Kebiasaan Mepet di Lampu Merah Ternyata Simpan Bahaya Maut, Ini Jarak Amannya
Refa - Wednesday, 21 January 2026 | 05:00 PM


Lampu merah sering kali menjadi ajang adu cepat bagi para pengguna jalan untuk menempati posisi paling depan. Tidak jarang, antrean kendaraan terlihat sangat rapat tanpa celah, seolah bumper belakang kendaraan di depan adalah magnet. Padahal, kebiasaan berhenti terlalu dekat (tailgating) saat menunggu lampu hijau menyimpan potensi kecelakaan fatal yang sering tidak disadari.
Pakar keselamatan berkendara (Safety Riding) mengingatkan bahwa jarak aman bukan hanya diperlukan saat kendaraan melaju, tetapi juga saat berhenti. Mengabaikan ruang henti ini bisa berakibat fatal bagi keselamatan diri sendiri maupun orang lain di sekitar.
Berikut adalah tiga alasan krusial mengapa menyisakan ruang gerak di lampu merah wajib dilakukan:
Lolos dari Jebakan "Blind Spot"
Alasan paling mematikan dari kebiasaan mepet adalah masuknya kendaraan kecil (terutama motor) ke dalam area titik buta atau blind spot. Hal ini sangat berbahaya jika berhenti tepat di belakang atau di samping kendaraan besar seperti truk dan bus.
Sopir kendaraan besar memiliki keterbatasan pandangan ke area bawah dan belakang. Jika berhenti terlalu dekat, sopir tidak akan menyadari keberadaan kendaraan di sekitarnya. Risiko tergilas saat truk mundur sedikit atau saat bermanuver belok menjadi sangat tinggi. Pastikan ban belakang kendaraan di depan masih terlihat jelas oleh mata sebagai patokan jarak aman.
Ruang Menghindar Saat Darurat
Situasi tak terduga bisa terjadi kapan saja, seperti kendaraan di depan yang tiba-tiba mogok atau gagal menanjak. Jika jarak terlalu rapat, kendaraan di belakangnya akan terjebak dan tidak memiliki ruang manuver untuk menghindar ke kiri atau ke kanan.
Lebih buruk lagi, jika kendaraan di depan adalah mobil manual yang meluncur mundur (rollback) saat hendak jalan, kendaraan yang mepet di belakangnya pasti akan menjadi korban tabrakan tanpa bisa berbuat apa-apa.
Mencegah Efek Domino Tabrakan Beruntun
Menjaga jarak juga berfungsi sebagai bantalan pengaman (buffer zone). Jika terjadi skenario buruk di mana ada kendaraan yang menabrak dari arah belakang dengan kecepatan tinggi, jarak yang cukup di depan akan mencegah terjadinya efek sandwich atau tabrakan beruntun.
Dengan adanya ruang kosong, energi benturan tidak akan langsung menerus ke kendaraan di depan, sehingga kerusakan dan cedera fatal bisa diminimalisir.
Next News

Stop Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut, Risikonya Bisa Ubah Struktur Wajah Hingga Gigi Hancur!
in 4 hours

Makan Sehari Sekali Bikin Kurus? Hati-Hati, Tren OMAD Bisa Berujung Operasi Batu Empedu
in 3 hours

Janji Energi Instan Berujung Petaka, Bahaya Energy Drink bagi Tubuh dan Otak
in 3 hours

Tak Disangka, Air Putih di Botol Minum Bisa Picu Infeksi Jika Lakukan Ini
in 2 hours

Siapa Saja yang Wajib Vaksin Dengue? Ini Rekomendasi Resmi Dokter
in 2 hours

4 Gejala Klasik Ini Bisa Jadi Tanda Arteri Jantung Tersumbat
in an hour

Fenomena Hilangnya Kemampuan Mengeja pada Generasi Digital dan Dampak Jangka Panjangnya
in 2 hours

Pesona Magis Celak Mata Warisan Budaya Lintas Peradaban
in 2 hours

Menikmati Kehangatan Budaya Kopi Khas Arab Saudi di Pegunungan Sarawat
in an hour

Sering Lelah, Mood Berantakan, Tulang Nyeri? Ini Gejala Kekurangan Vitamin D
26 minutes ago






