4 Destinasi Kampung Arab di Indonesia yang Wajib Dikunjungi
Refa - Saturday, 21 February 2026 | 05:00 PM


Menelusuri Labirin Kampung Arab: Dari Wangi Oud Hingga Rahasia Kopi Gahwa yang Ramah Lambung
Pernah tidak kalian merasa bosan dengan pemandangan mall yang isinya itu-itu saja? Sesekali, cobalah arahkan kendaraan ke area yang sering disebut Kampung Arab di kota kalian. Entah itu Ampel di Surabaya, Pasar Kliwon di Solo, Pekojan di Jakarta, atau kawasan Al Munawar di Palembang. Begitu masuk ke gerbang kawasannya, atmosfernya langsung berubah drastis. Bukan cuma soal arsitekturnya yang punya ciri khas jendela besar dan tinggi, tapi juga soal aroma yang menguar di udara.
Kalau main ke Kampung Arab, hidung kita biasanya bakal disambut duluan sebelum mata sempat memproses keadaan. Ada perpaduan antara wangi parfum non-alkohol yang tajam, aroma dupa atau oud yang menenangkan, hingga semilir wangi gulai kambing dan kebuli yang bikin perut mendadak konser. Tapi, dari sekian banyak daya tarik estetis dan kuliner berat di sana, ada satu primadona yang sering luput dari perhatian kaum kasual tapi jadi incaran para pencinta "begadang sehat": Kopi Gahwa.
Bagi sebagian besar orang Indonesia, ngopi itu ibarat taruhan. Pilihannya cuma dua: mata melek tapi lambung perih, atau jantung berdebar kencang sampai tangan gemetar. Nah, di sinilah Kopi Gahwa masuk sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Kopi ini unik, beda banget sama espresso atau americano yang hitam pekat dan pahitnya minta ampun.
Vibe Kampung Arab yang Selalu Bikin Rindu
Sebelum kita bedah rahasia kopinya, mari kita bicara soal suasana. Mengunjungi Kampung Arab itu seperti melakukan perjalanan lintas waktu. Di Surabaya, misalnya, kawasan Ampel itu nggak pernah tidur. Di gang-gang sempitnya, kalian bakal berpapasan dengan pria-pria bergamis yang asyik ngobrol sambil memegang tasbih, atau anak-anak kecil yang lincah berlarian di antara toko-toko kurma. Ada rasa kebersamaan yang kental, sesuatu yang mulai hilang di perumahan-perumahan elite zaman sekarang.
Di Solo, Pasar Kliwon punya cerita sendiri. Di sini, interaksi antara warga keturunan Arab dengan budaya Jawa terasa sangat cair. Kalian bisa menemukan orang berbincang dengan logat Medok tapi menggunakan istilah-istilah serapan bahasa Arab yang pas. Inilah kekayaan budaya kita; sebuah peleburan yang nggak cuma terjadi di buku sejarah, tapi nyata di depan mata. Dan biasanya, di sela-sela obrolan sore itu, tersaji sebuah teko kuningan cantik bernama Dallah yang berisi cairan berwarna kuning kecokelatan yang harum.
Gahwa: Kopi yang "Nggak Kayak Kopi"
Kalau kalian pertama kali memesan Gahwa di kedai-kedai otentik Kampung Arab, mungkin kalian bakal bingung. Lho, kok warnanya kayak teh hijau? Kok aromanya lebih mirip jamu daripada kopi? Tenang, kalian nggak salah pesan. Itulah jati diri Gahwa yang sebenarnya.
Berbeda dengan gaya roasting ala Italia yang suka biji kopi sampai gosong (dark roast), Kopi Gahwa menggunakan biji kopi yang hanya disangrai sebentar alias light roast atau bahkan blonde roast. Hasilnya? Kadar kafeinnya tetap tinggi—bikin mata tetap melek maksimal—tapi tingkat keasamannya jauh lebih rendah. Inilah rahasia pertama kenapa kopi ini nggak bikin lambung protes meskipun diminum saat perut belum terisi penuh.
Rahasia Racikan Rempah yang Bikin Perut Adem
