Ceritra
Ceritra Kota

Mengenal Tenun Ikat Sikka, Kain Tradisional NTT yang Mendunia

Refa - Wednesday, 18 February 2026 | 12:00 PM

Background
Mengenal Tenun Ikat Sikka, Kain Tradisional NTT yang Mendunia
Tenun Ikat Sikka (FOTO ANTARA/Eric Ireng)

Mengenal Tenun Ikat Sikka: Mahakarya dari NTT yang Membawa Cerita Alam ke Dalam Sehelai Kain

Pernah nggak sih lo ngerasa bosen sama tren fast fashion yang modelnya gitu-gitu aja? Setiap ke mall, bajunya seragam, bahannya tipis, dan rasanya nggak punya jiwa. Nah, kalau lo pengen nyari sesuatu yang bener-bener punya "nyawa" dan cerita mendalam di setiap seratnya, lo wajib melirik ke arah timur Indonesia. Tepatnya ke Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di sana, ada sebuah mahakarya yang namanya Tenun Ikat Sikka.

Tenun Ikat Sikka itu bukan sekadar kain tradisional yang biasanya cuma dipajang di museum atau dipakai kondangan doang. Ini adalah manifestasi dari kesabaran, filosofi hidup, dan hubungan mesra antara manusia dengan alam Flores yang eksotis. Bayangin aja, sehelai kain ini nggak dibikin dalam semalam kayak tugas kuliah yang mepet deadline. Prosesnya bisa berbulan-bulan, bahkan tahunan!

Bukan Sekadar Kain, Tapi Identitas yang Ditenun

Bagi masyarakat Sikka di Maumere dan sekitarnya, menenun itu sudah kayak bernapas. Dari kecil, anak-anak perempuan di sana sudah terbiasa melihat Mama-Mama mereka duduk bersila di depan alat tenun kayu yang disebut Loke. Suara "peta-peta" dari kayu yang beradu itu adalah soundtrack harian di desa-desa seperti Watublapi atau Sikka.

Gue rasa, salah satu alasan kenapa Tenun Sikka ini spesial banget adalah karena setiap motifnya punya hak paten natural. Maksudnya begini, tiap suku atau klan di Sikka punya motif khasnya masing-masing. Lo nggak bisa sembarangan nyontek motif tetangga kalau nggak mau dibilang nggak sopan. Kain ini adalah KTP-nya orang Sikka. Dari motif yang dipakai, kita bisa tahu orang tersebut berasal dari klan mana, status sosialnya apa, bahkan sampai sudah menikah atau belum.

Rahasia di Balik Warna Alam: Indigo dan Akar Mengkudu

Di era sekarang yang serba kimia, Tenun Ikat Sikka tetap setia pada jalur "indie"-nya, yaitu pewarnaan alami. Ini yang bikin harganya kadang bikin dompet agak kaget, tapi sumpah, worth it banget. Bayangin, warna biru gelap yang elegan itu didapat dari daun indigo (nila) yang harus diperam berhari-hari. Sedangkan warna merah bata yang hangat berasal dari akar pohon mengkudu (mengkudu).

Proses ini bukan cuma soal celup-mencelup. Ada ritualnya, ada pantangannya. Konon, kalau mood si penenun lagi nggak bagus, warnanya nggak bakal keluar dengan sempurna. Jadi, kain yang lo pegang itu sebenarnya adalah rekaman emosi dan doa dari perajinnya. Lo nggak bakal nemuin warna se-deep dan se-earthy ini di pabrik tekstil manapun di Bandung atau Jakarta. Vibes-nya tuh beda, lebih kerasa "bumi" banget.

Motif yang Bicara Soal Alam dan Sejarah

Kalau lo perhatiin detail motifnya, lo bakal nemuin banyak cerita. Ada motif "Moko" yang bentuknya mirip genderang perunggu, simbol status dan mas kawin. Ada juga motif hewan kayak cicak, ayam, atau kuda yang semuanya punya makna simbolis soal perlindungan dan kekuatan.

Tapi yang paling keren menurut gue adalah gimana mereka memvisualisasikan alam. Ada motif bunga-bunga kecil yang menggambarkan keindahan padang rumput di NTT, sampai motif gelombang laut yang menceritakan posisi Sikka sebagai daerah pesisir. Menariknya lagi, Tenun Sikka adalah tenun pertama di Indonesia yang dapet perlindungan Indikasi Geografis. Artinya, kualitas dan keasliannya tuh emang udah diakui secara hukum nasional maupun internasional. Bukan kaleng-kaleng, Bos!

Filosofi Kesabaran di Tengah Gempuran Zaman

Jujur aja, di zaman yang serba instan ini, melihat Mama-Mama di Sikka masih telaten mengikat benang satu per satu itu rasanya kayak dapet tamparan keras buat kita yang suka mengeluh kalau koneksi internet lemot dikit. Menenun ikat itu ribet parah. Benangnya musti diikat pakai tali rafia atau daun koli dulu sesuai pola, baru dicelup warna. Setelah kering, ikatannya dibuka, eh muncul deh polanya. Itu baru satu warna, kalau mau banyak warna ya prosesnya diulang-ulang lagi.

Gue sering mikir, apa sih yang bikin mereka bertahan? Jawabannya sederhana: Cinta dan Warisan. Bagi mereka, kain adalah cara menyambung napas leluhur ke generasi mendatang. Kain Tenun Sikka itu ibarat buku sejarah yang nggak butuh kertas. Semuanya tertulis lewat benang.

Gimana Caranya Biar Nggak Kelihatan "Tua" Pas Pakai Tenun?

Nah, ini nih sering jadi kendala buat anak muda. Banyak yang takut pakai tenun karena takut kelihatan kayak mau rapat camat atau kelihatan lebih tua 10 tahun. Padahal, Tenun Sikka itu versatile banget kalau lo tahu cara nge-mix and match-nya.

Sekarang udah banyak desainer lokal yang nyulap kain Sikka jadi blazer yang edgy, outer buat hangout, atau bahkan aksen di sneakers. Lo bisa pakai kain Sikka sebagai obi belt di atas kemeja putih oversize, atau jadiin scarf pas lagi traveling ke luar negeri. Dijamin, lo bakal jadi pusat perhatian karena tekstur dan polanya yang unik banget. Nggak perlu pakai logo brand luar negeri yang gede-gede, pakai Tenun Sikka udah bikin lo kelihatan punya taste yang "mahal" dan berbudaya.

Kesimpulan: Dukung Lokal, Cintai Proses

Membeli Tenun Ikat Sikka bukan cuma soal transaksi jual beli barang. Lo itu sebenarnya lagi mengapresiasi waktu, keringat, dan doa seorang perempuan di pelosok NTT. Lo lagi ngebantu ekonomi kreatif mereka supaya tetap hidup dan nggak tergerus zaman.

Jadi, kalau nanti lo main ke Maumere, jangan lupa mampir ke sanggar-sanggar tenunnya. Rasain sendiri sensasi pegang kainnya, liat gimana mereka bekerja, dan dengerin cerita di balik motifnya. Tenun Sikka itu bukti nyata kalau Indonesia punya kemewahan yang nggak bisa dibeli dengan mesin canggih sekalipun. It's slow fashion at its finest. Sebuah mahakarya yang membawa seluruh elemen alam dari tanah, air, tanaman, dan jiwa manusia ke dalam sehelai kain yang abadi.

Logo Radio
🔴 Radio Live