Bapukung: Kearifan Lokal Dayak dan Banjar dalam Menimang Buah Hati dengan Posisi Duduk
Nisrina - Wednesday, 14 January 2026 | 04:45 PM


Indonesia adalah negara kepulauan yang kaya akan tradisi, termasuk dalam hal pengasuhan anak atau parenting. Salah satu tradisi unik yang masih bertahan hingga saat ini di tanah Kalimantan, khususnya di kalangan masyarakat suku Dayak dan Banjar, adalah Bapukung. Bagi masyarakat modern yang terbiasa melihat bayi tidur dalam posisi telentang di kasur atau boks bayi, pemandangan Bapukung mungkin akan terlihat tidak lazim atau bahkan mengejutkan. Tradisi ini melibatkan cara menidurkan bayi dalam posisi seperti sedang duduk di dalam ayunan kain sarung. Meskipun terlihat tidak biasa, praktik ini telah diwariskan turun-temurun selama ratusan tahun dan dipercaya memiliki manfaat psikologis serta fisiologis tersendiri bagi si kecil.
Secara teknis, Bapukung berbeda dengan ayunan bayi pada umumnya yang membiarkan bayi berbaring lurus. Dalam metode ini, bayi didudukkan di dalam kain panjang atau sarung (tapih bahalai) yang diikatkan pada per atau tali yang menggantung di langit-langit rumah. Kunci utama dari teknik ini adalah pengaturan posisi kain yang menopang punggung, leher, dan bokong bayi sedemikian rupa sehingga bayi merasa seperti sedang didekap erat. Leher bayi biasanya diberikan sanggahan berupa bantal kecil atau lipatan kain agar kepala tidak terkulai ke samping atau ke depan yang bisa membahayakan jalan napas. Posisi kaki bayi pun tertekuk di dalam kain, menyerupai posisi janin di dalam rahim.
Filosofi di balik Bapukung sangat erat kaitannya dengan konsep kenyamanan dan keamanan menyerupai rahim ibu. Para orang tua di Kalimantan percaya bahwa posisi duduk dengan balutan kain yang ketat namun elastis ini memberikan sensasi pelukan yang hangat atau deep pressure touch. Sensasi ini sangat ampuh untuk menenangkan bayi yang rewel (kolik) atau gelisah. Karena merasa seperti sedang dipeluk secara konstan, bayi cenderung tidur lebih nyenyak dan dalam durasi yang lebih lama dibandingkan jika ditidurkan di kasur biasa. Hal ini tentu memberikan keuntungan bagi para ibu di pedesaan yang harus membagi waktu antara mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau berladang.
Dari perspektif medis dan perkembangan anak, Bapukung sebenarnya memiliki dua sisi mata uang yang sering didiskusikan oleh para ahli kesehatan. Di satu sisi, posisi kaki yang menekuk di dalam ayunan Bapukung sebenarnya mendukung posisi M-shape atau posisi katak yang direkomendasikan untuk kesehatan panggul bayi, asalkan kaki tidak dipaksa lurus. Posisi ini dinilai alami dan nyaman bagi bayi baru lahir. Selain itu, gerakan ayunan vertikal (naik-turun) yang lembut akibat pegas atau tali dinilai efektif menstimulasi sistem vestibular anak yang mengatur keseimbangan.
Namun di sisi lain, aspek keselamatan menjadi sorotan utama dalam praktik ini. Risiko terbesar dari Bapukung yang dilakukan tanpa keahlian adalah potensi gangguan pernapasan atau asfiksia posisi. Jika leher bayi tidak ditopang dengan benar, dagu bayi bisa menempel ke dada (chin-to-chest), yang dapat menyempitkan saluran napas. Oleh karena itu, Bapukung tidak bisa dilakukan sembarangan. Tradisi ini membutuhkan keahlian khusus yang biasanya diajarkan oleh nenek atau tetua adat kepada ibu muda. Pemasangan kain penyangga leher adalah prosedur wajib yang tidak boleh ditawar untuk memastikan kepala bayi tetap tengadah dan jalur napas terbuka lebar.
Selain aspek fisik, Bapukung juga sarat akan nilai budaya dan spiritual. Proses menidurkan bayi ini sering kali diiringi dengan lantunan syair-syair, selawat, atau nyanyian nina bobo khas daerah setempat. Momen ini menjadi waktu bonding atau ikatan batin antara ibu dan anak. Suara ibu yang lembut berpadu dengan ayunan yang ritmis menciptakan suasana hipnotik yang menenangkan. Bagi masyarakat Dayak dan Banjar, Bapukung bukan sekadar cara menidurkan anak, melainkan sebuah ritual kasih sayang dan doa agar sang anak tumbuh menjadi pribadi yang tenang dan berbakti.
Di tengah gempuran perlengkapan bayi modern yang canggih dan mahal, Bapukung tetap eksis sebagai identitas kultural masyarakat Kalimantan. Fenomena ini mengajarkan kita bahwa kearifan lokal masa lampau sering kali menyimpan logika biologis yang mendalam. Meskipun demikian, adaptasi terhadap standar keselamatan modern tetap diperlukan. Melestarikan Bapukung berarti juga harus memahami teknik yang aman agar tradisi leluhur ini tetap membawa manfaat kesehatan dan kebahagiaan bagi generasi penerus, tanpa mengurangi esensi kasih sayang yang terkandung di dalamnya.
Next News

Mengenal Air Terjun Tumpak Sewu, Niagara-nya Indonesia
12 hours ago

Kenapa Kota-Kota di Indonesia Punya Julukan Unik? Ternyata Ada Cerita Besar di Baliknya
12 hours ago

Tradisi Unik Balap Sapi di Sigi Sebagai Wujud Syukur Petani Usai Panen Raya
2 days ago

Marine Safari Bali sebagai Pusat Edukasi dan Konservasi Ekosistem Laut
4 days ago

Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
5 days ago

Pantai Selatan Jawa Timur Terkenal Angker, Benarkah Nyi Roro Kidul Masih “Berkuasa”?
5 days ago

Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
5 days ago

Sudah Ada Sejak 1930, Ini Alasan Zangrandi Tak Pernah Sepi di Tengah Tren Gelato
6 days ago

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
6 days ago

Pedasnya Bukan Main! Sego Tempong Banyuwangi Disebut Bisa “Menampar” Lidah
6 days ago





