Mie Kering Singkawang, Ikon Kuliner yang Tak Terlupakan
Refa - Thursday, 19 February 2026 | 11:00 AM


Menyingkap Tabir Kenikmatan Mie Kering Singkawang: Tekstur Lembut yang Bikin Susah Move On
Kalau kita bicara soal Singkawang, ingatan kita pasti langsung melayang ke kemeriahan Festival Cap Go Meh atau deretan kelenteng megah yang menghiasi sudut kota. Tapi jujurly, ada satu hal yang selalu sukses bikin kangen dan pengen balik lagi ke kota ini: kulinernya. Dan di puncak kasta kuliner Singkawang, selain choi pan yang legendaris itu, ada satu menu yang diam-diam punya basis penggemar fanatik, yaitu Mie Kering Singkawang.
Mungkin buat sebagian orang luar Kalimantan, mie kering terdengar biasa saja. Paling cuma mie yang dikasih bumbu tanpa kuah, kan? Eits, jangan salah. Mie Kering Singkawang itu beda level. Teksturnya itu, lho, punya rahasia yang bikin dia bisa kenyal sekaligus lembut saat menyentuh lidah. Nggak ada ceritanya mie ini terasa "tepung banget" atau lembek kayak mie instan yang kelamaan direbus. Ini adalah hasil dari dedikasi turun-temurun yang sudah mendarah daging di dapur-dapur warga Singkawang.
Kenapa Mie Singkawang Begitu Spesial?
Sebenarnya, apa sih rahasia di balik tekstur mie yang begitu ikonik ini? Kalau kalian tanya ke para pedagang senior di pasar-pasar Singkawang, mereka mungkin cuma bakal senyum tipis. Tapi kalau kita telusuri lebih dalam, kuncinya ada pada penggunaan air abu dan takaran telur yang nggak pelit. Air abu bukan cuma soal pengawet alami, tapi dialah aktor utama yang memberikan efek membal alias kenyal pada mie. Tanpa air abu yang pas, mie cuma bakal jadi adonan tepung yang membosankan.
Selain itu, proses pembuatannya masih banyak yang menggunakan teknik manual atau semi-tradisional. Ada sebuah "jiwa" yang masuk saat adonan diuleni dengan sepenuh hati. Di Singkawang, mie dibuat segar setiap hari. Nggak ada tuh ceritanya mie stok lama yang disimpan berhari-hari di kulkas. Kesegaran inilah yang menjaga aroma gandum dan telurnya tetap dominan. Ditambah lagi, ukuran mienya biasanya lebih tipis dan kecil dibandingkan bakmi gaya Jakarta atau mie ayam Jawa. Bentuk yang kecil inilah yang bikin bumbu-bumbu rahasianya meresap sampai ke serat terdalam.
Rahasia Bumbu yang Mengguncang Lidah
Mie yang enak belum lengkap tanpa "partner in crime" alias bumbunya. Yang unik dari Mie Kering Singkawang adalah penggunaan minyak bawang putih yang berlimpah. Baunya saja sudah bisa bikin tetangga sebelah lirik-lirik. Selain itu, ada satu bahan rahasia yang mungkin bagi sebagian orang terdengar tabu tapi bagi penikmatnya adalah kunci surga dunia: minyak babi atau lard. Minyak ini memberikan rasa gurih yang mendalam dan tekstur yang licin tapi nggak bikin enek.
Tapi tenang, buat teman-teman yang mencari versi halal, minyak ayam yang dicampur dengan bawang putih goreng yang melimpah juga bisa memberikan sensasi yang mirip-mirip, kok. Jangan lupa juga sentuhan cuka khas Singkawang yang punya aroma sedikit tajam tapi segar. Perpaduan gurih, sedikit asam dari cuka, dan manis dari topping daging itulah yang bikin Mie Kering Singkawang punya profil rasa yang sangat kompleks tapi tetap nyaman di perut.
Bikin Sendiri di Rumah: Misi yang Mungkin Terwujud
Nah, buat kalian yang lagi ngidam berat tapi tiket pesawat ke Kalimantan Barat lagi selangit, jangan sedih. Kita bisa mencoba mereplikasi keajaiban ini di dapur sendiri. Walaupun mungkin vibes-nya nggak se-otentik makan di pinggir jalan Kota Singkawang, setidaknya ini bisa mengobati rindu. Berikut adalah langkah-langkah simpel buat bikin mie kering ala Singkawang dengan sentuhan rumahan yang tetap ciamik.
