Ceritra
Ceritra Warga

Pesona Magis Celak Mata Warisan Budaya Lintas Peradaban

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 02:45 PM

Background
Pesona Magis Celak Mata Warisan Budaya Lintas Peradaban
Wadah kohl (makhala) dan alat yang digunakan untuk mengoleskan kohl (merwad). (Getty Images/)

Dunia kecantikan modern mungkin mengenal garis hitam di sekitar mata sebagai eyeliner yang berfungsi semata untuk mempertegas estetika wajah. Namun jauh sebelum tren tata rias viral di media sosial, goresan hitam itu memiliki nama lain yakni kohl atau yang di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan celak. Kosmetik mata ini bukan sekadar alat pemercantik diri melainkan sebuah warisan peradaban yang menyimpan makna spiritual, kesehatan, dan identitas budaya yang mendalam. Pengakuan Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO yang memasukkan kohl ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda pada Desember lalu menegaskan betapa pentingnya tradisi ini bagi umat manusia.

Akar sejarah celak membentang ribuan tahun ke belakang dan menembus batas-batas geografis mulai dari Mesopotamia, Persia, hingga Mesir Kuno. Di masa lalu bahan dasar pembuatan celak tradisional sangat beragam, mulai dari antimon, timbal, hingga berbagai campuran mineral alami lainnya. Penggunaannya pun tidak terbatas pada kaum hawa saja. Di Mesir Kuno misalnya, baik laki-laki maupun perempuan dari segala lapisan sosial mengenakan celak dengan tujuan yang melampaui sekadar penampilan fisik. Bagi masyarakat kuno tersebut, celak adalah perisai spiritual untuk menangkal "mata jahat" atau energi negatif sekaligus perlindungan medis untuk menjaga kesehatan mata dari teriknya matahari gurun dan infeksi serangga. Saking sakralnya, orang Mesir Kuno bahkan membawa wadah celak mereka hingga ke liang lahat sebagai bekal menuju alam baka.

Salah satu ikon sejarah yang paling berpengaruh dalam mempopulerkan celak adalah Ratu Nefertiti dari Mesir. Penemuan patung dada Nefertiti oleh tim arkeologi Jerman pada tahun 1912 membuka mata dunia terhadap standar kecantikan sang ratu yang memukau. Alisnya yang melengkung sempurna dan garis mata yang dipertegas dengan pewarna hitam pekat menjadikannya "influencer" kecantikan asli dari masa lalu. Citra Nefertiti yang eksotis, berwibawa, dan penuh kuasa ini kemudian diadopsi oleh perempuan di berbagai belahan dunia hingga hari ini. Ribuan tutorial tata rias di era digital kini berusaha meniru tatapan tajam sang ratu yang ikonik tersebut.

Namun celak bukan hanya milik Timur Tengah atau Mesir semata. Penelusuran jejak budaya celak membawa kita berkeliling dunia dengan variasi nama dan makna yang unik. Di Asia Selatan ia dikenal sebagai kajal, di Nigeria disebut tiro, dan di Iran dinamakan sormeh. Di Jepang, para Geisha menggunakan eyeliner merah sebagai simbol perlindungan abadi. Sementara itu dalam budaya chola di Meksiko-Amerika, garis mata yang tegas menjadi simbol identitas, perlawanan, dan kebanggaan budaya. Di Afrika tepatnya di Chad, laki-laki dari suku nomaden Wadabi menggunakan celak untuk menonjolkan keindahan mata dan gigi mereka dalam kontes kecantikan tahunan di mana kaum perempuanlah yang menjadi jurinya.

Kaum pria di Timur Tengah pun tidak asing dengan tradisi ini. Pria Badui di Petra, Yordania, secara rutin mengenakan celak. Bagi mereka, garis hitam di mata berfungsi ganda yakni sebagai pelindung dari sengatan matahari gurun yang kejam dan sebagai penanda ketampanan maskulin. Pemakaian celak bagi pria di sana juga bisa menjadi ritual peralihan menuju kedewasaan atau sekadar penanda status lajang seseorang. Bahkan tradisi memakaikan celak pada mata bayi dan anak-anak masih lestari di banyak negara berbahasa Arab sebagai bentuk doa perlindungan bagi sang buah hati. Nama-nama seperti Kajal atau Kahilain pun lazim disematkan kepada seseorang yang mencerminkan betapa lekatnya budaya ini dalam kehidupan sehari-hari.

Zahra Hankir, seorang jurnalis dan penulis buku Eyeliner: A Cultural History, mengungkapkan bahwa memakai celak adalah sebuah laku spiritual yang menghubungkan dirinya dengan nenek moyang. Sebagai perempuan berdarah Lebanon yang tinggal di diaspora, menggoreskan celak di kelopak mata membuatnya merasa terhubung kembali dengan ibu, nenek, dan jutaan perempuan Timur Tengah lainnya. Pengakuan UNESCO dianggap sebagai langkah krusial untuk melindungi pengetahuan dan ritual pembuatan kohl agar tidak tergerus atau kehilangan maknanya akibat komersialisasi industri kecantikan global.

Kohl atau celak mengajarkan kita bahwa kecantikan tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap goresan hitam yang melingkari mata, tersimpan ribuan tahun sejarah, doa perlindungan, dan identitas yang dipertahankan dengan bangga. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, memastikan bahwa warisan leluhur tetap hidup di tengah gempuran zaman.

Logo Radio
🔴 Radio Live