Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Menikah di Indonesia Berarti Menikahi Seluruh Keluarga?

Refa - Tuesday, 17 March 2026 | 08:00 PM

Background
Mengapa Menikah di Indonesia Berarti Menikahi Seluruh Keluarga?
Ilustrasi keluarga besar (Freepik/rawpixel.com)

Menghadapi 'Kurikulum' Keluarga Besar: Seni Mengelola Ekspektasi Setelah Ijab Kabul

Menikah di Indonesia itu unik. Kamu nggak cuma menikahi pasanganmu, tapi juga seluruh paket lengkap berisi ayah, ibu, paman, bibi, hingga sepupu jauh yang bahkan kamu nggak tahu namanya siapa. Begitu akad selesai atau pemberkatan beres, rasanya seperti baru saja lolos dari satu ujian masuk, hanya untuk menyadari bahwa ada 'kurikulum' baru yang sudah disiapkan oleh keluarga besar. Isinya? Tentu saja tumpukan ekspektasi yang kadang bikin dahi berkerut lebih dalam daripada cicilan KPR.

Baru seminggu sah jadi suami-istri, pertanyaannya sudah naik level. Dari yang dulu nanya "Kapan nikah?", sekarang ganti jadi "Kapan isi?", "Kok masih ngontrak?", sampai "Istrinya kok nggak masak?". Rasanya seperti sedang menjalani sidang skripsi setiap kali ada acara kumpul keluarga atau sekadar grup WhatsApp keluarga bunyi. Kalau nggak pintar-pintar mengelola ekspektasi ini, bisa-bisa kemesraan yang harusnya dibangun di awal pernikahan malah habis buat berantem gara-gara omongan orang luar.

Satu Suara di Front Pembela Pernikahan

Langkah pertama dan yang paling krusial dalam mengelola ekspektasi keluarga adalah membangun benteng yang kokoh dengan pasangan. Kamu dan dia harus punya satu suara. Jangan sampai ketika ditanya mertua soal momongan, suami jawabnya "Masih mau jalan-jalan dulu," sementara istri jawab "Lagi program nih, Ma." Perbedaan jawaban ini adalah celah bagi keluarga besar untuk masuk dan mulai memberikan 'intervensi' yang tidak diminta.

Anggaplah pernikahan kalian sebagai sebuah negara berdaulat. Kalian berdua adalah presiden dan wakil presidennya. Sebelum mengeluarkan kebijakan atau menjawab pertanyaan 'pers' (baca: keluarga besar), kalian harus rapat kabinet dulu di kamar. Sepakati batas-batas mana yang boleh diketahui publik dan mana yang jadi rahasia dapur. Kalau kalian berdua sudah solid, tekanan dari luar biasanya bakal terasa lebih ringan karena kalian tahu ada tempat untuk bersandar yang punya visi yang sama.

Jawab 'Iya-in Aja' Tanpa Harus Menuruti

Dalam budaya kita yang sangat menjunjung tinggi sopan santun kepada orang tua, membantah secara frontal seringkali dianggap sebagai tindakan durhaka atau nggak sopan. Tapi, menuruti semua keinginan keluarga besar juga bisa bikin gangguan kesehatan mental. Terus gimana solusinya? Pakailah teknik diplomasi "Iya-in aja."

Ketika bibi atau tante mulai berceramah soal cara mengatur keuangan atau menyuruhmu cepat-cepat ambil cicilan mobil biar kelihatan mapan, dengarkan saja dengan senyum manis. Anggukkan kepala seolah-olah kamu sangat menghargai masukan mereka. Gunakan kalimat sakti seperti, "Oh iya, masukannya bagus banget, Tante. Nanti kami diskusikan dulu ya di rumah." Dengan begini, mereka merasa didengar dan dihargai, sementara kamu tetap punya kendali penuh atas keputusan akhir. Ingat, mendengarkan tidak sama dengan menyetujui, dan mengangguk tidak berarti kamu harus tanda tangan kontrak.

Menentukan Batasan (Boundaries) yang Jelas

Banyak pasangan muda merasa nggak enak hati untuk bilang "tidak" atau membatasi kunjungan keluarga. Padahal, menentukan boundaries adalah bentuk self-care untuk pernikahanmu. Ekspektasi keluarga seringkali muncul karena mereka merasa masih punya 'akses' penuh ke kehidupanmu seperti saat kamu masih lajang.

Kamu perlu secara perlahan dan sopan menunjukkan bahwa ada area privat yang nggak bisa diganggu gugat. Misalnya, sepakati bahwa hari Minggu adalah waktu khusus kalian berdua tanpa gangguan, atau bahwa urusan mendidik anak (kalau nanti sudah ada) adalah otoritas penuh kalian sebagai orang tua. Memang awalnya mungkin akan ada drama sedikit, atau ada yang bilang "Ih, sekarang sombong ya sejak nikah." Tapi percayalah, lebih baik sedikit dicibir di awal daripada makan hati seumur hidup karena kehidupan rumah tanggamu disetir oleh orang lain.

Filter Nasihat dengan Saringan Tahu

Nggak semua ekspektasi atau saran dari keluarga itu buruk. Ada kalanya mereka bicara berdasarkan pengalaman pahit yang nggak ingin kalian alami. Kuncinya adalah punya filter yang kuat, ibarat saringan tahu yang bisa memisahkan mana ampas dan mana sarinya. Ambil saran yang masuk akal dan relevan dengan kondisi zaman sekarang, lalu buang jauh-jauh ekspektasi yang sifatnya kompetitif atau sekadar tuntutan sosial.

Zaman orang tua kita dulu mungkin sukses diukur dari seberapa cepat punya rumah tanah dan anak banyak. Tapi zaman sekarang, definisinya sudah bergeser. Mungkin kalian lebih memilih untuk investasi di aset digital atau self-development dulu. Jangan merasa bersalah kalau gaya hidup atau pilihan kalian nggak sesuai dengan "standar emas" keluarga besar. Ini hidup kalian, yang menjalani kalian, dan yang menanggung risikonya juga kalian sendiri.

Kelola Ekspektasi dengan Humor

Terakhir, jangan terlalu tegang. Menghadapi keluarga besar itu butuh selera humor yang tinggi. Kalau ditanya "Kapan punya anak?" untuk keseribu kalinya, jawab saja dengan bercanda, "Lagi nunggu voucher promo dari langit nih, Om." Humor bisa mencairkan suasana yang kaku dan memberi sinyal halus bahwa kamu nggak ingin membahas topik tersebut secara serius.

Pernikahan itu maraton, bukan lari sprint. Mengelola ekspektasi keluarga besar adalah bagian dari latihan pernapasan agar kamu nggak cepat lelah di tengah jalan. Tetaplah jadi tim yang kompak dengan pasangan, hargai mereka yang lebih tua, tapi tetap pegang kendali setir kehidupanmu sendiri. Karena pada akhirnya, kebahagiaan sebuah pernikahan ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam rumah, bukan oleh apa yang dibicarakan di meja makan saat arisan keluarga.

Logo Radio
🔴 Radio Live