Ceritra
Ceritra Warga

Belajar Berteman Lagi Saat Dewasa di Dunia yang Serba Hitung-hitungan

Nisrina - Monday, 19 January 2026 | 01:45 PM

Background
Belajar Berteman Lagi Saat Dewasa di Dunia yang Serba Hitung-hitungan
Ilustrasi adult friendship. (The Well by Northwell/ Julie Shapiro)

Pernahkah Anda merasa bahwa mencari teman baru di usia dewasa rasanya seperti mendaki gunung yang terjal tanpa peta? Rasanya sungguh berbeda dibandingkan saat kita masih duduk di bangku sekolah atau kuliah. Dulu, pertemanan terjalin begitu cair, spontan, dan tanpa beban. Kita bisa nongkrong berjam-jam tanpa agenda, tertawa karena hal-hal remeh, dan merasa terhubung tanpa perlu menyusun jadwal pertemuan berminggu-minggu sebelumnya. Namun, seiring bertambahnya angka usia, lingkaran pertemanan justru menyusut drastis. Segala upaya telah dicoba, mulai dari menyapa kembali teman lama, berbasa-basi di media sosial, hingga memaksakan diri ikut komunitas baru. Sayangnya, hasilnya sering kali nihil. Semua terasa kaku, butuh usaha ekstra atau effort yang melelahkan, dan sering kali berakhir menjadi kenalan sekilas tanpa kedalaman makna.

Fenomena sulitnya mencari teman saat dewasa ini sebenarnya bukan sepenuhnya salah Anda atau kemampuan sosial Anda yang memburuk. Masalah utamanya berakar pada pergeseran nilai hidup yang kita anut seiring kedewasaan, yang tanpa sadar sangat dipengaruhi oleh sistem kapitalisme dan budaya produktivitas. Saat kita memasuki dunia kerja, kita didoktrin bahwa waktu adalah uang. Setiap detik harus bernilai, setiap aktivitas harus produktif, dan setiap hubungan harus memberikan "manfaat". Pola pikir transaksional ini pelan-pelan meracuni cara kita memandang manusia lain. Kita mulai mengukur pertemanan dengan timbangan untung-rugi. Pertanyaan bawah sadar yang sering muncul adalah "Apa keuntungan berteman dengan dia?" atau "Apakah dia bisa memuluskan karierku?".

Akibatnya, hubungan yang murni dan tanpa agenda menjadi barang langka. Dalam budaya hustle culture yang diagung-agungkan, nongkrong tanpa tujuan jelas dianggap sebagai dosa besar karena "tidak efisien". Kita menjadi pelit membagi waktu. Jika sebuah pertemuan tidak menghasilkan peluang bisnis, wawasan baru, atau setidaknya konten untuk media sosial, kita cenderung menghindarinya. Pertemanan yang tulus sering kali memang "tidak efisien" secara ekonomi karena isinya adalah mendengarkan keluh kesah, menemani saat sedih, atau sekadar hadir tanpa melakukan apa-apa. Karena obsesi kita pada efisiensi inilah, banyak bibit pertemanan yang mati sebelum sempat tumbuh karena dianggap membuang-buang waktu berharga kita.

Selain masalah efisiensi, jebakan "kedewasaan" lainnya adalah mitos tentang kemandirian mutlak atau hyper-independence. Sistem sosial saat ini mengondisikan kita untuk percaya bahwa menjadi dewasa berarti harus bisa melakukan segalanya sendiri. Bergantung pada orang lain dianggap sebagai tanda kelemahan, ketidakmampuan, atau sifat manja yang memalukan. Kita berlomba-lomba membangun tembok tinggi agar terlihat kuat dan sukses. Padahal, manusia secara biologis adalah makhluk sosial yang dirancang untuk saling bergantung. Ketika kita menolak kerentanan dan enggan meminta tolong, kita sebenarnya sedang mengisolasi diri sendiri. Ironisnya, rasa sepi yang timbul akibat isolasi ini justru dimanfaatkan oleh pasar.

Industri modern sangat menyukai individu yang kesepian. Ketika kita kehilangan koneksi dengan sesama, kita mencari pelarian dengan mengonsumsi barang. Rasa hampa yang seharusnya diisi oleh obrolan hangat dengan sahabat, kini coba ditambal dengan membeli buku motivasi, produk self-care, paket liburan healing sendirian, atau belanja impulsif di lokapasar. Kapitalisme menawarkan ribuan solusi berbayar untuk kebahagiaan kita, padahal obat yang paling mujarab sering kali gratis, yaitu kehadiran orang lain. Kita lupa bahwa mengakui kita butuh orang lain, dan memberi ruang bagi orang lain untuk membutuhkan kita, adalah fondasi dasar kesehatan mental yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Untuk keluar dari jebakan ini, kita perlu belajar "memberontak" dengan cara yang lembut namun radikal. Caranya adalah dengan berhenti melihat pertemanan sebagai transaksi bisnis. Mulailah menormalisasi hubungan yang "tidak produktif". Luangkan waktu untuk teman tanpa mengharapkan timbal balik yang setara atau keuntungan materi. Perlakukan pertemanan dengan keseriusan dan komitmen yang sama besarnya seperti kita memperlakukan hubungan romantis atau pekerjaan. Jika kita bisa meluangkan waktu berjam-jam untuk lembur demi atasan, mengapa kita tidak bisa meluangkan dua jam untuk mendengarkan cerita teman tanpa gangguan gawai?

Pertemanan sejatinya adalah bentuk komunitas terkecil yang bisa menjadi benteng pertahanan kita. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk terus berlari dan berkompetisi, memiliki teman yang menerima kita apa adanya bukan karena jabatan atau gaji kita adalah sebuah kemewahan yang menyehatkan jiwa. Teman adalah pengingat bahwa kita berharga hanya karena kita "ada", bukan karena apa yang kita "hasilkan". Membangun kembali koneksi antarmanusia adalah cara kita melawan sistem yang ingin memisahkan kita. Jadi, jangan ragu untuk memulai lagi. Kirim pesan itu, ajak bertemu tanpa agenda, dan nikmatilah momen "tidak produktif" bersama mereka, karena di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.

Logo Radio
🔴 Radio Live