Sering Dikira Ritual Mistis, Ini Makna Sebenarnya Larung Sesaji di Jawa Timur
Refa - Saturday, 10 January 2026 | 10:00 AM


Pemandangan tumpeng raksasa diarak keliling desa, dihiasi hasil bumi, lalu dilarung (dihanyutkan) ke tengah laut atau danau adalah hal yang lumrah ditemui di berbagai wilayah Jawa Timur. Mulai dari Telaga Sarangan di Magetan, Pantai Tambakrejo di Blitar, hingga Pantai Prigi di Trenggalek.
Bagi sebagian orang awam, tradisi Larung Sesaji mungkin hanya terlihat sebagai ritual mistis yang kental dengan aroma kemenyan dan kepercayaan kuno. Namun, jika ditelisik lebih dalam, tradisi ini menyimpan filosofi luhur tentang hubungan manusia, alam, dan Penciptanya.
Berikut adalah makna-makna penting yang tersembunyi di balik perayaan Larung Sesaji.
Simbol Rasa Syukur (Sedekah Alam)
Inti utama dari Larung Sesaji adalah ungkapan terima kasih. Bagi masyarakat agraris dan nelayan, alam adalah sumber kehidupan yang diberikan oleh Tuhan.
Ketika nelayan mendapatkan tangkapan ikan yang melimpah atau petani menikmati panen raya, mereka mewujudkan rasa syukur tersebut dengan "mengembalikan" sebagian rezeki ke alam. Dalam tradisi masyarakat pesisir, hal ini sering disebut sebagai Petik Laut. Sesaji yang dilarung biasanya berisi kepala kerbau/kambing, jajanan pasar, dan hasil tani adalah simbol sedekah bumi agar keberkahan terus mengalir.
Harmonisasi Manusia dengan Alam
Secara ekologis, tradisi ini mengajarkan manusia untuk tidak serakah. Manusia mengambil sumber daya dari laut dan tanah, sehingga manusia juga harus memberi penghormatan dan menjaga kelestarian sumber tersebut.
Ritual ini menjadi pengingat tahunan bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam. Dengan menghormati laut atau danau melalui upacara adat, masyarakat secara tidak langsung diajak untuk menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem tempat mereka mencari nafkah, bukan merusaknya.
Doa Tolak Bala
Selain wujud syukur, Larung Sesaji juga memuat harapan dan doa keselamatan. Masyarakat Jawa menyebutnya sebagai upaya Tolak Bala (menolak bencana).
Para nelayan berdoa agar diberi keselamatan saat melaut, dijauhkan dari ombak ganas, dan badai. Sementara bagi masyarakat pegunungan, ritual ini adalah permohonan agar terhindar dari bencana longsor, gagal panen, atau wabah penyakit. Doa-doa ini dipanjatkan bersama-sama oleh sesepuh desa dan diamini oleh seluruh warga.
Perekat Sosial (Gotong Royong)
Di luar aspek spiritual, Larung Sesaji memiliki fungsi sosial yang kuat. Prosesi ini tidak bisa dilakukan sendirian. Seluruh warga desa bahu-membahu menyiapkan ubarampe (perlengkapan), membuat tumpeng raksasa, hingga mengaraknya ke lokasi pelarungan.
Momen ini menjadi ajang silaturahmi dan gotong royong yang mempererat ikatan persaudaraan antarwarga. Setelah prosesi inti selesai, acara biasanya dilanjutkan dengan makan bersama (kembul bujana) dan hiburan rakyat seperti wayang kulit atau jaranan, yang menjadi hiburan gratis bagi masyarakat.
Next News

Menolak Lupa di Jembatan Merah: Tempat Merdeka Dipertaruhkan dengan Nyawa
3 days ago

Rekomendasi Restoran Fine Dining di Surabaya untuk Pengalaman Kuliner Berkelas
4 days ago

Throwback Ke Citayam Fashion Week di 2022
3 days ago

Bukan Sekadar Panas dan Kemacetan, Intip Lima Cara Menikmati Kota Surabaya
7 days ago

Menemukan Nyawa Flores di Tengah Kabut, Kopi, dan Tradisi Megalitikum Bajawa
7 days ago

Sidoarjo Pride! Melipir Sejenak dari Macetnya Gedangan Demi Surga Kuliner yang Gak Ada Lawan
7 days ago

Bosan Jadi Budak Korporat Metropolitan? Intip Kota-Kota Ramah Kantong yang Cocok buat "Kabur" Sejenak
9 days ago

Kesempatan Emas! Pemutihan Pajak Kendaraan April 2026 Kembali Dibuka, Cek Lokasi Terdekat
10 days ago

Polri Tegaskan Rekrutmen Akpol 2026 Bersih: "Jangan Percaya Jalur Belakang!"
10 days ago

Menikmati Sisi Lain Surabaya yang Religius di Momen Lebaran
a month ago





