Kebiasaan Digital yang Perlahan Membunuh Fokus Kita
Nisrina - Saturday, 03 January 2026 | 02:15 PM


Di era informasi yang melimpah ruah ini, fokus menjadi komoditas yang paling langka dan mahal. Tanpa kita sadari, kebiasaan digital kita sehari-hari telah menggerogoti kemampuan otak untuk berkonsentrasi dalam jangka waktu lama. Kita terbiasa dengan stimulasi instan dari notifikasi ponsel, video pendek berdurasi 15 detik, dan aliran informasi yang tak ada habisnya di lini masa. Otak kita dilatih untuk melompat dari satu hal ke hal lain dalam hitungan detik, menciptakan pola pikir yang dangkal dan terfragmentasi.
Salah satu musuh terbesar fokus adalah mitos multitasking. Kita sering merasa produktif saat membalas chat, mengerjakan laporan, dan mendengarkan podcast secara bersamaan. Padahal, secara neurologis, otak kita tidak bisa melakukan dua tugas kognitif berat sekaligus. Yang terjadi sebenarnya adalah task-switching atau perpindahan tugas yang sangat cepat. Setiap kali kita berpindah fokus, ada biaya kognitif yang harus dibayar. Akibatnya, pekerjaan selesai lebih lama dengan kualitas yang lebih rendah, dan otak menjadi jauh lebih cepat lelah.
Kebiasaan scrolling tanpa tujuan atau doomscrolling juga menjadi racun bagi dopamin otak. Setiap konten baru memberikan suntikan dopamin kecil yang membuat kita ketagihan. Kita menjadi tidak tahan dengan kebosanan. Padahal, kebosanan adalah ruang di mana kreativitas dan pemikiran mendalam lahir. Ketika kita selalu mengisi setiap detik jeda dengan melihat layar, kita kehilangan kemampuan untuk merenung dan memproses informasi secara mendalam. Kita menjadi konsumen pasif yang hanya menelan informasi tanpa sempat mencernanya.
Dampak jangka panjangnya adalah hilangnya kemampuan untuk melakukan deep work atau kerja mendalam. Kita menjadi sulit membaca buku tebal, sulit menulis esai panjang, atau sulit menyelesaikan masalah kompleks yang butuh ketekunan. Rentang perhatian atau attention span manusia modern dilaporkan terus menurun, bahkan kini bersaing dengan rentang perhatian ikan mas koki. Ini adalah alarm bahaya bagi produktivitas dan kualitas intelektual kita sebagai manusia.
Untuk merebut kembali kendali atas fokus kita, diperlukan detoks digital yang disengaja. Mulailah dengan menetapkan batas waktu layar, mematikan notifikasi yang tidak penting, dan melatih diri untuk melakukan satu hal dalam satu waktu ( monotasking ). Belajarlah untuk nyaman dengan keheningan tanpa gawai. Melatih otot fokus sama seperti melatih otot tubuh; ia butuh latihan rutin dan disiplin. Jangan biarkan algoritma media sosial mendikte ke mana perhatianmu harus tertuju.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 4 hours

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 3 hours

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 3 hours

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
in 3 hours

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
in 2 hours

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
in 2 hours

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
in an hour

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
in 3 hours

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
in 30 minutes

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
a few seconds ago