Rahasia kedua, dan yang paling krusial, ada pada campurannya. Gahwa bukan sekadar kopi tubruk. Di dalam air rebusannya, ikut cemplung berbagai macam rempah-rempah berkhasiat. Yang paling utama adalah kapulaga (cardamom). Kapulaga ini punya sifat menetralkan efek kafein dan membantu sistem pencernaan. Jadi, kalau biasanya kopi bikin asam lambung naik, kapulaga di dalam Gahwa justru bertindak sebagai penenang.
Selain kapulaga, biasanya ditambahkan juga cengkeh, kayu manis, hingga saffron bagi yang ingin versi mewahnya. Saffron ini yang bikin warna kopinya jadi kuning keemasan cantik. Ada juga yang menambahkan sedikit jahe biar badan terasa hangat. Bayangkan, dalam satu cangkir kecil, kalian mendapatkan manfaat antioksidan kopi sekaligus khasiat jamu. Sebuah "lifehack" kuno yang sebenarnya jauh lebih sehat daripada minuman berenergi kemasan di minimarket.
Cara Minum yang Ada Aturannya
Menikmati Gahwa di Kampung Arab juga ada seninya. Jangan harap kalian bakal dikasih mug besar ukuran 500ml. Gahwa disajikan dalam cangkir kecil tanpa gagang yang disebut Finjan. Porsinya sedikit-sedikit, tapi berkali-kali. Filosofinya adalah penghormatan dan keramah-tamahan. Selama kalian nggak menggoyang-goyangkan cangkir saat mengembalikannya ke tuan rumah, mereka bakal terus menuangkan kopi itu ke cangkir kalian.
Dan satu lagi: Gahwa hampir tidak pernah diminum pakai gula pasir. "Lho, pahit dong?" Ya memang, tapi itulah gunanya kurma. Pendamping wajib minum Gahwa adalah kurma yang manis legit atau kacang-kacangan. Jadi caranya: makan satu gigit kurma, lalu seruput kopinya. Rasa pahit-pedas rempah dari kopi bakal bertemu dengan manis alaminya kurma. Rasanya? Wah, itu ledakan rasa di mulut yang nggak bisa dijelaskan kalau belum coba sendiri.
Kenapa Harus Coba Sekarang?
Di tengah gempuran tren kopi susu kekinian yang penuh gula dan krimer, kembali ke akar seperti Kopi Gahwa ini rasanya seperti sebuah detoks. Selain lebih sehat, mengunjungi Kampung Arab memberikan kita perspektif baru tentang keberagaman. Kita belajar bahwa kopi bukan sekadar soal kafein, tapi soal bagaimana cara kita menyambut tamu dan menghargai warisan nenek moyang.
Jadi, kalau akhir pekan ini kalian nggak punya rencana, coba cek peta dan cari di mana Kampung Arab terdekat. Parkirkan kendaraan, jalan kaki masuk ke lorong-lorongnya, cari kedai kopi yang paling ramai bapak-bapaknya, dan pesanlah satu teko Gahwa. Rasakan sensasi mata melek tanpa drama perut melilit, sambil menikmati sore yang lambat di tengah hiruk-pikuk budaya yang masih terjaga. Percayalah, ini adalah jenis healing yang jauh lebih berkesan daripada sekadar nongkrong di kafe estetik yang menunya itu-itu lagi.
Jangan lupa bawa pulang beberapa bungkus kopi racikan dan kapulaga buat stok di rumah. Siapa tahu, kalian butuh amunisi buat lembur tapi tetap ingin sayang sama lambung sendiri. Salam seruput!
Next News

Pesona Wisata Pacitan Surga Karst dan Pantai Eksotis
a day ago

Mie Kering Singkawang, Ikon Kuliner yang Tak Terlupakan
3 days ago

Mengenal Tenun Ikat Sikka, Kain Tradisional NTT yang Mendunia
3 days ago

Menjelajah Pangkalpinang Lewat Kelezatan Otak-otak Bangka
4 days ago

Menjelajah Ternate Dari Jejak Portugis di Benteng Tolukko hingga Lanskap Ikonik Danau Ngade
5 days ago

Panduan Lengkap Wisata Bernostalgia di Museum Angkut Malang
5 days ago

Mengintip Keindahan Bawah Laut Kaki Gunung Api Banda
6 days ago

Jangan Mati Sebelum ke Banda Neira! Tempat yang Menjadi Saksi Bisu Ambisi VOC
6 days ago

Berburu 4 Gudeg Legendaris di Yogyakarta
8 days ago

6 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Wajib Masuk Bagasi Kamu
9 days ago






