Ceritra
Ceritra Warga

Fenomena Hilangnya Kemampuan Mengeja pada Generasi Digital dan Dampak Jangka Panjangnya

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 03:15 PM

Background
Fenomena Hilangnya Kemampuan Mengeja pada Generasi Digital dan Dampak Jangka Panjangnya
Ilustrasi (Freepik/jcomp)

Di tengah kemajuan teknologi informasi yang begitu pesat, sebuah ironi besar terjadi dalam dunia pendidikan global. Generasi muda yang tumbuh dengan akses informasi tanpa batas justru mengalami kemunduran dalam kemampuan literasi paling dasar yakni mengeja. Fenomena ini bukan sekadar keluhan orang tua atau guru bahasa yang konservatif, melainkan sebuah krisis pendidikan yang nyata. Banyak siswa saat ini kesulitan merangkai huruf menjadi kata yang baku tanpa bantuan teknologi. Penyebab dari masalah ini ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar kemalasan siswa, melainkan berakar pada metode pengajaran yang keliru selama puluhan tahun serta ketergantungan akut pada kecerdasan buatan.

Akar masalah utama yang dituding oleh para pakar pendidikan adalah warisan dari metode pengajaran membaca yang dikenal sebagai Whole Language. Selama kurang lebih tiga dekade terakhir, metode ini mendominasi kurikulum di banyak negara. Pendekatan ini lebih menekankan pada strategi pemahaman makna bacaan secara utuh dan mengabaikan pengajaran literasi berbasis sains, seperti fonik atau pengenalan bunyi huruf. Dalam sistem ini, siswa diajak untuk menebak kata berdasarkan konteks kalimat atau gambar, alih-alih memahami struktur pembentuk kata itu sendiri. Akibatnya, kemampuan mengeja yang seharusnya menjadi fondasi literasi justru terabaikan dan dianggap tidak terlalu penting dibandingkan kelancaran membaca itu sendiri.

Meskipun saat ini banyak institusi pendidikan mulai menyadari kekeliruan tersebut dan kembali ke metode berbasis sains, pengajaran mengeja sering kali masih dipandang sebelah mata. Dr. Brennan Chandler, seorang profesor dari Georgia State University yang meneliti literasi dan disleksia, menyoroti bahwa mengeja kerap kali hanya dijadikan pelengkap atau tambahan opsional dalam kurikulum. Padahal menurutnya, kemampuan mengeja adalah mesin penggerak utama perkembangan kemampuan membaca. Erosi kemampuan ini terjadi secara diam-diam namun dampaknya sangat destruktif terhadap kemampuan kognitif siswa dalam memahami bahasa. Tanpa kemampuan mengeja yang kuat, otak tidak terlatih untuk membedah struktur kata yang krusial untuk komunikasi yang efektif.

Tantangan semakin berat dengan kehadiran teknologi digital yang menawarkan kenyamanan instan. Keberadaan fitur spellcheck, autocorrect, hingga asisten penulisan berbasis kecerdasan buatan seperti ChatGPT, Grammarly, atau Google Docs, sering kali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi alat-alat ini membantu mempercepat pekerjaan, namun di sisi lain mereka menutupi ketidakmampuan siswa yang sebenarnya. Para ahli memperingatkan bahwa ketergantungan pada alat bantu ini tanpa memiliki dasar ejaan yang kuat akan merugikan siswa seumur hidup. Teknologi tersebut cenderung menormalisasi kesalahan dan membuat siswa malas untuk mempelajari struktur kata yang benar karena merasa selalu ada mesin yang akan memperbaikinya.

Kondisi ini menciptakan ilusi kompetensi di mana siswa terlihat mampu menulis dengan baik, padahal sebenarnya mereka tidak memiliki pengetahuan linguistik dasar. Mengeja bukan sekadar menghafal urutan huruf, melainkan proses memahami logika bahasa yang menghubungkan bunyi dengan simbol tertulis. Pengetahuan ini adalah syarat mutlak untuk bisa membaca, menulis, dan berkomunikasi dengan presisi. Jika generasi sekarang terus dibiarkan bergantung pada koreksi otomatis tanpa memahami mengapa sebuah kata dieja demikian, kita sedang mencetak generasi yang gagap literasi di balik layar gawai canggih mereka. Oleh karena itu, mengembalikan pengajaran ejaan secara eksplisit dan intensif ke dalam ruang kelas bukanlah sebuah kemunduran, melainkan langkah penyelamatan intelektual bagi masa depan.

Logo Radio
🔴 Radio Live