

Kerontokan rambut adalah salah satu masalah penampilan yang paling sering memicu kepanikan baik bagi pria maupun wanita. Menemukan beberapa helai rambut di sisir mungkin adalah hal yang wajar. Namun ketika lantai kamar mandi tiba tiba dipenuhi oleh gumpalan rambut setelah mandi atau bantal dipenuhi helaian rambut setiap bangun tidur, kekhawatiran pasti langsung melanda. Kebanyakan orang akan langsung mengganti merek sampo mahal atau memakai berbagai tonik rambut tanpa mencari tahu akar penyebab utamanya yang sering kali bersumber dari beban pikiran.
Stres psikologis dan tekanan mental yang berat terbukti secara medis mampu memicu kondisi kerontokan rambut ekstrem yang dikenal dengan sebutan Telogen Effluvium. Fenomena ini membuktikan betapa kuatnya hubungan antara pikiran dan respons fisik tubuh. Kulit kepala kita bukanlah entitas yang berdiri sendiri melainkan cerminan langsung dari apa yang sedang dialami oleh sistem saraf pusat kita.
Memahami Siklus Alami Pertumbuhan Rambut
Untuk mengerti mengapa stres bisa membuat rambut berguguran, kita perlu memahami fase kehidupan rambut itu sendiri. Secara normal setiap helai rambut di kepala kita melewati tiga fase utama. Pertama adalah fase anagen atau fase pertumbuhan aktif di mana rambut terus memanjang. Kedua adalah fase transisi singkat yang disebut katagen. Ketiga adalah fase telogen atau fase istirahat di mana folikel rambut tertidur sebelum akhirnya rambut tersebut rontok untuk digantikan oleh tunas rambut baru.
Pada kondisi normal dan sehat, sekitar delapan puluh hingga sembilan puluh persen rambut kita berada pada fase pertumbuhan aktif sementara sisanya berada pada fase istirahat. Hal inilah yang membuat rambut rontok harian tidak menyebabkan kebotakan. Namun sistem yang harmonis ini bisa sangat mudah dikacaukan oleh lonjakan hormon stres.
Mekanisme Stres Memaksa Folikel Beristirahat Dini
Ketika tubuh mengalami stres parah baik itu karena tekanan pekerjaan, perceraian, trauma fisik, atau bahkan sakit demam tinggi, tubuh akan memproduksi hormon kortisol secara berlebihan. Hormon kortisol ini memberi sinyal darurat kepada tubuh untuk menghemat energi dan memfokuskannya pada organ vital. Proses penumbuhan rambut dianggap bukan prioritas utama bagi tubuh yang sedang berada dalam mode bertahan hidup.
Akibatnya sejumlah besar folikel rambut yang seharusnya masih berada pada fase pertumbuhan aktif dipaksa untuk berpindah secara prematur ke fase istirahat atau fase telogen. Uniknya rambut tersebut tidak langsung rontok pada hari di mana kamu merasa stres. Folikel yang tertidur ini akan bertahan di kulit kepala selama kurang lebih dua hingga tiga bulan sebelum akhirnya berguguran secara serentak. Inilah sebabnya banyak orang sering bingung mengapa rambut mereka rontok parah hari ini padahal peristiwa penyebab stresnya sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Kabar baiknya Telogen Effluvium ini bersifat sementara dan rambut akan kembali tumbuh normal ketika sumber stres berhasil diatasi.
Next News

Bukan Sekadar 'Buta Aturan': Menelusuri Akar Rendahnya Kepatuhan Hukum di Indonesia
5 days ago

Trotoar Berbagi: Dilema Pedagang Kaki Lima Antara Hak Ekonomi dan Hak Pejalan Kaki
5 days ago

Graffiti: Seni atau Perusak Lingkungan?
5 days ago

Ironi Gambar Leher Berlubang dan Nikmatnya Asap Rokok
6 days ago

"Saya Orangnya Stoik": Antara Filosofi Kuno dan Gaya Hidup Kekinian
6 days ago

Evolusi Nail Art: Ekspresi Diri di Ujung Jari Selama 2 Dekade
6 days ago

Kritik Mengalir Deras, Mengapa Respon Pemerintah Begitu Datar?
6 days ago

Apasih Bedanya Minus Sama Silinder? Simak Cegahnya!
8 days ago

Mitos Salad Buah Sebagai Penetral Makanan Berminyak
7 days ago

Aksi Heroik Fathimah Azzahra Hadapi Polisi di Jantung Jakarta
7 days ago

