Ceritra
Ceritra Kota

Mengenal Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi

Refa - Wednesday, 10 December 2025 | 07:00 PM

Background
Mengenal Festival Gandrung Sewu, Banyuwangi
Tari Gandrung Sewu (Pinterest/)

Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya keemasan di permukaan Selat Bali yang tenang. Namun, ketenangan di Pantai Marina Boom sore itu pecah oleh gemuruh suara gamelan Osing yang khas. Ribuan penari dengan busana merah menyala memenuhi hamparan pasir, menciptakan lautan manusia yang bergerak serempak dalam satu irama magis.


Inilah Festival Gandrung Sewu, sebuah perhelatan budaya kolosal yang telah mengubah wajah pariwisata Banyuwangi dari sekadar kota transit menjadi destinasi kelas dunia. Bukan hanya soal jumlah penari yang ribuan, festival ini adalah manifestasi kebanggaan masyarakat Blambangan terhadap identitas leluhur mereka.


Transformasi dari Mistis Menjadi Estetis

Jauh sebelum menjadi tontonan megah yang diburu fotografer internasional, Tari Gandrung memiliki sejarah panjang dan kompleks. Dulu, kesenian ini sering dikaitkan dengan hal-hal berbau mistis dan stigma negatif. Namun, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi berhasil melakukan "rebranding" budaya yang luar biasa cerdas.


Lewat Gandrung Sewu, tarian yang dulunya hanya dinikmati di kalangan terbatas kini diangkat ke panggung raksasa alam terbuka. Ribuan anak muda, mulai dari tingkat SD hingga SMA, berebut mengikuti seleksi ketat untuk bisa tampil di sini. Menjadi bagian dari penari Gandrung Sewu kini adalah prestise tersendiri bagi generasi muda Banyuwangi. Stigma lama terkikis, berganti menjadi simbol kehormatan dan keindahan seni yang agung.


Perjuangan di Balik Kemegahan

Keindahan visual yang tersaji di Pantai Boom bukanlah hasil kerja semalam. Para peserta harus melewati proses latihan fisik yang menguras tenaga selama berbulan-bulan. Menari di atas pasir pantai jauh lebih berat dibandingkan di lantai keramik. Kaki para penari harus kuat menahan beban tubuh sekaligus menjaga keseimbangan agar formasi barisan tetap rapi.


Belum lagi beratnya kostum lengkap dengan omprog (mahkota kepala) yang ikonik, serta kipas tangan yang harus dikibaskan dengan tenaga penuh. Namun, rasa lelah itu seolah sirna ketika ribuan kipas berbunyi "krak" secara bersamaan, menciptakan efek suara yang membuat bulu kuduk penonton merinding.


Harmoni Alam dan Manusia

Daya tarik utama Gandrung Sewu terletak pada panggungnya yang tidak biasa. Tidak ada gedung pertunjukan yang membatasi. Langit adalah atapnya, dan laut adalah latar belakangnya. Ketika para penari mulai menggerakkan selendang merah mereka, seolah-olah ombak di belakangnya ikut menari.

Momen paling dinanti adalah saat formasi penari membentuk berbagai konfigurasi rumit yang jika dilihat dari udara (drone) membentuk simbol-simbol filosofis, seperti Bunga Teratai atau Kipas Gandrung. Penonton diajak masuk ke dalam narasi teatrikal yang biasanya mengangkat tema perjuangan rakyat Blambangan melawan penjajah, mengingatkan bahwa Gandrung pada awalnya adalah siasat perjuangan.


Magnet Wisata Jawa Timur

Keberhasilan Gandrung Sewu membuktikan bahwa budaya tradisional bisa dikemas secara modern tanpa kehilangan roh aslinya. Festival ini kini masuk dalam kalender event nasional yang paling dinanti, mendatangkan ribuan wisatawan domestik dan mancanegara yang memadati hotel dan penginapan di seluruh penjuru kota.


Bagi siapa pun yang pernah menyaksikannya secara langsung, Gandrung Sewu bukan sekadar tarian massal. Ia adalah bukti bahwa di ujung timur Pulau Jawa, ada semangat pelestarian budaya yang menyala sama terangnya dengan warna merah kostum para penarinya.

Logo Radio
🔴 Radio Live