Ceritra
Ceritra Warga

Parenting Modern: Marathon Rintangan Digital

Elsa - Tuesday, 02 December 2025 | 02:00 PM

Background
Parenting Modern: Marathon Rintangan Digital
Ilustrasi Modern Parenting

Pernah nggak sih, Bapak-Ibu sekalian, lagi asyik ngecek notif WhatsApp atau scroll TikTok, tiba-tiba anak nangis kejer minta tablet? Atau lagi sibuk meeting online dari rumah, eh si kecil sibuk manjat lemari kayak Spiderman, persis kayak adegan di film-film komedi? Kalau iya, selamat datang di klub! Klub orang tua zaman now, di mana parenting bukan lagi cuma soal nyiapin popok, ngasih ASI, atau mastiin PR selesai. Ini lebih mirip maraton dengan rintangan digital, badai ekspektasi yang nggak ada habisnya, dan sesekali drama ala sinetron Korea yang bikin jantung deg-degan.

Dulu, paling banter masalahnya cuma rebutan remote TV atau anak ogah-ogahan tidur siang. Sekarang? Oh, ceritanya beda lagi. Layar gadget sudah jadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita, bahkan sebelum anak kita bisa bilang 'mama' atau 'papa'. Anak-anak kita ini, mereka itu kita sebut digital natives. Lahir di era internet, sentuh layar itu sudah naluri kedua. Mau main game, nonton kartun, atau sekadar video orang unboxing mainan, semua ada di genggaman mereka. Sementara kita, para orang tua? Kita ini lebih mirip digital immigrants, yang kadang masih suka clingak-clinguk cari tombol 'save' kalau lagi pakai aplikasi baru, atau bingung kenapa kok anak bisa lebih cepat paham fitur-fitur baru di HP daripada kita.

Perbedaan generasi ini yang seringkali bikin pusing tujuh keliling, Bapak-Ibu. Di satu sisi, kita nggak bisa memungkiri kalau gadget itu bisa jadi penyelamat instan pas lagi butuh me time semenit dua menit, atau sebagai alat edukasi yang ciamik dengan segudang aplikasi interaktif. Tapi di sisi lain, bayang-bayang radiasi, konten negatif yang bertebaran tanpa filter, sampai risiko kecanduan itu bikin kita was-was nggak karuan. Rasanya kayak lagi jalan di atas tali tipis, antara ngasih akses demi perkembangan mereka di era digital dan melindungi mereka dari sisi gelapnya. Susah-susah gampang, kan?

Banjir Informasi dan Ekspektasi yang Bikin Kepala Mau Pecah

Belum lagi urusan banjir informasi dan ekspektasi yang datang dari segala penjuru mata angin. Coba deh buka Instagram atau Facebook, pasti ada aja itu postingan 'Mommy goals' atau 'Daddy idaman' dengan anak-anaknya yang anteng, kamarnya rapi jali bak di katalog IKEA, menu makannya organik semua tanpa drama, dan prestasi sekolahnya selalu membanggakan. Auto insecure nggak sih? Kita yang boro-boro masak sendiri, kadang order ojol aja udah bersyukur banget karena bisa makan. Atau yang kadang di rumah udah kayak medan perang cuma gara-gara anak nggak mau makan sayur.

Dari mulai attachment parenting, positive parenting, gentle parenting, Montessori, Waldorf, sampai yang paling baru mungkin besok ada lagi sustainable parenting (eh, ini saya ngarang, tapi siapa tahu besok beneran ada). Semua teori dan metode parenting ini bertebaran kayak brosur diskon di mall. Kita pengen yang terbaik buat anak, tentu saja, tapi saking banyaknya opsi dan saran, malah jadi bingung sendiri mau pakai yang mana. Ibaratnya, mau beli Indomie aja banyak banget variannya sampai bingung milih, apalagi ini urusan masa depan dan tumbuh kembang anak yang kompleksnya nggak kaleng-kaleng.

Tekanan sosial untuk menjadi orang tua yang 'sempurna' itu benar-benar berat. Media sosial seringkali cuma menampilkan sisi-sisi indah dan manisnya parenting, jarang banget yang mau pamer drama anak tantrum di supermarket atau momen orang tua yang lagi kehabisan kesabaran. Ini yang sering bikin kita merasa gagal atau kurang, padahal sebenarnya semua orang tua itu mengalami naik turun yang sama. Kita perlu ingat, tiap anak itu unik, dan tiap keluarga punya dinamikanya sendiri. Nggak ada resep paten yang bisa diaplikasikan ke semua anak dan semua orang tua.

Kesehatan Mental Orang Tua dan Anak: Jangan Sampai Terlewat

Di tengah gempuran ekspektasi dan tantangan itu semua, jangan lupa ada satu hal krusial yang sering terlewat: kesehatan mental. Bukan cuma anak, tapi juga kita sebagai orang tua. Stres karena kerjaan yang numpuk, stres karena tagihan bulanan yang nggak ada habisnya, ditambah stres mikirin anak kok susah banget disuruh mandi atau makan sayur. Kadang rasanya pengen teriak kenceng-kenceng di puncak gunung (atau minimal di kamar mandi pas anak lagi nggak denger) untuk sekadar melepaskan penat.

