Ceritra
Ceritra Warga

Bukan Sekadar Tren, Ini Pentingnya Unsur Alam di Rumah Kamu

Refa - Wednesday, 18 February 2026 | 05:00 PM

Background
Bukan Sekadar Tren, Ini Pentingnya Unsur Alam di Rumah Kamu
Ilustrasi ruang tamu dengan tanaman (pexels.com/Ksenia Chernaya )

Pulang ke "Hutan": Mengapa Biophilic Design Jadi Koentji Hidup Waras di Tengah Kota

Pernah nggak sih kamu merasa jenuh banget setelah seharian menatap layar laptop, terus pas keluar rumah dan melihat pohon hijau di pinggir jalan, rasanya kayak ada beban yang terangkat dari pundak? Atau sesederhana merasa lebih tenang saat lagi ngopi di kafe yang banyak tanaman gantungnya daripada di ruangan tertutup yang isinya cuma tembok beton dan lampu neon? Kalau jawabannya iya, berarti insting purba kamu lagi bicara. Selamat, kamu baru saja merasakan "panggilan alam" yang dalam dunia arsitektur kerennya disebut sebagai Biophilic Design.

Jujur aja, hidup di kota besar itu seringnya bikin kita ngerasa kayak robot. Kita bangun di dalam kotak (apartemen atau kamar kos), berangkat kerja naik kotak besi (mobil atau kereta), lalu kerja di dalam kotak lagi (kantor). Siklus ini sering banget bikin kita merasa disconnected sama dunia luar. Di sinilah konsep biophilic design masuk sebagai penyelamat. Bukan sekadar tren dekorasi biar rumah kelihatan estetik di Instagram, konsep ini sebenarnya adalah upaya buat bawa kembali koneksi alami manusia dengan alam ke dalam ruang hidup kita, terutama ruang tamu.

Apa Sih Sebenernya Biophilic Design Itu?

Secara etimologi, biophilia itu berasal dari bahasa Yunani yang artinya mencintai kehidupan atau makhluk hidup. Istilah ini dipopulerkan oleh Edward O. Wilson, seorang biologis yang bilang kalau manusia itu punya kecenderungan genetik buat merasa terikat sama alam. Jadi, biophilic design itu bukan cuma soal naruh satu pot kaktus di atas meja terus selesai. Nggak sesimpel itu, kawan.

Konsep ini lebih ke arah gimana cara kita mengintegrasikan elemen alam secara mendalam ke dalam struktur dan atmosfer ruangan. Tujuannya satu: meningkatkan kesehatan mental, produktivitas, dan kebahagiaan kita sebagai penghuni. Bayangin ruang tamu kamu bukan cuma tempat naruh sofa dan TV, tapi jadi ekosistem kecil yang bikin napas terasa lebih plong.

Cahaya Matahari: Vitamin Alami buat Ruang Tamu

Langkah pertama kalau mau menerapkan biophilic design adalah berhenti jadi "vampir". Maksudnya, jangan hobi banget nutup gorden rapat-rapat sepanjang hari. Cahaya matahari adalah elemen paling krusial. Selain hemat listrik karena nggak perlu nyalain lampu pas siang, sinar matahari yang masuk ke ruang tamu itu punya pengaruh besar ke sirkadian atau jam biologis tubuh kita.

Coba deh pakai gorden yang tipis atau sheer yang masih membiarkan cahaya masuk tapi privasi tetap terjaga. Kalau kamu punya budget lebih buat renovasi, pasang jendela yang lebih besar atau skylight bisa jadi opsi yang mantap. Cahaya alami yang jatuh di lantai kayu atau tembok itu kasih tekstur yang nggak bisa ditiru sama lampu LED manapun. Vibes-nya itu lho, berasa lagi healing tipis-tipis setiap jam 10 pagi.

Tanaman Bukan Cuma Pajangan, Tapi Teman

Ngomongin alam pasti nggak jauh-jauh dari yang namanya tanaman. Tapi dalam biophilic design, kita nggak asal naruh tanaman plastik ya. Gunakan tanaman asli. Kenapa? Karena ada interaksi di sana. Kamu menyiramnya, melihat dia tumbuh daun baru, atau bahkan sedih pas dia layu. Proses merawat ini sebenarnya adalah terapi psikis yang luar biasa.

