Alasan Medis Mengapa Stres Bikin Rambut Rontok Parah
Nisrina - Sunday, 22 February 2026 | 07:45 PM


Kerontokan rambut adalah salah satu masalah penampilan yang paling sering memicu kepanikan baik bagi pria maupun wanita. Menemukan beberapa helai rambut di sisir mungkin adalah hal yang wajar. Namun ketika lantai kamar mandi tiba tiba dipenuhi oleh gumpalan rambut setelah mandi atau bantal dipenuhi helaian rambut setiap bangun tidur, kekhawatiran pasti langsung melanda. Kebanyakan orang akan langsung mengganti merek sampo mahal atau memakai berbagai tonik rambut tanpa mencari tahu akar penyebab utamanya yang sering kali bersumber dari beban pikiran.
Stres psikologis dan tekanan mental yang berat terbukti secara medis mampu memicu kondisi kerontokan rambut ekstrem yang dikenal dengan sebutan Telogen Effluvium. Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya hubungan antara pikiran dan respons fisik tubuh. Kulit kepala kita bukanlah entitas yang berdiri sendiri melainkan cerminan langsung dari apa yang sedang dialami oleh sistem saraf pusat kita.
Memahami Siklus Alami Pertumbuhan Rambut
Untuk mengerti mengapa stres bisa membuat rambut berguguran, kita perlu memahami fase kehidupan rambut itu sendiri. Secara normal setiap helai rambut di kepala kita melewati tiga fase utama. Pertama adalah fase anagen atau fase pertumbuhan aktif di mana rambut terus memanjang. Kedua adalah fase transisi singkat yang disebut katagen. Ketiga adalah fase telogen atau fase istirahat di mana folikel rambut tertidur sebelum akhirnya rambut tersebut rontok untuk digantikan oleh tunas rambut baru.
Pada kondisi normal dan sehat, sekitar delapan puluh hingga sembilan puluh persen rambut kita berada pada fase pertumbuhan aktif sementara sisanya berada pada fase istirahat. Hal inilah yang membuat rambut rontok harian tidak menyebabkan kebotakan. Namun sistem yang harmonis ini bisa sangat mudah dikacaukan oleh lonjakan hormon stres.
Mekanisme Stres Memaksa Folikel Beristirahat Dini
Ketika tubuh mengalami stres parah baik itu karena tekanan pekerjaan, perceraian, trauma fisik, atau bahkan sakit demam tinggi, tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan. Hormon kortisol ini memberi sinyal darurat kepada tubuh untuk menghemat energi dan memfokuskannya pada organ vital. Proses penumbuhan rambut dianggap bukan prioritas utama bagi tubuh yang sedang berada dalam mode bertahan hidup.
Akibatnya sejumlah besar folikel rambut yang seharusnya masih berada pada fase pertumbuhan aktif dipaksa untuk berpindah secara prematur ke fase istirahat atau fase telogen. Uniknya rambut tersebut tidak langsung rontok pada hari di mana kamu merasa stres. Folikel yang tertidur ini akan bertahan di kulit kepala selama kurang lebih dua hingga tiga bulan sebelum akhirnya berguguran secara serentak. Inilah sebabnya banyak orang sering bingung mengapa rambut mereka rontok parah hari ini padahal peristiwa penyebab stresnya sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Kabar baiknya Telogen Effluvium ini bersifat sementara dan rambut akan kembali tumbuh normal ketika sumber stres berhasil diatasi.
Next News

Blue Light Layar Gadget, Haruskah Kita Memakai Sunscreen di Dalam Ruangan
2 hours ago

Mitos Tidur Delapan Jam Sehari dan Fakta Ilmiah Siklus Sirkadian Tubuh Manusia
3 hours ago

Mengapa Tubuh Sangat Sulit Menolak Camilan Manis
4 hours ago

Rahasia Autofagi Cara Alami Tubuh Memperbaiki Sel Rusak Lewat Puasa Agar Awet Muda
6 hours ago

Fakta Ilmiah Minuman Kolagen Benarkah Ampuh Mencerahkan Kulit atau Sekadar Gimmick
7 hours ago

Resep Gyoza Ayam Ala Jepang Kenyal dan Juicy di Rumah
10 hours ago

Kenapa Kita Sering Bilang Belum Lima Menit Saat Makanan Jatuh?
a day ago

Mengapa Like dan Komentar Tak Bisa Mengobati Rasa Sepimu?
a day ago

Sering Merasa HP Bergetar Padahal Tidak? Simak Penjelasannya
a day ago

Mitos atau Fakta Sinyal Ponsel Bisa Mengganggu Navigasi Pesawat
a day ago






