Ceritra
Ceritra Kota

Mengenal Kampung Pasir Sumenep Sebuah Desa Unik Di Mana Kasur Busa Tidak Laku

Refa - Saturday, 13 December 2025 | 03:37 PM

Background
Mengenal Kampung Pasir Sumenep Sebuah Desa Unik Di Mana Kasur Busa Tidak Laku
Budaya Tidur di Pasir Warga Sumenep (Merdeka.com/)

Jika kebanyakan orang memimpikan tidur di atas kasur pegas (springbed) yang empuk dan tebal, hal sebaliknya justru terjadi di beberapa desa di Kabupaten Sumenep, Madura. Bagi warga Desa Legung Timur, Legung Barat, dan Dapenda di Kecamatan Batang-Batang, kemewahan tidur yang sesungguhnya bukanlah di atas busa, melainkan di atas hamparan pasir.

Tradisi unik yang sudah berjalan turun-temurun ini menjadikan tiga desa tersebut dijuluki sebagai "Kampung Pasir". Di dalam rumah-rumah warga, baik yang berdinding bambu maupun yang sudah ditembok keramik modern, akan selalu ditemukan bak beton menyerupai kolam kering berukuran besar yang penuh berisi pasir. Di sanalah seluruh anggota keluarga beristirahat, bercengkrama, hingga terlelap tidur setiap malamnya.

Pasir Istimewa yang Tidak Lengket

Pertanyaan pertama yang muncul di benak orang awam pastilah mengenai kebersihannya. Apakah badan tidak kotor dan lengket? Jawabannya tidak. Pasir yang digunakan bukanlah sembarang pasir pantai yang kotor atau berlumpur.

Pasir di desa ini memiliki tekstur kristal yang sangat halus, bersih, dan berwarna putih gading. Keistimewaan utamanya adalah tidak lengket di kulit meskipun tubuh sedang berkeringat. Setelah bangun tidur, warga cukup mengibaskan tangan atau berdiri, dan butiran pasir akan rontok dengan sendirinya tanpa meninggalkan sisa debu. Warga juga rajin mengayak pasir tersebut secara berkala untuk memisahkan kotoran asing, serta menjemurnya agar tetap kering dan higienis.

Terapi Kesehatan Alami

Alasan utama warga mempertahankan tradisi ini bukan karena faktor ekonomi, melainkan faktor kenyamanan dan kesehatan. Madura dikenal dengan cuaca pesisirnya yang panas dan gerah. Tidur di atas pasir memberikan sensasi dingin yang alami dan menyejukkan. Sifat pasir yang lambat menyerap panas membuat suhu permukaannya tetap adem, jauh lebih nyaman dibandingkan kasur kapuk atau busa yang menyerap keringat.

Selain itu, bentuk pasir yang fleksibel mengikuti lekuk tubuh manusia dianggap sebagai terapi ortopedi alami. Banyak warga meyakini bahwa tidur di atas pasir dapat melancarkan peredaran darah dan mencegah penyakit rematik. Tekanan pasir yang merata ke seluruh punggung berfungsi layaknya pijatan halus yang menghilangkan pegal linu setelah seharian bekerja di ladang atau laut.

Filosofi Hidup dari Lahir Sampai Mati

Bagi masyarakat setempat, pasir bukan sekadar alas tidur, melainkan bagian dari siklus hidup. Bayi-bayi yang baru lahir sering kali diletakkan di atas pasir yang dilapisi kain tipis agar hangat. Pasir juga dianggap lebih aman untuk balita karena meminimalkan risiko terjatuh dari tempat tinggi seperti ranjang (dipan).

Masyarakat Legung bahkan memiliki ungkapan filosofis bahwa kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan dari pasir. Mereka lahir di atas pasir, bermain di atas pasir, tidur di atas pasir, dan kelak ketika meninggal pun akan kembali terkubur di dalam tanah berpasir. Tradisi ini menjadi identitas budaya yang kuat, membuktikan bahwa kenyamanan tidak selalu harus dibeli dengan harga mahal, tetapi bisa disediakan oleh alam sekitar.

Logo Radio
🔴 Radio Live