Ceritra
Ceritra Kota

Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami

Refa - Friday, 09 January 2026 | 02:15 PM

Background
Pendatang Wajib Tahu! Ini Sebabnya Gaya Bicara Orang Surabaya Sering Disalahpahami
Ilustrasi orang sedang berbincang (Pinterest/psycatgames)

Bagi pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya, gaya bicara penduduk lokal mungkin terasa mengejutkan. Nada suara yang tinggi, intonasi yang tegas, dan pilihan kata yang terdengar kasar sering kali disalahartikan sebagai kemarahan.

Padahal, karakter blak-blakan atau ceplas-ceplos ini adalah identitas asli Arek Suroboyo. Di balik nada bicara yang keras, terdapat kehangatan dan kejujuran yang justru menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

Para budayawan dan sosiolog melihat fenomena ini bukan sebagai bentuk ketidaksopanan, melainkan hasil dari pembentukan sejarah dan geografis kota. Berikut adalah alasan mengapa orang Surabaya punya karakter yang sangat terbuka dan "gas pol".

Kultur Masyarakat Pesisir yang Egaliter

Berbeda dengan wilayah Jawa bagian tengah (seperti Yogyakarta dan Solo) yang kental dengan budaya keraton dan hierarki feodal yang halus, Surabaya adalah kota pelabuhan.

Sebagai kota dagang dan maritim, masyarakat Surabaya terbiasa berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang tanpa memandang kasta. Kultur pesisir membentuk karakter masyarakat yang egaliter atau setara.

Dalam pergaulan sehari-hari, tidak ada sekat tebal antara atasan dan bawahan atau tua dan muda. Keterbukaan ini membuat orang Surabaya terbiasa menyampaikan pendapat secara langsung (to the point) tanpa perlu memutar-mutar kata atau menggunakan sindiran halus (pasemon) yang biasa ditemui di budaya pedalaman Jawa.

Lingkungan yang Keras dan Panas

Kondisi geografis turut membentuk karakter suara. Hidup di daerah pesisir yang panas dengan deru ombak dan hiruk-pikuk pelabuhan membuat orang harus berbicara dengan volume keras agar terdengar.

Kebiasaan berteriak untuk mengalahkan suara angin laut dan keramaian pasar pelabuhan ini terbawa hingga ke percakapan sehari-hari. Jadi, ketika orang Surabaya berbicara dengan nada tinggi, itu bukan berarti sedang membentak, melainkan cara komunikasi yang sudah mendarah daging secara turun-temurun.

Bahasa Simbol Keakraban

Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah penggunaan bahasa Jawa dialek Suroboyoan yang terdengar kasar di telinga orang luar. Kata-kata umpatan khas (seperti "Jancuk") di Surabaya mengalami pergeseran makna yang unik.

Bagi Arek Suroboyo, kata-kata tersebut tidak selalu bermakna makian amarah. Justru di kalangan teman dekat, umpatan berfungsi sebagai "tanda baca" keakraban. Semakin kasar bahasanya, biasanya semakin dekat hubungan persahabatannya.

Prinsipnya, orang Surabaya justru akan berbicara sangat sopan, kaku, dan formal kepada orang yang belum dikenal atau tidak disukai. Jika mereka sudah mulai blak-blakan dan mengeluarkan kata-kata khasnya, itu tandanya lawan bicara sudah dianggap sebagai bagian dari lingkaran pertemanan.

Ekspresi Kejujuran Tanpa Topeng

Karakter blak-blakan ini juga mencerminkan mentalitas "apa adanya". Orang Surabaya cenderung tidak suka kepalsuan atau basa-basi yang berlebihan.

Jika suka, mereka akan bilang suka. Jika tidak setuju, mereka akan langsung mengatakannya di depan, bukan membicarakannya di belakang. Sikap sportif dan terbuka ini membuat interaksi sosial di Surabaya terasa lebih lugas dan efisien, meskipun kadang butuh mental kuat bagi mereka yang belum terbiasa.

Logo Radio
🔴 Radio Live