Ceritra
Ceritra Warga

Menikmati Kehangatan Budaya Kopi Khas Arab Saudi di Pegunungan Sarawat

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 02:15 PM

Background
Menikmati Kehangatan Budaya Kopi Khas Arab Saudi di Pegunungan Sarawat
Di Arab Saudi, kopi bukan hanya minuman, melainkan tradisi menjamu tamu sejak dulu kala (Getty Images/AFP)

Jabar Al-Maliki memandangi lanskap menakjubkan dari perkebunan leluhurnya yang terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Di lereng Pegunungan Sarawat yang membentang dari wilayah Jazan Arab Saudi hingga Yaman, deretan tanaman kopi, jagung, dan pisang tumbuh subur, diselingi oleh rumah-rumah tradisional berwarna-warni dan benteng batu kuno. Sembari bersiul memanggil hyrax liar yang melintas, Jabar memberi isyarat bahwa sudah saatnya menikmati qahwa atau kopi, sebuah ritual yang telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat setempat selama berabad-abad. Pegunungan ini diyakini sebagai salah satu tempat kelahiran budaya minum kopi yang kita kenal sekarang, dimulai dari kebiasaan kaum Sufi pada abad ke-15 yang menyangrai biji kopi untuk membantu mereka tetap terjaga saat beribadah malam.

Sejarah panjang kopi di Arab Saudi, khususnya di wilayah selatan seperti Jazan, kini mulai mendapatkan pengakuan yang layak. Meskipun tradisi warung kopi atau maqha telah lama menjadi pusat interaksi sosial kaum pria Arab, baru-baru ini pemerintah Saudi secara resmi merayakan komoditas ini sebagai warisan budaya nasional. Langkah ini ditandai dengan pencanangan tahun 2022 sebagai "Tahun Kopi Saudi" dan instruksi resmi untuk menyebut kopi lokal sebagai "Kopi Saudi" alih-alih Arabika. Bagi petani seperti Jabar Al-Maliki, kopi bukan sekadar tanaman dagang, melainkan bagian dari silsilah dan warisan keluarga yang telah dijaga selama lebih dari 130 tahun.

Perjalanan menelusuri jejak kopi di kawasan ini adalah sebuah petualangan tersendiri. Jalanan curam yang berkelok di lereng pegunungan, terkadang diawasi oleh kawanan monyet liar, menjadi gerbang menuju perkebunan kopi terbesar di Kerajaan Saudi. Di perkebunan Al-Maliki, proses pengolahan kopi masih dilakukan secara tradisional dan penuh kehati-hatian. Biji kopi disangrai di atas plat besi di atas api terbuka, diaduk perlahan dengan tongkat logam khusus. Hasilnya adalah minuman dengan profil rasa yang unik, sering kali lebih halus menyerupai teh daripada kopi hitam pekat yang biasa dikenal di Barat. Kopi ini kadang disajikan murni atau diracik dengan rempah-rempah aromatik seperti kapulaga, jahe, dan cengkeh yang menambah kekayaan rasanya.

Bintang utama dari wilayah ini adalah kopi Khawlani. Dinamai menurut suku Khawlan yang mendiami perbatasan Saudi-Yaman, varietas ini tumbuh subur di ketinggian 800 meter dengan kondisi tanah yang ideal. Bagi masyarakat setempat, kopi Khawlani lebih dari sekadar komoditas pertanian; ia adalah identitas budaya dan simbol keramahan yang telah berusia 300 tahun. Cara menyeduh dan menyajikan kopi ini kepada tamu dianggap sebagai seni yang mempererat ikatan sosial. Sara Alali, seorang penilai kopi internasional dari Riyadh, menekankan bahwa meskipun kopi adalah bagian integral dari kehidupan sehari-hari orang Saudi, banyak yang belum menyadari bahwa negara ini memiliki perkebunan kopinya sendiri yang menghasilkan biji berkualitas tinggi.

Upaya memperkenalkan kopi Khawlani ke panggung dunia kini semakin gencar dilakukan. Jazan sebagai pusat produksi kopi Saudi memiliki lebih dari 700 petani dengan ratusan ribu tanaman kopi yang menghasilkan rata-rata 450 ton per tahun. Biji kopi Khawlani kelas atas yang dipetik secara manual ini memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik, mencapai 100 riyal per kilogram. Para petani mulai memanfaatkan teknologi digital dan media sosial untuk mempromosikan perkebunan mereka sebagai destinasi wisata berbasis komunitas. Wisatawan kini mulai berdatangan, tidak hanya untuk mencicipi kopi, tetapi juga untuk merasakan pengalaman budaya yang otentik, seperti yang ditawarkan oleh perkebunan Wadi Al Ain milik Salem Al-Nakhaifi yang menyediakan fasilitas lengkap mulai dari restoran hingga penginapan.

Keramahan penduduk lokal menjadi daya tarik utama yang tak terlupakan. Faisal Al-Raithi, seorang petani di dekat ngarai Wadi Lajab yang spektakuler, menyambut tamu dengan kehangatan khas suku Bedouin. Mengenakan hiasan kepala tradisional berupa bunga warna-warni, ia menyajikan kopi dari teko perak dallah dan hidangan kambing panggang yang lezat. Filosofi hidup mereka terhadap kopi sangat mendalam; tanaman kopi diperlakukan layaknya manusia dengan penuh kasih sayang. Tidak ada bagian yang terbuang, bahkan kulit buah kopi pun diolah menjadi minuman kesehatan harian. Dengan memadukan kekayaan sejarah, kualitas rasa yang istimewa, dan keramahan yang tulus, pariwisata kopi di Arab Saudi siap menyambut dunia untuk mencicipi sepotong sejarah yang tersaji dalam secangkir qahwa.

Logo Radio
🔴 Radio Live