Dekat Tugu Pahlawan, Ada Kampung yang Bikin Surabaya Terasa Tahun 1900-an
Refa - Saturday, 10 January 2026 | 11:00 AM


Di tengah kepungan gedung-gedung pencakar langit dan hiruk-pikuk lalu lintas Jalan Bubutan yang tak pernah tidur, terdapat sebuah lorong waktu yang tersembunyi. Hanya berjarak selemparan batu dari Tugu Pahlawan, masuk ke area ini rasanya seperti mundur ke era 1900-an.
Tempat itu bernama Kampung Lawas Maspati.
Berbeda dengan museum yang kaku dan sunyi, Maspati adalah museum hidup. Di sini, sejarah bukan hanya dipajang di etalase, tetapi ditinggali, dirawat, dan berdenyut bersama aktivitas warga sehari-hari.
Jejak "Kraton" di Tengah Kota
Nama "Maspati" sendiri konon berasal dari kata "Patih". Dahulu, kawasan ini dipercaya sebagai tempat tinggal para patih atau pejabat tinggi Keraton Surabaya. Sisa-sisa kejayaan masa lalu itu masih terekam jelas dari arsitektur bangunan yang berdiri kokoh di sepanjang gang selebar tiga meter tersebut.
Pengunjung bisa menemukan bangunan bekas Sekolah Ongko Loro (sekolah rakyat zaman Belanda) yang dibangun tahun 1907 dan masih beroperasi hingga kini. Ada pula rumah-rumah tua berasitektur Indische Empire dengan jendela lebar dan langit-langit tinggi yang masih dihuni oleh keturunan asli pemiliknya.
Aturan Unik Motor Wajib Dituntun
Salah satu hal yang membuat Maspati unik adalah keteguhan warganya menjaga etika sosial. Di era modern yang serba cepat, kampung ini menerapkan aturan "Sopan Santun" yang ketat.
Siapa pun yang memasuki gang utama dengan sepeda motor, wajib mematikan mesin dan menuntun kendaraannya. Aturan ini bukan sekadar untuk mengurangi polusi suara, melainkan simbol penghormatan kepada sesama warga dan menjaga suasana kampung agar tetap tenang dan ramah bagi pejalan kaki.
Tradisi srawung (berkumpul dan mengobrol) di teras rumah juga masih sangat kental. Pagar-pagar rumah sengaja dibuat rendah atau bahkan tanpa pagar, menyimbolkan keterbukaan dan rasa aman antar-tetangga yang sudah seperti keluarga sendiri.
Oase Ekonomi Kreatif
Kampung Lawas Maspati membuktikan bahwa melestarikan sejarah bisa berjalan beriringan dengan ekonomi. Warga setempat tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku aktif pariwisata.
Ibu-ibu di kampung ini mengolah tanaman toga (tanaman obat keluarga) yang ditanam di depan rumah menjadi minuman herbal kemasan, seperti sinom dan markisa, yang dijual sebagai oleh-oleh. Mereka juga menjadi pemandu wisata lokal yang fasih menceritakan sejarah setiap sudut kampung kepada turis asing maupun domestik.
Melawan Kepunahan
Di saat banyak kampung tua di kota besar tergusur oleh pembangunan apartemen dan mal, Maspati justru bersinar. Kampung ini berhasil mengubah citra kampung kota yang biasanya kumuh menjadi destinasi wisata edukasi yang bersih, hijau, dan instagramable.
Eksistensi Kampung Lawas Maspati menjadi pengingat penting bagi Surabaya: bahwa semaju apa pun sebuah kota, identitas dan jiwanya tetap berada di dalam gang-gang kecil tempat warganya saling menyapa.
Next News

Kota Masa Depan Akan Seperti Apa? Melihat Inovasi yang Mulai Terjadi Sekarang Hingga Beberapa Dekade Mendatang
9 days ago

Revitalisasi Kawasan Lama: Mengapa Bangunan Tua Kini Kembali Dihidupkan?
9 days ago

Kota 24 Jam: Mengapa Beberapa Kota Tidak Pernah Benar-Benar Tidur?
9 days ago

Bagaimana Sebuah Kawasan Bisa Berubah Menjadi Pusat Bisnis?
10 days ago

Gedung Pencakar Langit: Mengapa Kota-Kota Besar Terus Membangun ke Atas?
10 days ago

Smart City Bukan Sekadar Kota Canggih, Apa Bedanya dengan Kota Biasa?
10 days ago

Kota Satelit Semakin Bermunculan, Benarkah Jadi Solusi Kemacetan dan Kepadatan?
10 days ago

Kenapa Semakin Banyak Orang Memilih Tinggal di Kota? Fenomena Urbanisasi yang Terus Terjadi
10 days ago

Mengapa Kota Terus Berkembang? Memahami Perubahan Wajah Perkotaan dari Masa ke Masa
10 days ago

Menanti Langit Bersih: Kapan Kekusutan Kabel di Langit Kota Hilang?
16 days ago

