Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Tubuh Sangat Sulit Menolak Camilan Manis

Nisrina - Sunday, 22 February 2026 | 07:15 PM

Background
Mengapa Tubuh Sangat Sulit Menolak Camilan Manis
Ilustrasi (Pexels/Polina Tankilevitch)

Bagi sebagian besar orang, menolak sepotong kue cokelat yang menggoda atau segelas boba dingin di siang hari adalah salah satu tantangan terberat dalam hidup. Kita sering kali menyalahkan diri sendiri dan menganggap hal ini sebagai kelemahan tekad atau kurangnya niat untuk diet. Namun sebelum kamu merasa bersalah berkepanjangan, kamu perlu tahu bahwa kecintaan kita pada makanan manis bukanlah sepenuhnya kesalahan karakter. Secara biologis dan evolusioner, otak manusia memang sudah diprogram untuk mencintai gula sejak zaman prasejarah.

Manusia purba hidup di lingkungan yang keras di mana makanan sangat sulit ditemukan. Ketika mereka menemukan buah buahan manis atau madu di alam liar, otak langsung meresponsnya sebagai sumber kalori instan yang aman dan bisa menyelamatkan nyawa. Sensasi manis adalah sinyal alami bahwa makanan tersebut tidak beracun dan kaya akan energi. Insting purba inilah yang masih terbawa dalam DNA kita hingga hari ini meskipun kita hidup di era modern di mana makanan manis bisa dibeli di mana saja dengan sangat mudah.

Jebakan Lonjakan Hormon Dopamin di Otak

Gula bekerja di dalam otak dengan cara yang sangat mirip dengan beberapa jenis zat adiktif. Ketika lidahmu menyentuh makanan manis, sinyal tersebut langsung dikirim ke sistem penghargaan di otak. Otak kemudian melepaskan hormon dopamin dalam jumlah besar. Dopamin inilah yang memberikan sensasi euforia, rasa bahagia, dan kenyamanan sesaat yang luar biasa. Masalahnya otak selalu menginginkan rasa bahagia tersebut berulang ulang.

Seiring berjalannya waktu, reseptor dopamin di otak bisa mengalami penurunan sensitivitas jika terus menerus dibombardir oleh gula dalam jumlah tinggi. Akibatnya kamu akan membutuhkan porsi gula yang semakin banyak hanya untuk merasakan tingkat kepuasan yang sama. Inilah yang menjelaskan mengapa dulu kamu mungkin cukup bahagia dengan satu gigitan cokelat, namun sekarang kamu bisa menghabiskan satu loyang kue manis sendirian tanpa merasa cukup.

Memutus Lingkaran Setan Kenaikan Gula Darah

Selain masalah di otak, gula juga mengacaukan sistem metabolisme. Mengonsumsi camilan manis akan membuat kadar gula darah melonjak tajam. Sebagai respons, pankreas akan menyuntikkan banyak insulin untuk menetralkannya. Sayangnya penurunan kadar gula darah yang terjadi setelahnya berlangsung sangat drastis yang sering disebut sebagai sugar crash. Kondisi ini membuat tubuh kembali lemas, gemetar, dan otak akan mengirimkan sinyal rasa lapar palsu yang mendesakmu untuk segera mencari makanan manis lagi.

Untuk memutus rantai kecanduan ini, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi konsumsi gula cair secara bertahap karena tubuh menyerap kalori cair jauh lebih cepat daripada makanan padat. Memperbanyak konsumsi serat dari sayuran dan protein tanpa lemak juga sangat penting karena nutrisi ini membuat perut kenyang lebih lama dan menjaga stabilitas gula darah. Kesimpulannya, kecanduan gula adalah reaksi biokimia nyata yang butuh strategi cerdas untuk diatasi bukan sekadar modal niat semata.

Logo Radio
🔴 Radio Live