Yuk Normalisasi Tidak Menyebut Menstruasi dengan Istilah 'Lagi Dapet'
Nisrina - Monday, 19 January 2026 | 12:45 PM


Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana suara seorang perempuan tiba-tiba merendah, nyaris berbisik, saat ia hendak meminjam pembalut kepada temannya? Atau bagaimana kasir minimarket dengan sigap membungkus produk sanitasi perempuan menggunakan kantong plastik hitam tebal, seolah barang tersebut adalah materi radioaktif yang berbahaya jika terlihat mata telanjang? Fenomena ini adalah potret nyata dari bagaimana masyarakat kita memperlakukan menstruasi. Sejak kecil, anak perempuan diajarkan sebuah kamus eufemisme atau kata pengganti yang luas untuk menghindari kata "menstruasi". Kita lebih fasih menyebutnya dengan "lagi dapet", "datang bulan", "tamu bulanan", "halangan", "palang merah", atau sekadar "M". Tanpa sadar, kebiasaan berbahasa ini menanamkan pesan bawah sadar yang kuat bahwa menstruasi adalah sesuatu yang kasar, kotor, dan harus disembunyikan.
Penggunaan kata ganti yang halus ini sebenarnya adalah bentuk pengasingan verbal. Ketika kita menolak menyebut nama asli dari sebuah proses biologis, kita sedang menciptakan jarak dan rasa malu. Istilah "halangan" misalnya, secara harfiah memiliki konotasi negatif sebagai sesuatu yang merintangi atau menyusahkan. Padahal, menstruasi adalah tanda vital kesehatan reproduksi perempuan, bukti bahwa tubuh bekerja sebagaimana mestinya. Dengan melabelinya sebagai "halangan" atau "kotoran", kita mengonstruksi tubuh perempuan sebagai sumber masalah, bukan sebagai entitas biologis yang bermartabat. Akibatnya, jutaan perempuan tumbuh dengan perasaan jijik terhadap tubuhnya sendiri setiap siklus bulanan tiba.
Dampak dari tabu bahasa ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar rasa canggung. Dalam kajian kesehatan masyarakat, ketidakmampuan untuk berbicara lugas tentang menstruasi berkontribusi pada rendahnya literasi kesehatan reproduksi. Banyak perempuan muda yang tidak tahu apa yang normal dan tidak normal mengenai siklus mereka karena topik ini dianggap pamali untuk didiskusikan secara terbuka. Rasa sakit yang ekstrem seperti endometriosis atau gejala PCOS sering kali diabaikan dan dianggap sebagai "kodrat" yang harus ditanggung dalam diam, hanya karena membicarakan detail menstruasi dianggap tidak sopan. Stigma ini menutup akses perempuan terhadap diagnosis medis yang tepat dan cepat.
Normalisasi penyebutan kata "menstruasi" adalah langkah awal untuk mematahkan siklus rasa malu ini. Mengatakan "saya sedang menstruasi" bukanlah tindakan vulgar. Itu adalah pernyataan faktual medis, setara dengan mengatakan "saya sedang flu" atau "saya sedang lapar". Dengan menyebutnya secara lugas, kita mengembalikan menstruasi pada tempatnya yang wajar, yaitu sebagai fungsi fisiologis tubuh manusia, sama halnya dengan bernapas, berkeringat, atau mencerna makanan. Tidak ada nuansa mistis, tidak ada nuansa kotor, dan tidak ada yang perlu ditutupi. Ini adalah darah dan jaringan luruh, bukan aib keluarga.
Gerakan untuk menormalisasi istilah menstruasi juga merupakan upaya melawan period shaming atau perundungan terkait haid yang kerap terjadi di lingkungan sekolah maupun kerja. Sering kali kita mendengar lelucon seksis yang mengaitkan emosi perempuan dengan siklus bulanan mereka, atau tatapan jijik saat ada noda bocor di rok seragam. Jika kita sendiri masih takut menyebut kata menstruasi, bagaimana kita bisa melawan stigma tersebut? Keberanian untuk menggunakan bahasa yang tepat adalah bentuk perlawanan terhadap budaya yang selama ini membungkam pengalaman tubuh perempuan.
Sudah saatnya kita berhenti mewariskan rasa malu ini kepada generasi berikutnya. Ajarkan kepada anak perempuan dan laki-laki bahwa menstruasi adalah proses biologis yang sehat dan normal. Jangan biarkan mereka tumbuh dengan berbisik-bisik atau menyembunyikan pembalut di balik lengan baju seolah sedang menyelundupkan barang ilegal. Mari kita mulai dari perubahan sederhana dalam kosakata sehari-hari. Ganti "lagi dapet" dengan "sedang menstruasi". Ganti "lagi halangan" dengan "sedang haid". Dengan memulihkan bahasanya, kita sedang memulihkan martabat perempuan dan berdamai dengan tubuh kita sendiri sepenuhnya.
Next News

Kebiasaan Mepet di Lampu Merah Ternyata Simpan Bahaya Maut, Ini Jarak Amannya
4 hours ago

Stop Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut, Risikonya Bisa Ubah Struktur Wajah Hingga Gigi Hancur!
4 hours ago

Makan Sehari Sekali Bikin Kurus? Hati-Hati, Tren OMAD Bisa Berujung Operasi Batu Empedu
5 hours ago

Janji Energi Instan Berujung Petaka, Bahaya Energy Drink bagi Tubuh dan Otak
5 hours ago

Tak Disangka, Air Putih di Botol Minum Bisa Picu Infeksi Jika Lakukan Ini
6 hours ago

Siapa Saja yang Wajib Vaksin Dengue? Ini Rekomendasi Resmi Dokter
6 hours ago

4 Gejala Klasik Ini Bisa Jadi Tanda Arteri Jantung Tersumbat
7 hours ago

Fenomena Hilangnya Kemampuan Mengeja pada Generasi Digital dan Dampak Jangka Panjangnya
6 hours ago

Pesona Magis Celak Mata Warisan Budaya Lintas Peradaban
6 hours ago

Menikmati Kehangatan Budaya Kopi Khas Arab Saudi di Pegunungan Sarawat
7 hours ago