Anak-anak zaman sekarang juga punya tantangannya sendiri, lho. Tekanan akademik yang makin tinggi, risiko bullying (baik online maupun offline), sampai isu citra diri itu nyata adanya dan bisa sangat memengaruhi psikis mereka. Makanya, penting banget untuk jadi orang tua yang bukan cuma 'menyediakan' segala kebutuhan fisik, tapi juga 'mendengarkan' dan 'memvalidasi' emosi mereka. Membantu anak mengenali dan mengelola emosi mereka itu PR yang nggak kaleng-kaleng, tapi krusial banget buat membentuk mental mereka yang tangguh dan sehat. Jadilah tempat mereka bercerita tanpa takut dihakimi.

Dan jangan lupa, Bapak-Ibu juga butuh me time, butuh jeda, butuh nafas. Ingat, you can't pour from an empty cup. Kalau kita sendiri lelah, stres, dan kehabisan energi, bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita? Luangkan waktu untuk melakukan hal yang kita suka, walaupun cuma sebentar. Nggak perlu merasa bersalah karena butuh istirahat, itu justru investasi untuk menjadi orang tua yang lebih baik.

Pergeseran Peran Ayah dan Kemitraan yang Lebih Kuat

Tren lain yang menarik dan patut diapresiasi adalah pergeseran peran ayah. Kalau dulu, Bapak paling banter cuma nyari nafkah dan nyuruh anak 'jangan bandel' atau 'jangan nakal'. Sekarang? Wah, para ayah ini sudah mulai ikutan nyuapin, bacain dongeng sebelum tidur, nganter jemput sekolah, bahkan ikut kelas parenting lho! Ini bukan lagi soal 'membantu' istri, tapi memang bagian dari tanggung jawab bersama dalam membesarkan anak.

Konsep partnership antara suami dan istri itu jadi kunci di era modern ini. Dengan kedua orang tua yang aktif terlibat, beban jadi lebih ringan, rasa 'sendiri' dalam mengurus anak bisa diminimalisir, dan yang paling penting, anak pun merasakan kasih sayang serta dukungan dari dua pilar utama dalam hidupnya. Ini progres yang patut diapresiasi, sih. Mengubah stigma bahwa mengurus anak itu 'tugas ibu' semata. Anak-anak yang tumbuh dengan kedua orang tua yang terlibat aktif biasanya memiliki ikatan emosional yang lebih kuat dan perkembangan sosial yang lebih baik.

Definisi Sukses yang Bergeser: Bukan Cuma Soal Nilai A

Di tengah segala hiruk pikuk ini, definisi 'anak sukses' pun ikut bergeser. Dulu mungkin sukses itu cuma soal ranking satu di sekolah, masuk universitas favorit, dan jadi dokter atau insinyur. Sekarang, kita mulai menyadari bahwa kebahagiaan, kesehatan mental, dan kemampuan beradaptasi itu jauh lebih penting daripada sekadar nilai sempurna di rapor.

Anak yang punya empati, bisa berkomunikasi dengan baik, tahu cara mengelola emosi, punya rasa ingin tahu yang tinggi, dan punya resilience untuk bangkit setelah gagal itu, menurut saya pribadi, jauh lebih 'sukses' dibanding yang cuma jago teori tapi gampang rapuh di kehidupan nyata. Tujuan parenting kita sekarang adalah menyiapkan mereka untuk jadi manusia utuh yang siap menghadapi dunia yang terus berubah, bukan cuma mesin pencetak nilai A. Mengajarkan mereka life skills, nilai-nilai moral, dan kecerdasan emosional adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya.

Jadi, Bapak-Ibu sekalian, parenting zaman now itu memang nggak ada buku panduannya yang one-size-fits-all. Kita semua sedang meraba-raba, belajar sambil jalan, dan sesekali ya trial and error kayak developer aplikasi yang lagi debugging. Mungkin kuncinya cuma dua: fleksibilitas dan kasih sayang yang tulus. Fleksibel untuk beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan anak yang terus berkembang, dan tulus mencintai serta mendampingi anak-anak kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Jangan lupa juga untuk berbaik hati pada diri sendiri, ya. Berikan diri Anda ruang untuk tidak sempurna, untuk melakukan kesalahan, dan untuk belajar. Karena orang tua yang bahagia dan seimbang, cenderung akan melahirkan anak-anak yang juga demikian. Tetap semangat, ya, Bapak-Ibu hebat! Kita semua ada di kapal yang sama, berlayar di samudra parenting yang penuh tantangan, tapi juga berlimpah keindahan dan pelajaran berharga.

Logo Radio
🔴 Radio Live