Ceritra
Ceritra Kota

Pedasnya Bukan Main! Sego Tempong Banyuwangi Disebut Bisa “Menampar” Lidah

Refa - Friday, 09 January 2026 | 01:45 PM

Background
Pedasnya Bukan Main! Sego Tempong Banyuwangi Disebut Bisa “Menampar” Lidah
Sego Tempong (Pinterest/WisataRakyat)

Bagi pecinta kuliner pedas, belum sah rasanya jika belum menjajal Sego Tempong. Hidangan sederhana khas Banyuwangi ini terkenal dengan sambalnya yang "jahat", sanggup membuat siapa saja yang menyantapnya mandi keringat seketika.

Meski lauk-pauknya terlihat sederhana, sensasi pedasnya yang meledak di mulut membuat kuliner ini diburu wisatawan yang berkunjung ke ujung timur Pulau Jawa. Lantas, dari mana asal nama unik ini?

Ditampar Rasa Pedas

Nama "Tempong" bukan sembarang sebutan. Dalam bahasa Osing (suku asli Banyuwangi), kata tempong berarti "tampar".

Filosofinya cukup harfiah, yakni rasa pedas dari sambal ini begitu menyengat hingga orang yang memakannya merasa seperti habis ditampar wajahnya. Sensasi panas, wajah memerah, dan keringat yang bercucuran saat menyantapnya dianggap mirip dengan efek fisik setelah terkena tamparan.

Rahasia Sambal "Dadakan"

Kunci kenikmatan Sego Tempong bukan pada lauknya, melainkan pada sambalnya yang selalu dibuat dadakan (fresh). Sambal ini tidak digoreng, alias mentah.

Ulekan cabai rawit merah, tomat ranti (tomat mawar yang bertekstur keriting), terasi khas Banyuwangi, gula, dan garam dicampur segar sesaat sebelum disajikan. Penggunaan tomat ranti memberikan sensasi rasa asam segar yang unik dan tekstur sambal yang tidak terlalu berair namun tetap "nyemek". Aroma terasi yang kuat berpadu dengan pedasnya cabai rawit menciptakan kombinasi rasa yang bikin ketagihan.

Paket Gizi Lengkap

Satu porsi Sego Tempong biasanya terdiri dari nasi putih hangat, sayuran rebus (seperti bayam, kenikir, dan kubis), tahu, tempe, serta ikan asin goreng tepung. Namun kini, banyak warung yang menawarkan variasi lauk tambahan seperti ayam goreng, empal daging, hingga cumi hitam.

Awalnya, Sego Tempong adalah bekal makan siang bagi para petani yang bekerja di sawah. Porsinya yang besar dan rasanya yang nendang dipercaya ampuh untuk mengembalikan energi setelah lelah bekerja. Kini, hidangan "wong cilik" ini telah naik kelas menjadi ikon wisata kuliner wajib di Jawa Timur.

Logo Radio
🔴 Radio Live