Buat ruang tamu, kamu bisa mulai dengan tanaman yang bandel alias nggak gampang mati kayak Lidah Mertua (Sansevieria), Sirih Gading (Pothos), atau Monstera yang hits itu. Kalau ruang tamu kamu sempit, manfaatin dinding buat bikin vertical garden. Tanaman-tanaman ini bukan cuma filter udara alami yang nyerep polusi, tapi juga memberikan visual rest. Mata kita butuh istirahat dari garis-garis kaku furnitur modern, dan lekukan daun tanaman adalah obat paling mujarab.

Material Organik yang Bikin Grounding

Coba perhatikan furnitur di ruang tamu kamu. Kebanyakan plastik, besi dingin, atau kaca? Biophilic design menyarankan kita buat pakai material yang lebih "membumi". Kayu dengan serat yang masih kelihatan, batu alam, rotan, sampai kain katun atau linen untuk sarung bantal. Material-material ini punya tekstur yang kalau disentuh itu rasanya beda di tangan ada rasa hangat dan koneksi fisik yang bikin kita merasa lebih santai.

Jangan takut buat pakai barang yang nggak "sempurna". Meja kayu yang ada guratan alaminya justru punya cerita sendiri daripada meja pabrikan yang mulus total. Penggunaan warna-warna bumi atau earth tones seperti cokelat, krem, hijau lumut, atau abu-abu batu juga sangat disarankan. Warna-warna ini secara psikologis memberikan rasa aman dan stabil. Nggak heran kan kenapa kalau masuk ke hutan atau pegunungan kita ngerasa tenang? Ya karena mata kita menangkap spektrum warna tersebut.

Suara dan Aroma: Pengalaman Multisensori

Membawa alam ke dalam rumah itu bukan cuma soal apa yang dilihat mata, tapi juga apa yang didengar dan dicium. Kalau kamu tinggal di area yang bising suara klakson, coba pasang dekorasi air mancur kecil di sudut ruang tamu. Suara gemericik air itu secara otomatis nurunin detak jantung dan bikin rileks. Rasanya kayak lagi duduk di pinggir sungai, padahal aslinya lagi nungguin paket ojek online datang.

Terus soal aroma. Lupakan pengharum ruangan kimia yang baunya menusuk hidung. Pakai essential oil dengan wangi pinus, sandalwood, atau lavender. Bau-bauan ini bisa langsung nge-hack" otak kita buat masuk ke mode santai. Bahkan ventilasi udara yang bagus itu penting banget. Membiarkan udara segar mengalir masuk ke ruang tamu itu esensial banget biar nggak ada energi atau hawa yang "mati" di dalam rumah.

Opini Pribadi: Investasi buat Kesehatan Mental

Mungkin ada yang mikir, "Duh, ribet banget ya mesti ngerawat tanaman dan ganti furnitur." Tapi menurut saya, di zaman yang serba cepat dan penuh tekanan ini, menciptakan oase di rumah itu bukan lagi kemewahan, tapi kebutuhan. Kita sudah terlalu sering terpapar stres di luar sana. Kalau pulang ke rumah tapi suasananya malah bikin makin sumpek karena isinya cuma benda-benda mati yang kaku, kapan otaknya mau istirahat?

Biophilic design itu sebenernya bentuk self-love yang paling nyata dalam ranah interior. Kita nggak perlu punya rumah mewah di tengah hutan buat ngerasain kedamaian. Cukup dengan menata ruang tamu sedemikian rupa supaya alam bisa "bertamu" setiap hari, itu sudah lebih dari cukup buat menjaga kewarasan kita. Lagipula, siapa sih yang nggak mau punya ruang tamu yang bikin tamu betah berlama-lama karena suasananya adem dan asri?

Kesimpulan: Mulai Aja Dulu dari yang Kecil

Nggak perlu langsung ngerombak total satu rumah. Mulailah dari langkah kecil di ruang tamu. Mungkin minggu ini beli satu pot tanaman kecil, minggu depan coba ganti sarung bantal sofa dengan bahan linen, atau sesederhana rajin buka jendela tiap pagi. Biophilic design adalah sebuah perjalanan untuk kembali mengenal diri kita sebagai bagian dari alam, bukan penguasa alam.

Pada akhirnya, rumah harus jadi tempat di mana kita bisa melepas semua topeng dan beban. Dengan membawa elemen alam ke dalam ruang tamu, kita seolah diingatkan kalau hidup itu terus tumbuh dan berproses, sama kayak tanaman di sudut ruangan yang pelan-pelan mekar. Jadi, sudah siap mengubah ruang tamu kamu jadi hutan pribadi yang menenangkan?

Logo Radio
🔴 Radio Live