Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya

Shannon - Friday, 29 May 2026 | 02:00 PM

Background
Mengapa Kita Malah Beres-Beres Saat Ada Tugas? Ini Jawabannya
(Treehugger/)

The Power of Kepepet: Kenapa Kita Baru Bisa Jadi 'Superhuman' Pas Deadline Sudah di Depan Mata?

Bayangkan skenario ini: Kamu punya waktu dua minggu buat nyelesein satu laporan atau projek gede. Di minggu pertama, kamu merasa santai banget. Kamu ngerasa masih punya banyak waktu buat riset, baca-baca referensi, atau sekadar leha-leha dulu sambil nonton series yang lagi hype. Masuk ke minggu kedua, mulai ada rasa bersalah dikit, tapi ujung-ujungnya kamu malah mutusin buat beresin rak buku atau tiba-tiba pengen masak makanan yang ribet. Padahal, kerjaan utama belum disentuh sama sekali.

Lalu, BOOM! H-1 deadline datang. Di titik inilah sebuah keajaiban atau kutukan terjadi. Kamu yang tadinya mager parah, tiba-tiba berubah jadi sosok paling sibuk dan produktif sedunia. Jari-jemari menari di atas keyboard dengan kecepatan cahaya, otak mendadak encer banget, dan fokusmu ngalahin sniper profesional. Fenomena ini sering kita sebut sebagai sindrom tiba-tiba sibuk pas mau deadline, atau dalam istilah psikologi yang lebih keren disebut 'procrastination' yang berujung pada 'panic monster'.

Kenapa Otak Kita Suka Nyiksa Diri?

Kenapa sih kita nggak bisa cicil kerjaan dari jauh-jauh hari dengan tenang? Jawabannya ada di dalam kepala kita sendiri. Secara biologis, manusia itu punya kecenderungan buat nyari kepuasan instan. Otak kita lebih suka milih kegiatan yang bikin happy sekarang juga, kayak scrolling TikTok atau ngopi cantik, daripada ngerjain tugas yang pusingnya sekarang tapi manfaatnya baru kerasa minggu depan.

Nah, pas deadline udah mepet banget, amygdala di otak kita ngirim sinyal bahaya. Hormon adrenalin dan kortisol naik drastis. Di saat itulah kita ngerasa dapet 'superpower'. Tekanan yang luar biasa itu memaksa otak buat masuk ke mode survival. Efeknya? Kita jadi nggak gampang keganggu sama notifikasi HP dan bisa nyelesein kerjaan yang harusnya makan waktu tiga hari cuma dalam waktu tiga jam. Istilah kerennya sih 'The Power of Kepepet'. Tapi ya harganya mahal: stres luar biasa dan jantung yang berdegup kencang kayak habis lari maraton.

Ritual 'Sibuk Palsu' Sebelum Perang

Uniknya, sebelum bener-bener produktif di detik terakhir, biasanya kita ngelakuin yang namanya 'productive procrastination'. Ini adalah jebakan maut di mana kita ngerasa lagi sibuk ngerjain sesuatu yang bermanfaat, padahal itu cuma cara kita buat ngehindarin tugas utama.

  • Tiba-tiba pengen bersihin seluruh kamar sampai ke sudut-sudut yang nggak pernah disentuh setahun terakhir.
  • Merapikan folder di laptop yang berantakan sejak zaman kuliah.
  • Membalas semua email nggak penting yang udah masuk dari bulan lalu.
  • Nge-list barang-barang yang mau dibeli di e-commerce padahal duit pas-pasan.

Kita melakukan semua itu biar nggak merasa terlalu bersalah karena belum ngerjain deadline. Kita menipu diri sendiri dengan mikir, "Ah, kan gue lagi produktif juga kok, beresin kamar kan juga kerjaan." Padahal, ya, itu cuma pelarian doang. Pas jam sudah menunjukkan pukul 11 malam dan deadline jam 7 pagi, barulah kepanikan yang sesungguhnya dimulai.

Vibes Kerja di Bawah Tekanan: Antara Jenius dan Ngasal

Ada kebanggaan tersendiri yang kadang muncul kalau kita berhasil nyelesein tugas di menit-menit akhir. Rasanya kayak menang lotre. Kita sering sombong ke temen, "Gila, gue ngerjain ini cuma semalam lho, dan hasilnya oke." Kebiasaan ini akhirnya jadi candu. Kita ngerasa kalau nggak di bawah tekanan, ide-ide brilian nggak bakal keluar. Padahal itu cuma bias kognitif. Kita lupa berapa banyak sel otak yang terbakar dan betapa berantakannya kualitas kerja kita kalau dibandingin kalau kita ngerjainnya dengan kepala dingin.

Masalahnya, gaya kerja 'sks' (sistem kebut semalam) ini nggak sustain buat jangka panjang. Kamu mungkin bisa survive sekali-dua kali. Tapi kalau tiap projek diginiin, mental health kamu taruhannya. Burnout itu nyata, kawan. Orang yang sering 'tiba-tiba sibuk pas deadline' biasanya punya pola tidur yang berantakan dan gampang emosian pas udah masuk fase panik. Belum lagi kalau ada gangguan teknis pas lagi mepet-mepetnya, kayak tiba-tiba mati lampu atau internet lemot. Di situ rasanya pengen nangis tapi harus tetep ngetik.

Gimana Caranya Biar Nggak Terjebak Terus?

Jujur aja, ngilangin kebiasaan ini emang susah banget, apalagi kalau udah jadi karakter. Tapi ada beberapa tips receh yang mungkin bisa membantu biar level 'sibuk mendadak' kamu nggak terlalu parah. Pertama, coba pake teknik Small Wins. Pecah tugas gede jadi bagian-bagian kecil yang nggak nakutin. Misalnya, targetin cuma nulis satu paragraf atau satu slide aja sehari.

Kedua, bikin deadline palsu. Kalau tugas harus dikumpul hari Jumat, tandain di kalender kamu kalau deadlinenya hari Rabu. Kasih 'reward' buat diri sendiri kalau berhasil ngerjain sebelum waktunya. Dan yang paling penting, sadari kalau rasa malas itu manusiawi, tapi membiarkan diri diperbudak deadline itu toxic buat diri sendiri.

Pada akhirnya, sindrom sibuk pas deadline ini adalah bagian dari drama kehidupan manusia modern yang serba cepat. Kita emang suka tantangan, tapi jangan sampai tantangan itu malah bikin kita tumbang. Nggak ada salahnya kok sesekali ngerasain santai di awal tanpa rasa bersalah, asalkan kita tahu kapan harus mulai narik gas sebelum mesinnya meledak karena kepanasan di garis finish. Yuk, coba dicicil hari ini, biar nanti malam bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk dikejar-kejar revisi!

Logo Radio
🔴 Radio Live