Menjelajah Pangkalpinang Lewat Kelezatan Otak-otak Bangka
Refa - Wednesday, 18 February 2026 | 06:00 AM


Pangkalpinang dan Godaan Otak-otak Bangka yang Bikin Gagal Diet
Begitu menginjakkan kaki di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, hal pertama yang terlintas di kepala biasanya bukan soal urusan pekerjaan atau tumpukan berkas yang menunggu di Jakarta. Bukan juga soal betapa panasnya cuaca di luar sana. Pikiran kita, entah kenapa, langsung terseret ke aroma daun pisang terbakar yang menyembul dari sela-sela warung sederhana di pinggir jalan. Ya, apalagi kalau bukan otak-otak Bangka?
Bagi banyak orang, Pangkalpinang adalah gerbang utama menuju petualangan kuliner yang "berbahaya". Berbahaya bagi dompet kalau tidak bisa kontrol diri dan berbahaya bagi lingkar pinggang. Tapi jujurly, siapa sih yang bisa menolak godaan ikan tenggiri segar yang dibalut tepung tapioka tipis, lalu dibakar di atas bara api hingga aromanya semerbak ke mana-mana?
Bukan Sekadar Camilan, Tapi Identitas
Kalau di Jakarta kita sering menemui otak-otak yang lebih banyak rasa tepungnya daripada ikannya, di Pangkalpinang situasinya berbalik 180 derajat. Di sini, ikan tenggiri adalah kasta tertinggi. Orang Bangka tidak main-main soal urusan kesegaran laut. Ikan yang digunakan biasanya baru saja turun dari kapal nelayan di pagi hari, langsung diolah, dan disajikan saat itu juga. Hasilnya? Tekstur yang kenyal tapi tetap lembut, dengan rasa gurih alami yang meledak di setiap gigitan.
Makan otak-otak di Pangkalpinang itu punya ritmenya sendiri. Ini bukan tipe makanan yang dimakan sambil buru-buru. Ini adalah aktivitas sosial. Kamu duduk di kursi plastik, memesan es jeruk kunci (jeruk lokal yang asem-asem segar), lalu pelayan akan datang membawa piring besar berisi tumpukan otak-otak yang masih hangat. Di sinilah ujian iman dimulai. Kamu mungkin awalnya bilang, "Ah, makan lima saja cukup." Tapi percayalah, itu adalah kebohongan paling hakiki yang pernah diucapkan manusia di tanah Bangka.
Sihir di Balik Cocolan Saus
Apa yang membuat otak-otak Bangka beda dari versi daerah lain? Jawabannya ada pada cocolannya. Kalau di Jakarta biasanya pakai sambal kacang, di Pangkalpinang kamu akan dihadapkan pada "Trinitas Suci" saus otak-otak: cuka tauco, cuka terasi (belacan), dan cuka jeruk.
Cuka tauco punya rasa fermentasi yang unik dengan rasa manis, gurih, dan sedikit kental. Cuka terasi adalah juaranya bagi pecinta pedas dengan aroma laut yang kuat. Sementara cuka jeruk memberikan kesegaran yang sanggup menetralkan rasa amis ikan. Seringkali, orang-orang mencampur ketiganya menjadi satu ramuan rahasia di piring kecil mereka. Begitu otak-otak dicelupkan ke dalam campuran saus ini, rasanya seperti ada pesta kembang api di dalam mulut. Ada pedas, asam, manis, dan gurih yang saling sikut namun tetap harmonis.
Varian yang Bikin Mata Terbelalak
Jangan mengira otak-otak di Pangkalpinang cuma yang dibungkus daun pisang saja. Itu baru permulaan. Kalau kamu mampir ke daerah Jalan Baru atau kawasan kuliner di tengah kota, kamu akan menemukan varian lain yang tak kalah menggoda. Ada yang namanya otak-otak rebus, teksturnya lebih licin dan lembut. Lalu ada otak-otak goreng, yang bagian luarnya krispi tapi dalamnya tetap juicy.
