Ceritra
Ceritra Warga

Sisi Gelap Fashion yang Menjarah Kreativitas Desainer Kecil

Nisrina - Monday, 29 December 2025 | 10:46 AM

Background
Sisi Gelap Fashion yang Menjarah Kreativitas Desainer Kecil
Plagiarisme yang dilakukan oleh Shein terhadap banyak designer kecil (Ethically Dressed/Malu Hernandez)

Pernahkah Anda mengalami momen dilematis saat berselancar di media sosial dan menemukan sebuah gaun cantik rancangan desainer independen yang harganya jutaan rupiah, lalu hanya berselang beberapa menit kemudian Anda menemukan baju yang persis sama di aplikasi belanja orange atau situs global seperti Shein dengan harga cuma puluhan ribu rupiah? Fenomena ini sering kali membuat konsumen bersorak girang karena merasa menemukan "harta karun" atau alternatif murah yang ramah di kantong. Namun di balik kegembiraan mendapatkan barang murah tersebut, tersimpan sebuah praktik bisnis yang kelam dan merugikan yang kini dikenal dengan istilah ATM ekstrem atau Amati Tiru Plek Ketiplek. Jika dulu prinsip bisnis adalah memodifikasi ide, kini raksasa mode ultra cepat atau ultra-fast fashion seperti Shein diduga melakukan penjiplakan total tanpa rasa bersalah demi mengejar tren sesaat.

Shein dan beberapa ritel mode raksasa lainnya kini menghadapi gelombang gugatan hukum yang tak henti-hentinya dari para seniman dan desainer kecil di seluruh dunia. Modus operandi yang dilakukan sangatlah sistematis dan kejam. Dengan bantuan algoritma kecerdasan buatan yang canggih, mereka memindai internet untuk mencari desain baju yang sedang viral atau disukai banyak orang. Tanpa meminta izin, tanpa lisensi, dan tentu saja tanpa membayar royalti sepeser pun, desain tersebut langsung dikirim ke pabrik produksi massal. Dalam hitungan hari bahkan jam, replika baju tersebut sudah terpajang di etalase daring mereka. Bagi desainer kecil yang menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk riset, menggambar pola, dan trial error, tindakan ini adalah sebuah pencurian intelektual yang mematikan semangat berkarya.

Ironi terbesar dari praktik ini terletak pada perbedaan kualitas yang sangat jomplang meski secara visual terlihat kembar identik di layar ponsel. Desainer asli mungkin menggunakan bahan linen organik, sutra, atau katun berkualitas tinggi dengan jahitan yang rapi dan kuat. Sebaliknya, versi tiruan yang dijual Shein biasanya menggunakan bahan poliester murah yang panas, tipis, dan berbau bahan kimia menyengat. Mereka menjual ilusi visual. Foto produk yang dipajang di situs mereka sering kali terlihat sangat mewah karena tak jarang mereka juga mencuri foto asli milik sang desainer atau influencer, namun barang yang sampai ke tangan pembeli adalah kain sintetik yang kualitasnya jauh di bawah standar. Ini adalah bentuk catfishing atau penipuan visual dalam skala industri global.

Para desainer independen ini sering kali berada dalam posisi yang tidak berdaya seperti Daud melawan Goliat. Menggugat perusahaan raksasa yang bermarkas di luar negeri membutuhkan biaya hukum yang sangat besar dan waktu yang panjang, sesuatu yang tidak dimiliki oleh pengusaha kecil. Sering kali ketika satu desain digugat dan ditarik dari peredaran, mesin algoritma raksasa itu sudah memproduksi ribuan desain curian lainnya. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi kita semua sebagai konsumen. Harga murah yang kita bayarkan untuk sepotong baju tiruan sebenarnya tidak benar-benar murah. Ada biaya tersembunyi yang harus dibayar mahal oleh orang lain, yakni matinya kreativitas seorang seniman yang karyanya dirampok terang-terangan dan rusaknya etika bisnis demi keuntungan instan. Membeli produk orisinal bukan hanya soal gengsi, melainkan bentuk dukungan nyata agar roda kreativitas manusia tidak berhenti berputar karena digilas mesin fotokopi industri.

Logo Radio
🔴 Radio Live