Ceritra
Ceritra Warga

Pernah Coba Menggelitik Diri Sendiri? Ternyata Ini Sebabnya Zonk

Nisrina - Saturday, 21 February 2026 | 09:15 AM

Background
Pernah Coba Menggelitik Diri Sendiri? Ternyata Ini Sebabnya Zonk
Ilustrasi (krebsbachbiasphotography.com/)

Pernah nggak sih, saking gabutnya di kamar, kamu mencoba melakukan eksperimen konyol pada tubuhmu sendiri? Misalnya, mencoba menjilat siku tangan (yang jelas mustahil bagi 99% populasi manusia) atau yang paling sederhana: mencoba menggelitik pinggang atau telapak kaki sendiri? Kalau kamu pernah melakukannya, kemungkinan besar hasilnya cuma satu: zonk. Kamu nggak merasa geli sama sekali. Padahal, kalau teman atau adikmu yang melakukan hal yang sama secara tiba-tiba, kamu bakal refleks loncat, teriak, atau bahkan nggak sengaja nendang muka orang di depanmu karena rasa geli yang luar biasa.

Fenomena ini sebenarnya sangat ironis. Tangan kita punya struktur yang sama dengan tangan orang lain. Saraf di kulit kita juga masih berfungsi dengan normal. Tapi kenapa saat jari-jemari kita sendiri yang beraksi, tubuh kita mendadak jadi sedingin es dan nggak responsif? Ternyata, jawabannya bukan karena kita kurang berbakat jadi pelawak bagi diri sendiri, melainkan karena otak kita adalah seorang "spoiler" kelas kakap yang terlalu pintar untuk ditipu.

Otak Kecil Si Tukang Ramal

Di dalam tempurung kepala kita, ada bagian yang namanya cerebellum atau otak kecil. Bagian ini punya tugas yang sangat krusial, yaitu memantau semua gerakan tubuh kita. Cerebellum ini ibarat asisten pribadi yang super teliti. Setiap kali kamu memutuskan untuk menggerakkan anggota tubuh—misalnya menggerakkan jari untuk menggelitik perut—otak kecilmu sudah tahu rencana itu bahkan sebelum jarimu menyentuh kulit.

Dalam dunia saraf, proses ini disebut sebagai "prediksi sensorik". Saat otak mengirim sinyal perintah ke otot tangan untuk bergerak, otak juga secara bersamaan mengirimkan "salinan" sinyal tersebut ke area sensorik. Sinyal bayangan ini memberi tahu otak bagian peraba: "Eh, bentar lagi tangan kita mau nyentuh perut nih, jadi nggak usah panik ya. Itu cuma gerakan kita sendiri."

Karena sudah diprediksi dan diketahui sebelumnya, otak kemudian meredam atau membatalkan respons terhadap sentuhan tersebut. Itulah alasan kenapa kita nggak merasa kaget atau geli. Otak kita lebih memilih untuk mengabaikan informasi yang sudah "basi" demi menghemat energi untuk memproses rangsangan lain yang lebih penting dari dunia luar.

Elemen Kejutan yang Hilang

Inti dari rasa geli sebenarnya adalah kejutan dan hilangnya kendali. Ketika orang lain menggelitikmu, otakmu tidak memiliki "salinan" rencana gerakan tangan orang tersebut. Otak tidak tahu kapan tekanan akan diberikan, seberapa kuat, atau ke arah mana jari-jari itu akan bergerak. Ketidakpastian inilah yang memicu reaksi panik yang kita kenal sebagai rasa geli.

Secara evolusi, rasa geli sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri. Bagian tubuh yang paling geli biasanya adalah area vital yang rentan, seperti leher, ketiak, dan perut. Rasa geli memaksa kita untuk melindungi area tersebut atau menjauh dari pemicunya. Jadi, ketika ada sesuatu yang tak terduga menyentuh area sensitif itu, otak berteriak "Waspada!" dan memicu tawa histeris atau gerakan menghindar sebagai bentuk pelepasan stres instan.

