Mitos Tidur Delapan Jam Sehari dan Fakta Ilmiah Siklus Sirkadian Tubuh Manusia
Nisrina - Sunday, 22 February 2026 | 08:09 PM
Sejak duduk di bangku sekolah dasar kita selalu diajarkan satu aturan emas tentang istirahat yakni manusia wajib tidur delapan jam setiap malam agar tetap sehat. Doktrin ini terus diulang ulang di berbagai media hingga membuat banyak orang yang tidur kurang dari delapan jam merasa berdosa atau cemas berlebihan akan kesehatannya. Namun benarkah angka delapan ini adalah harga mati yang ditetapkan oleh biologi manusia atau sekadar penyederhanaan berlebihan yang keliru.
Penelitian modern mengenai ilmu tidur atau somnologi justru menunjukkan bahwa kewajiban tidur delapan jam berturut turut adalah konsep yang relatif baru. Sebelum revolusi industri dan penemuan lampu bohlam, nenek moyang kita terbiasa dengan pola tidur bifasik atau tidur dua tahap. Mereka akan tidur setelah matahari terbenam, terbangun di tengah malam selama beberapa jam untuk beraktivitas ringan, lalu kembali tidur hingga fajar. Konsep tidur blok delapan jam penuh baru muncul ketika manusia harus menyesuaikan diri dengan jadwal kerja pabrik yang teratur.
Rahasia Siklus REM dan Kualitas Tidur
Ilmu pengetahuan mengungkap bahwa tidur bukanlah sebuah garis lurus yang statis melainkan serangkaian siklus gelombang otak yang berulang. Otak kita melewati beberapa tahap mulai dari tidur ringan, tidur nyenyak yang sangat dalam, hingga fase REM (Rapid Eye Movement) di mana mimpi biasanya terjadi. Satu siklus penuh dari awal hingga akhir membutuhkan waktu sekitar sembilan puluh menit. Kualitas pemulihan tubuh jauh lebih bergantung pada seberapa mulus otak menyelesaikan siklus ini dibandingkan dengan total jam tidur secara keseluruhan.
Jika kamu terbangun tepat di tengah tengah fase tidur nyenyak, kamu akan merasa sangat pusing, lemas, dan kebingungan luar biasa meskipun kamu sudah tidur selama sembilan jam. Sebaliknya jika alarm membangunkanmu tepat di akhir siklus sembilan puluh menit tersebut, tubuh akan terasa sangat segar dan bertenaga meskipun kamu hanya tidur selama enam jam. Inilah mengapa banyak orang merasa lebih produktif setelah melakukan power nap singkat di siang hari karena mereka terbangun sebelum memasuki fase tidur yang terlalu dalam.
Mendengarkan Irama Sirkadian Masing Masing
Setiap manusia lahir dengan jam biologis atau irama sirkadian yang berbeda beda. Genetika memainkan peran besar dalam menentukan apakah kamu adalah tipe orang yang butuh banyak tidur atau tipe orang yang berfungsi optimal dengan waktu istirahat yang lebih singkat. Memaksakan diri untuk terus berbaring di tempat tidur demi memenuhi kuota delapan jam saat mata sudah tidak bisa terpejam justru bisa memicu insomnia dan stres berkepanjangan.
Kunci kesehatan tidur yang sesungguhnya adalah konsistensi bukan sekadar durasi. Tidur selama tujuh jam dengan jadwal yang teratur setiap harinya akan memberikan manfaat neurologis yang jauh lebih baik daripada tidur sepuluh jam yang dilakukan secara acak. Kenali ritme alami tubuhmu sendiri, pastikan kamar dalam keadaan gelap total untuk merangsang produksi hormon melatonin, dan berhentilah terobsesi pada angka delapan yang sering kali hanya menjadi mitos menyesatkan.
Next News

Blue Light Layar Gadget, Haruskah Kita Memakai Sunscreen di Dalam Ruangan
2 hours ago

Alasan Medis Mengapa Stres Bikin Rambut Rontok Parah
4 hours ago

Mengapa Tubuh Sangat Sulit Menolak Camilan Manis
4 hours ago

Rahasia Autofagi Cara Alami Tubuh Memperbaiki Sel Rusak Lewat Puasa Agar Awet Muda
6 hours ago

Fakta Ilmiah Minuman Kolagen Benarkah Ampuh Mencerahkan Kulit atau Sekadar Gimmick
7 hours ago

Resep Gyoza Ayam Ala Jepang Kenyal dan Juicy di Rumah
10 hours ago

Kenapa Kita Sering Bilang Belum Lima Menit Saat Makanan Jatuh?
a day ago

Mengapa Like dan Komentar Tak Bisa Mengobati Rasa Sepimu?
a day ago

Sering Merasa HP Bergetar Padahal Tidak? Simak Penjelasannya
a day ago

Mitos atau Fakta Sinyal Ponsel Bisa Mengganggu Navigasi Pesawat
a day ago






