Alasan Psikologis Anak Tengah Rentan Merasa Terabaikan Keluarga
Nisrina - Wednesday, 18 February 2026 | 11:42 AM


Dalam dinamika sebuah keluarga besar posisi urutan kelahiran sering kali memainkan peran yang sangat signifikan dalam membentuk kepribadian dan pengalaman emosional seorang anak. Kita sering mendengar tentang anak sulung yang memiliki jiwa kepemimpinan alami karena terbiasa menjadi contoh bagi adik adiknya. Kita juga sering membahas tentang anak bungsu yang cenderung manja dan mendapatkan perhatian berlimpah karena posisinya sebagai bayi dalam keluarga.
Namun di antara kedua kutub tersebut terdapat satu posisi yang sering kali luput dari sorotan utama yaitu posisi anak tengah. Anak yang lahir di antara kakak tertua dan adik termuda ini sering kali berada dalam posisi terjepit yang membingungkan. Fenomena ini dalam dunia psikologi populer sering disebut sebagai Middle Child Syndrome atau Sindrom Anak Tengah.
Merujuk pada ulasan psikolog yang dilansir oleh Antara News anak tengah memiliki kerentanan yang jauh lebih tinggi untuk merasa terabaikan kesepian dan tidak dianggap penting dibandingkan saudara saudaranya yang lain. Perasaan ini bukan sekadar drama anak anak biasa melainkan sebuah respons emosional yang valid akibat struktur perhatian orang tua yang terbagi. Artikel ini akan membedah secara mendalam mengapa fenomena ini bisa terjadi dampak jangka panjangnya terhadap mental anak serta solusi konkret bagi orang tua untuk merangkul kembali hati si anak tengah.
Posisi Sandwich yang Membingungkan Identitas
Analogi paling mudah untuk menggambarkan posisi anak tengah adalah seperti isian dalam sebuah roti lapis atau sandwich. Mereka terjepit di tengah tengah. Mereka tidak memiliki keistimewaan sebagai anak pertama yang merayakan segala sesuatu serba perdana. Momen langkah pertama kata pertama hingga hari pertama sekolah sang kakak biasanya dirayakan dengan sangat heboh oleh orang tua baru. Anak tengah tidak mendapatkan euforia pertama kali tersebut karena orang tua sudah pernah melewatinya.
Di sisi lain mereka juga tidak bisa menikmati keistimewaan sebagai anak bungsu yang selalu dianggap kecil lucu dan perlu dilindungi. Ketika anak tengah mencoba bermanja manja orang tua sering kali menuntut mereka untuk bersikap dewasa dan mengalah kepada adiknya. Namun ketika mereka mencoba bersikap dewasa dan ingin ikut campur dalam urusan besar mereka sering kali dilarang karena dianggap belum cukup umur seperti kakaknya.
Ketidakjelasan peran ini sering kali membuat anak tengah mengalami krisis identitas sejak dini. Mereka bingung menempatkan diri di dalam keluarga. Mereka bertanya tanya di mana letak keistimewaan mereka jika dibandingkan dengan kakak yang hebat dan adik yang menggemaskan. Kebingungan inilah yang menjadi benih awal dari perasaan terasing di rumah sendiri.
Rasa Saing dan Pencarian Perhatian yang Ekstrem
Karena merasa tidak mendapatkan perhatian secara alami atau otomatis seperti saudara saudaranya anak tengah sering kali mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang unik. Salah satu dampaknya adalah munculnya perilaku mencari perhatian atau attention seeking yang kadang kala bisa bersifat negatif.
Psikolog mencatat bahwa anak tengah mungkin akan bertingkah laku nakal membuat onar di sekolah atau menjadi sangat pemberontak di rumah hanya demi mendapatkan tolehan dari orang tuanya. Bagi mereka dimarahi atau ditegur masih lebih baik daripada tidak dianggap sama sekali atau dianggap tidak ada.
Namun tidak semua anak tengah bereaksi dengan cara memberontak. Ada tipe anak tengah yang justru menarik diri sepenuhnya. Mereka menjadi sangat pendiam penurut dan menyembunyikan perasaan mereka rapat rapat. Mereka memilih untuk menjadi invisible atau tidak terlihat agar tidak menimbulkan masalah karena mereka merasa suara mereka tidak akan didengar meskipun mereka berteriak. Tipe penari diri inilah yang justru sangat berbahaya karena mereka memendam luka batin sendirian tanpa diketahui oleh orang tua.