Pertama, siapkan mie telur berkualitas tinggi. Kalau bisa, cari mie yang jenisnya "mie kecil" atau mie keriting tipis. Rebus mie dalam air mendidih yang sudah diberi sedikit minyak supaya nggak lengket. Ingat, kuncinya adalah jangan kelamaan! Cukup 30 sampai 45 detik saja. Mie harus diangkat saat kondisinya masih "al dente" atau punya sedikit perlawanan saat digigit. Segera bilas dengan air dingin untuk menghentikan proses memasak, lalu tiriskan sampai benar-benar kering.
Kedua, racik bumbu dasarnya di dalam mangkuk. Masukkan dua sendok makan minyak bawang putih (cara bikinnya gampang: goreng bawang putih cincang dengan minyak banyak sampai kecokelatan), satu sendok teh kecap asin kualitas premium, sedikit merica, dan sejumput penyedap rasa kalau kalian memang tim MSG (nggak apa-apa, kok, biar makin sedap). Aduk rata mie ke dalam bumbu ini sampai setiap helainya terlumuri dengan sempurna.
Ketiga, siapkan topping. Mie Kering Singkawang biasanya ditemani oleh irisan daging (bisa ayam atau char siu), kekian, udang rebus, dan yang paling wajib: taburan daun bawang serta bawang goreng yang melimpah. Kalau mau lebih pro, tambahkan satu mangkuk kecil kuah kaldu di sampingnya yang berisi bakso ikan atau pangsit rebus. Voila! Mie Kering legendaris siap kalian santap sambil membayangkan angin sepoi-sepoi di Singkawang.
Mie Kering sebagai Simbol Akulturasi
Lebih dari sekadar makanan, Mie Kering Singkawang adalah simbol bagaimana budaya Tionghoa dan lokal berpadu dengan sangat apik. Kuliner ini menunjukkan betapa kayanya khazanah masakan nusantara yang nggak pernah habis buat dijelajahi. Ada rasa bangga tersendiri saat kita bisa menikmati semangkuk mie yang resepnya sudah bertahan selama puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun.
Melihat anak-anak muda zaman sekarang masih antre di kedai-kedai mie tua di Singkawang membuktikan bahwa makanan tradisional nggak pernah kehilangan taringnya di tengah gempuran tren makanan kekinian yang serba keju atau pedas level setan. Mie Kering Singkawang tetap punya tempat spesial di hati karena ia menawarkan sesuatu yang jujur: rasa yang tulus dan tekstur yang bikin ketagihan.
Jadi, kapan terakhir kali kalian memanjakan lidah dengan sesuatu yang benar-benar otentik? Kalau belum sempat ke Singkawang, mulailah dengan mencoba resep di atas atau cari kedai mie Singkawang terdekat di kota kalian. Percayalah, satu suapan saja bakal cukup buat bikin kalian paham kenapa mie ini disebut legendaris. Selamat berburu kuliner dan jangan lupa siapkan perut yang kosong karena sekali makan mie ini, nambah satu porsi saja rasanya nggak akan cukup!
Next News

Mengenal Tenun Ikat Sikka, Kain Tradisional NTT yang Mendunia
a day ago

Menjelajah Pangkalpinang Lewat Kelezatan Otak-otak Bangka
2 days ago

Menjelajah Ternate Dari Jejak Portugis di Benteng Tolukko hingga Lanskap Ikonik Danau Ngade
3 days ago

Panduan Lengkap Wisata Bernostalgia di Museum Angkut Malang
3 days ago

Mengintip Keindahan Bawah Laut Kaki Gunung Api Banda
4 days ago

Jangan Mati Sebelum ke Banda Neira! Tempat yang Menjadi Saksi Bisu Ambisi VOC
4 days ago

Berburu 4 Gudeg Legendaris di Yogyakarta
6 days ago

6 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Wajib Masuk Bagasi Kamu
7 days ago

Rekomendasi Makan Malam Otentik di Simpang Lima Semarang bagi Pecinta Kuliner
6 days ago

Jangan Salah Pilih Jalur! Inilah Perbedaan Medan Sembalun dan Senaru Gunung Rinjani
6 days ago