Jangan lupakan juga "otak-otak talas" atau sering disebut bujan. Ini adalah campuran talas yang diparut dengan ikan tenggiri lalu digoreng garing. Rasanya? Wah, ini sih gacoan para pecinta gorengan. Biasanya dinikmati dengan cuka tauco yang pedas. Selain itu, ada juga pempek panggang atau kemplang panggang yang proses pembuatannya mirip, tapi punya karakter tekstur yang berbeda. Semuanya tersaji di depan mata, menantang kamu untuk segera mencicipinya.
Kearifan Lokal di Balik Tumpukan Sampah Daun
Ada satu pemandangan unik kalau kamu makan otak-otak di warung-warung legendaris seperti Otak-otak Amui atau kedai-kedai di sepanjang Jalan Baru. Di akhir sesi makan, pelayan tidak akan bertanya kamu makan berapa. Mereka cukup menghitung jumlah lidi atau tumpukan daun pisang yang menggunung di atas meja kamu. Ini adalah sistem kepercayaan yang sangat humanis. Tapi seringkali, melihat tumpukan daun itu membuat kita tersadar, "Eh, ternyata aku sudah makan 20 biji ya?"
Mengobservasi orang makan otak-otak di Pangkalpinang itu menarik. Ada yang makan dengan gaya elegan, satu demi satu. Ada juga yang gayanya borongan, semua daun dibuka dulu baru kemudian dimakan sekaligus. Tidak ada aturan baku. Yang penting hanyalah bagaimana lidahmu menari bersama saus-saus ajaib itu.
Pangkalpinang: Kota yang Santai dan Mengenyangkan
Secara keseluruhan, Pangkalpinang memang bukan kota yang penuh dengan gedung pencakar langit atau kehidupan malam yang gemerlap seperti Jakarta. Vibes-nya lebih ke arah "slow living". Orang-orangnya ramah, jalannya relatif lancar, dan udaranya masih terasa bau laut. Dan di tengah suasana yang santai itu, otak-otak hadir sebagai pelengkap yang sempurna.
Menikmati otak-otak di sini bukan cuma soal mengenyangkan perut, tapi juga soal menghargai proses dan bahan lokal yang berkualitas. Ini adalah bukti bahwa makanan sederhana, jika dikelola dengan jujur dan menggunakan bahan terbaik, bisa menjadi sebuah karya seni yang dirindukan banyak orang. Jadi, kalau suatu saat kamu punya kesempatan main ke Pangkalpinang, lupakan sejenak soal diet atau kalori. Hidup cuma sekali, masa tidak menikmati legitnya ikan tenggiri dan pedasnya cuka tauco?
Satu saran terakhir: pastikan kamu punya space kosong di tas atau koper saat pulang. Karena biasanya, setelah makan di tempat, godaan untuk membungkus ratusan otak-otak sebagai oleh-oleh untuk teman-teman di kantor adalah sesuatu yang mustahil untuk dilawan. Lagipula, siapa yang tidak senang dibawakan "harta karun" dari Pulau Bangka ini?
Next News

Mengenal Tenun Ikat Sikka, Kain Tradisional NTT yang Mendunia
11 hours ago

Menjelajah Ternate Dari Jejak Portugis di Benteng Tolukko hingga Lanskap Ikonik Danau Ngade
2 days ago

Panduan Lengkap Wisata Bernostalgia di Museum Angkut Malang
2 days ago

Mengintip Keindahan Bawah Laut Kaki Gunung Api Banda
3 days ago

Jangan Mati Sebelum ke Banda Neira! Tempat yang Menjadi Saksi Bisu Ambisi VOC
3 days ago

Berburu 4 Gudeg Legendaris di Yogyakarta
5 days ago

6 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Wajib Masuk Bagasi Kamu
6 days ago

Rekomendasi Makan Malam Otentik di Simpang Lima Semarang bagi Pecinta Kuliner
5 days ago

Jangan Salah Pilih Jalur! Inilah Perbedaan Medan Sembalun dan Senaru Gunung Rinjani
5 days ago

Jangan Nekat! Inilah Waktu Paling Aman dan Magis untuk Summit Attack di Rinjani
5 days ago






