berbahaya yang menyelimuti organ organ dalam seperti hati dan pankreas. Lemak visceral inilah yang mengeluarkan senyawa kimia penyebab peradangan dan merusak fungsi insulin secara masif.
Dominasi Ultra Processed Food (UPF) dan Minim Serat
Aplikasi pesan antar makanan telah mengubah lanskap kuliner generasi muda secara fundamental. Kepraktisan yang ditawarkan membuat banyak anak muda lebih memilih memesan makanan cepat saji dibandingkan memasak bahan segar di rumah. Menu menu favorit seperti ayam goreng tepung, kentang goreng, burger, hingga camilan kemasan masuk dalam kategori makanan ultra proses.
Makanan ultra proses ini dirancang sedemikian rupa agar rasanya sangat gurih dan adiktif namun sayangnya sangat miskin nutrisi esensial. Kandungan karbohidrat olahan dan lemak trans yang tinggi di dalamnya akan memicu lonjakan gula darah dan penumpukan kolesterol jahat.
Di sisi lain asupan serat harian dari sayuran hijau dan buah buahan utuh menjadi sangat terabaikan. Padahal serat memiliki fungsi vital sebagai jaring pelindung di dalam usus yang berguna untuk memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Kombinasi mematikan antara asupan gula tinggi dan serat yang sangat rendah membuat tubuh anak muda menjadi tempat yang sangat subur bagi perkembangan diabetes.
Tingkat Stres Tinggi dan Kualitas Tidur yang Buruk
Faktor psikologis sering kali diabaikan ketika membahas penyakit metabolik. Generasi Z saat ini hidup di era hustle culture atau budaya kerja keras tanpa henti yang memicu tingkat stres sangat tinggi. Tuntutan karir ekspektasi sosial di dunia maya hingga masalah finansial membuat banyak anak muda mengalami kecemasan kronis.
Saat pikiran sedang stres tubuh akan melepaskan hormon kortisol dalam jumlah besar. Hormon ini secara alami bertugas mempersiapkan tubuh menghadapi bahaya dengan cara melepaskan cadangan glukosa ke dalam aliran darah agar otot mendapat energi ekstra. Namun karena bahayanya bersifat psikologis dan bukan ancaman fisik glukosa tersebut tidak terpakai dan malah membebani pembuluh darah.
Selain stres masalah ini sering kali diperparah dengan kualitas tidur yang sangat buruk. Kebiasaan begadang karena tuntutan pekerjaan atau sekadar revenge bedtime procrastination membuat ritme sirkadian tubuh menjadi kacau. Penelitian medis membuktikan bahwa kurang tidur secara konsisten akan langsung menurunkan sensitivitas insulin dan mengganggu metabolisme glukosa pada keesokan harinya.
Bahaya Komplikasi Jangka Panjang di Usia Produktif
Terkena diabetes di usia 20-an membawa konsekuensi medis yang jauh lebih mengerikan dibandingkan jika terdiagnosis di usia 60-an. Hal ini berkaitan dengan durasi paparan gula darah tinggi terhadap organ organ vital tubuh. Jika seorang anak muda terkena diabetes maka ia harus hidup dengan penyakit ini selama 40 hingga 50 tahun ke depan.
Semakin lama seseorang mengidap diabetes semakin tinggi pula risiko kerusakan pembuluh darah mikro dan makro. Komplikasi yang sangat mengintai di masa depan antara lain adalah kerusakan saraf tepi atau neuropati yang bisa berujung pada amputasi kerusakan retina mata yang memicu kebutaan hingga gagal ginjal kronis yang mengharuskan pasien melakukan cuci darah seumur hidup.
Selain penderitaan fisik hal ini juga akan menjadi beban finansial yang luar biasa besar di masa usia produktif yang seharusnya digunakan untuk membangun karir dan keluarga.
Langkah Pencegahan Mandiri Sejak Dini
Kabar baiknya diabetes tipe 2 yang dipicu oleh gaya hidup bisa dicegah dan perkembangannya bisa diputarbalikkan asalkan ditangani sedini mungkin. Anak muda harus mulai mengambil kendali penuh atas kesehatan tubuh mereka sendiri.
Langkah paling sederhana adalah mengganti kebiasaan minum minuman manis dengan air putih. Jadikan air putih sebagai minuman utama dan batasi konsumsi minuman boba atau es kopi susu maksimal satu kali dalam seminggu sebagai bentuk hadiah kecil bukan rutinitas harian. Selanjutnya mulailah membiasakan diri membaca label kemasan makanan untuk menyadari seberapa besar kandungan gula tersembunyi di dalamnya.
Bergeraklah setiap hari. Sisihkan waktu minimal 30 menit sehari untuk melakukan aktivitas fisik yang memacu detak jantung seperti jogging bersepeda atau berenang. Olahraga adalah cara paling efektif dan gratis untuk meningkatkan sensitivitas sel tubuh terhadap insulin. Terakhir jangan lupa untuk melakukan cek gula darah puasa setidaknya satu tahun sekali sebagai langkah deteksi dini sebelum sel pankreas benar benar mengalami kerusakan permanen.
Menjadi muda bukan berarti kebal terhadap penyakit kronis. Tubuh Anda adalah aset jangka panjang yang paling berharga. Dengan pemahaman yang benar dan perubahan gaya hidup yang konsisten Generasi Z bisa memutus rantai epidemi diabetes dan menyongsong masa depan dengan fisik yang jauh lebih prima.
Next News

Trik Cepat Usir Bau Amis yang Menempel pada Tangan
in 7 hours

Kulit Kering Pas Puasa? Ini Cara Jitu Mengatasinya, Bestie!
in 4 hours

Fakta Medis Runtuhkan Mitos Sel Sperma Tercepat dan Terkuat
in 5 hours

Sulap Blender Kuning Jadi Bening Kembali Pakai Tenaga Surya
9 minutes ago

Dilema Pakai Obat Mata Saat Puasa? Simak Penjelasannya Di Sini
in 3 hours

Cara Jitu Melindungi Rambut dari Kaporit dan Air Laut Saat Berenang
in 3 hours

Bukan Satu Jam, Ini Durasi Tidur Siang Ideal Biar Puasa Segar
in 5 hours

Harapan Baru Pengobatan Alzheimer Melalui Terapi Cahaya dan Suara 40Hz
in 2 hours

Fakta Medis Kualitas Tidur Lebih Penting Daripada Durasi 8 Jam
in 31 minutes

Bosan Mie Instan? 5 Ide Menu Sahur Cepat yang Bikin Kenyang Seharian
2 hours ago