Peran Diplomat Penjaga Perdamaian Keluarga
Meskipun terdengar menyedihkan posisi anak tengah sebenarnya melahirkan sebuah keterampilan sosial yang luar biasa jika diarahkan dengan benar. Karena terbiasa berada di antara kakak yang dominan dan adik yang manja anak tengah sering kali tumbuh menjadi negosiator yang ulung.
Mereka belajar untuk menjadi penengah atau peacemaker saat saudara saudaranya bertengkar. Mereka memiliki empati yang tinggi karena mereka tahu rasanya berada di posisi bawah ditekan kakak dan posisi atas harus mengalah pada adik. Kemampuan adaptasi sosial ini membuat anak tengah biasanya memiliki lingkup pergaulan yang luas di luar rumah.
Fakta menariknya banyak anak tengah yang justru lebih sukses menjalin hubungan persahabatan dan karier di masa depan karena mereka tidak memiliki ego setinggi anak sulung dan tidak sebergantung anak bungsu. Mereka adalah pribadi yang mandiri dan fleksibel. Namun potensi positif ini hanya bisa berkembang maksimal jika orang tua menyadari keberadaan mereka dan memberikan validasi emosional yang tepat.
Strategi Orang Tua Merangkul Anak Tengah
Agar anak tengah tidak merasa terabaikan dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat secara mental orang tua harus melakukan upaya sadar untuk mengubah pola asuh. Kuncinya adalah memberikan pengakuan atas eksistensi mereka sebagai individu yang unik bukan sekadar sebagai adik dari si sulung atau kakak dari si bungsu.
1. Berikan Waktu Berkualitas Secara Personal
Di tengah kesibukan mengurus si kecil yang rewel atau si sulung yang sibuk sekolah luangkan waktu khusus hanya untuk anak tengah. Ajak mereka pergi berdua saja tanpa membawa saudara yang lain. Biarkan mereka menentukan aktivitas apa yang ingin dilakukan. Momen ini akan membuat mereka merasa spesial dan didengar.
2. Puji Keunikan dan Bakatnya
Hindari membandingkan anak tengah dengan saudaranya. Jika kakaknya juara matematika dan adiknya pintar menyanyi temukan apa bakat si anak tengah. Mungkin dia jago menggambar atau sangat penyayang terhadap binatang. Fokuslah memuji hal tersebut secara spesifik. Validasi ini akan membangun harga diri mereka.
3. Libatkan dalam Pengambilan Keputusan
Sering kali suara anak tengah tenggelam dalam diskusi keluarga. Orang tua harus secara aktif bertanya "Kalau menurut Kakak Tengah bagaimana" atau "Adik Tengah mau pilih warna apa". Pertanyaan sederhana ini mengirimkan sinyal kuat ke otak mereka bahwa pendapat mereka penting dan dihargai dalam keluarga ini.
4. Berikan Privasi dan Kepemilikan
Anak tengah sering kali harus menerima barang lungsuran dari kakaknya dan harus berbagi mainan dengan adiknya. Usahakan untuk memberikan barang yang benar benar baru dan menjadi milik pribadi mereka sepenuhnya. Berikan juga ruang privasi di mana mereka tidak harus selalu diganggu oleh adiknya. Rasa kepemilikan ini penting untuk membentuk identitas diri.
Memahami psikologi anak tengah bukanlah tentang memanjakan mereka secara berlebihan melainkan tentang memberikan keadilan emosional. Jangan biarkan mereka merasa menjadi penonton di dalam keluarga sendiri. Dengan sedikit perhatian lebih dan komunikasi yang tulus orang tua bisa mengubah rasa keterasingan anak tengah menjadi kekuatan karakter yang luar biasa tangguh dan penuh kasih sayang.
Next News

4 Langkah Simpel Amankan Rumah dari Ancaman Banjir
7 hours ago

Pasangan Ngorok Bikin Stres? Lakukan Cara Ini Agar Tetap Pulas
3 hours ago

5 Tanda Kamar Kamu Penuh Energi Negatif yang Bikin Cepat Capek
5 hours ago

Sulap Suasana Rumah Jadi Berkelas Hanya dengan Wangi Diffuser
6 hours ago

Panduan Feng Shui Ruang Tamu untuk Tarik Energi Positif ke Rumah
7 hours ago

Bukan Sekadar Tren, Ini Pentingnya Unsur Alam di Rumah Kamu
8 hours ago

Solusi Redakan Stres Lewat Pencahayaan Interior Rumah
9 hours ago

Pentingnya Asupan Antioksidan Harian Demi Cegah Penuaan Dini Secara Alami
4 hours ago

7 Mitos Perawatan Rumah yang Keliru dan Merusak Perabot
6 hours ago

5 Tanaman Hias Cantik Ini Bisa Ditanam dari Biji di Dalam Rumah
6 hours ago





