Ceritra
Ceritra Warga

Brand yang Terlalu Sok Relatable: Ketika Usaha Keras Malah Bikin Ilfeel

Nisrina - Thursday, 01 January 2026 | 11:15 AM

Background
Brand yang Terlalu Sok Relatable: Ketika Usaha Keras Malah Bikin Ilfeel
Ilustrasi sebuah brand yang erlalu berusaha untuk tampil relatable (Freepik/)

Media sosial telah mengubah cara jenama berkomunikasi. Dulu jenama tampil formal, kaku, dan berjarak. Sekarang tren bergeser ke arah yang lebih santai, kasual, dan mencoba menjadi teman bagi audiensnya. Namun dalam upaya mengejar status "kekinian" ini, banyak jenama terjebak menjadi cringe atau memalukan karena terlalu memaksakan diri untuk terlihat relatable atau relevan. Fenomena ini sering diibaratkan dengan meme bapak-bapak yang memakai topi terbalik dan berkata "How do you do, fellow kids?" di tengah kumpulan remaja.

Masalah utama dari jenama yang sok asik ini adalah ketidakaslian atau inautentisitas. Bayangkan sebuah bank korporat yang citranya serius dan amanah tiba-tiba menggunakan bahasa gaul Gen Z seperti "jujurly", "menyala abangkuh", atau "skena" di konten mereka secara berlebihan. Terjadi disonansi atau ketidakcocokan kognitif di otak audiens. Bukannya merasa dekat, audiens justru merasa aneh dan kehilangan kepercayaan. Penggunaan slang yang dipaksakan sering kali terdengar sumbang dan menunjukkan keputusasaan jenama untuk mendapatkan perhatian.

Selain itu, upaya menjadi relatable sering kali melanggar batasan nada suara jenama atau brand voice. Admin media sosial sering kali diberi kebebasan untuk "me-roasting" pengikut atau ikut campur dalam tren viral yang sebenarnya tidak relevan dengan produk mereka. Hal ini mungkin mendatangkan likes dan komentar sesaat, tapi apakah itu membangun citra positif jangka panjang? Sering kali tidak. Jenama bisa dianggap tidak profesional, kasar, atau tidak peka terhadap situasi.

Menjadi relevan bukan berarti harus meniru cara bicara remaja TikTok. Relevan berarti memahami masalah dan kebutuhan audiensmu, lalu hadir dengan bahasa yang sesuai dengan identitasmu sendiri. Jenama asuransi bisa tetap relevan dengan membahas kecemasan finansial anak muda tanpa harus berjoget-joget kaku. Jenama fashion mewah bisa tetap relevan dengan nilai estetika tanpa harus ikut-ikutan meme receh yang merusak citra eksklusif mereka.

Kunci utamanya adalah kesadaran diri. Kenali siapa jenamamu, apa nilainya, dan siapa audiensmu. Audiens bisa mencium kepalsuan dari jarak jauh. Mereka lebih menghargai jenama yang tampil apa adanya, sopan, dan membantu, daripada jenama yang berusaha terlalu keras untuk menjadi teman tongkrongan padahal aslinya adalah korporasi pencari laba. Jadilah manusiawi, tapi jangan berpura-pura menjadi manusia yang bukan dirimu.

Logo Radio
🔴 Radio Live