Coba bayangkan kalau kita bisa menggelitik diri sendiri. Wah, hidup bakal jadi kacau banget. Setiap kali kita menyisir rambut, memakai baju, atau bahkan saat tangan kita nggak sengaja bersentuhan dengan paha saat duduk, kita bakal ketawa-tawa nggak jelas atau guling-guling di lantai karena kegelian. Otak kita memutuskan untuk mematikan fitur "geli mandiri" ini supaya kita tetap bisa berfungsi secara normal sebagai manusia tanpa harus terganggu oleh sentuhan kita sendiri.

Eksperimen Robot dan Delay Waktu

Para ilmuwan di University College London pernah melakukan eksperimen unik untuk mengetes teori ini. Mereka menggunakan bantuan robot. Jadi, subjek penelitian diminta menggerakkan sebuah tuas, yang kemudian akan menggerakkan lengan robot untuk menggelitik telapak tangan si subjek tadi.

Hasilnya menarik:

  • Kalau gerakan robotnya sinkron alias pas banget dengan gerakan tangan si subjek, mereka tetep nggak merasa geli.
  • Tapi, ketika ilmuwan memberi sedikit jeda waktu (delay) meskipun cuma sepersekian detik antara gerakan subjek dan gerakan robot, subjek mulai merasa geli.
  • Semakin lama delay-nya, rasa gelinya semakin terasa.

Ini membuktikan kalau kunci utama dari rasa geli adalah sinkronisasi. Begitu ada jeda yang membuat otak kehilangan prediksi akuratnya, otak mulai menganggap sentuhan itu sebagai sesuatu yang "asing" dan akhirnya memunculkan sensasi geli.Pengecualian yang Sedikit Menyeramkan

Ada satu hal menarik—sekaligus agak kelam—dalam studi psikologi mengenai fenomena ini. Ternyata, ada sekelompok orang yang dilaporkan bisa menggelitik diri mereka sendiri. Mereka adalah orang-orang yang menderita skizofrenia dengan gejala delusi kontrol atau halusinasi tertentu.

Pada penderita skizofrenia jenis ini, mekanisme di otak yang membedakan antara "gerakan yang aku buat sendiri" dan "gerakan yang berasal dari luar" mengalami gangguan. Otak mereka gagal menandai gerakan tangan mereka sebagai milik mereka sendiri. Alhasil, saat mereka menggelitik diri sendiri, otak mereka menganggap itu adalah tindakan orang lain, sehingga mereka pun merasa geli. Ini adalah salah satu cara medis untuk memahami bagaimana sistem prediksi sensorik manusia bisa bekerja secara berbeda.

Sebuah Berkat yang Patut Disyukuri

Mungkin bagi sebagian orang, nggak bisa menggelitik diri sendiri itu terdengar membosankan. "Yaelah, masa mau ketawa aja harus nunggu orang lain?" Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ini adalah bukti betapa canggihnya sistem operasi di dalam kepala kita. Otak kita punya filter yang sangat cerdas untuk memilah mana informasi yang relevan dan mana yang cuma "noise" atau gangguan dari gerakan kita sendiri.

Kemampuan otak untuk memprediksi sentuhan ini juga yang membuat kita bisa berjalan tanpa merasa aneh dengan gesekan celana di kaki, atau bisa mengetik di keyboard tanpa merasa terganggu oleh benturan ujung jari. Tanpa kemampuan filtrasi ini, dunia bakal jadi tempat yang sangat bising dan melelahkan bagi indra peraba kita.

Jadi, kalau nanti kamu merasa kesepian dan ingin tertawa, mending nonton stand-up comedy di YouTube atau meme receh di Twitter saja. Jangan dipaksa menggelitik diri sendiri, karena selain nggak bakal berhasil, kamu cuma bakal terlihat aneh di depan cermin sambil mengelus-elus perut sendiri tanpa hasil. Biarkan otak kecilmu bekerja dengan tenang melakukan tugasnya sebagai penjaga gerbang sensorik yang handal.

Lagipula, ketawa karena digelitik orang lain itu sebenernya setengah siksaan, kan? Jadi, nggak bisa menggelitik diri sendiri sebenarnya adalah sebuah kemewahan biologis yang harusnya kita syukuri setiap hari.

Logo Radio
🔴 Radio Live