Ceritra
Ceritra Warga

Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?

Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 03:15 PM

Background
Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?
Ilustrasi gaun operasi dokter (Pexels/Raul Infante Gaete)

Rahasia di Balik Warna Hijau Ruang Operasi: Mengapa Dokter Tak Lagi Pakai Baju Putih?

Pernahkah kamu membayangkan berada di dalam ruang operasi? Bau karbol yang khas, lampu-lampu besar yang super terang, dan deretan peralatan medis yang berkilauan. Namun, ada satu hal yang mungkin luput dari perhatian kita karena sudah terlalu sering melihatnya di film atau drama medis: pakaian dokternya. Kenapa sih, para dokter bedah itu hampir selalu memakai baju berwarna hijau atau biru laut saat sedang mengoperasi pasien? Padahal, kalau kita lihat mereka di poliklinik atau bangsal, jas putih bersih adalah seragam kebesaran mereka.

Kalau kamu mengira itu sekadar masalah selera mode atau biar nggak cepat kotor kena noda darah, kamu hanya benar separuh. Usut punya usut, ada alasan sains yang sangat serius di balik pemilihan warna ini. Ini bukan soal estetika semata, melainkan soal keamanan nyawa pasien dan kesehatan mata sang dokter itu sendiri. Mari kita bedah alasannya satu per satu dengan gaya santai.

Dahulunya Putih, Lalu Menjadi Bencana Visual

Dulu sekali, tepatnya sebelum awal abad ke-20, semua tenaga medis memakai baju putih. Logikanya sederhana: putih melambangkan kebersihan dan sterilitas. Kalau ada noda sedikit saja, bakal langsung kelihatan, jadi mereka harus sering-sering mencucinya. Namun, masalah besar muncul saat para dokter mulai melakukan operasi besar di bawah lampu ruang operasi yang sangat terang.

Bayangkan kamu sedang menjahit luka atau membedah organ yang penuh dengan darah merah segar. Kamu menatap warna merah itu dengan konsentrasi penuh selama berjam-jam. Tiba-tiba, saat kamu mengalihkan pandangan sebentar ke arah asisten atau dinding ruangan yang berwarna putih, matamu akan melihat bayangan hijau yang melayang-layang. Dalam dunia medis dan psikologi, fenomena ini disebut sebagai visual illusion atau lebih spesifiknya lagi, afterimage.

Efek ini mirip seperti saat kamu tanpa sengaja menatap lampu flash kamera atau matahari, lalu muncul bintik-bintik gelap yang mengganggu pandanganmu selama beberapa detik. Nah, bayangkan jika itu terjadi pada seorang dokter bedah yang sedang memegang pisau bedah di dekat pembuluh darah vital. Salah lihat sedikit saja karena gangguan visual, taruhannya adalah nyawa. Itulah mengapa pada sekitar tahun 1914, seorang dokter berpengaruh mulai mempopulerkan penggunaan warna hijau agar mata tetap segar.

Teori Roda Warna: Hijau adalah Lawan Sejati Merah

Untuk memahami kenapa harus hijau (atau biru), kita perlu melirik sedikit ke teori dasar seni rupa, yaitu roda warna. Kalau kamu pernah melihat lingkaran warna di pelajaran seni sekolah dulu, kamu akan tahu kalau warna merah letaknya berseberangan langsung dengan warna hijau. Dalam dunia optik, warna yang berseberangan ini disebut sebagai warna komplementer.

Karena hijau adalah lawan dari merah, warna ini berfungsi sebagai "penyegar" bagi saraf mata dokter. Saat dokter terus-menerus melihat darah yang merah membara, reseptor warna merah di mata mereka akan mengalami kelelahan atau desensitisasi. Jika mereka kemudian melihat warna putih, otak akan secara otomatis mengompensasi kelelahan itu dengan memunculkan warna lawan, yaitu hijau. Namun, jika lingkungan sekitarnya (seperti baju rekan sejawat atau kain penutup pasien) sudah berwarna hijau, maka bayangan hijau tadi akan "menyatu" dan tidak mengganggu pandangan.

Sederhananya, warna hijau membantu dokter untuk tetap sensitif terhadap variasi warna merah. Ini krusial banget, lho. Dalam operasi, dokter harus bisa membedakan mana darah segar, mana jaringan yang mulai mati, mana urat saraf, dan mana organ tubuh lainnya. Kalau mata mereka "tumpul" karena terlalu lama melihat merah, mereka bisa saja salah membedakan detail-detail kecil tersebut.

Melawan Kelelahan Mata yang Hakiki

Operasi itu bukan kegiatan yang singkat. Ada operasi yang memakan waktu tiga jam, lima jam, bahkan sampai belasan jam. Selama itu pula, mata dokter dipaksa bekerja ekstra keras di bawah sorotan lampu yang luar biasa terang. Di sinilah warna hijau dan biru bekerja sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Secara psikologis, warna hijau dan biru memberikan efek relaksasi dan menenangkan saraf. Berbeda dengan warna merah yang memicu adrenalin dan kewaspadaan (yang kalau berlebihan malah bikin stres), warna hijau membantu menurunkan tekanan visual. Mata manusia itu sangat efisien dalam melihat spektrum warna hijau karena evolusi kita yang terbiasa hidup di alam liar yang penuh pepohonan. Jadi, saat dokter melihat pakaian rekannya yang hijau, mata mereka seolah-olah sedang mendapatkan momen "istirahat sejenak" tanpa harus benar-benar memejamkan mata.

Bisa dibilang, memakai baju hijau adalah cara paling murah dan efektif untuk menjaga akurasi seorang ahli bedah. Kalau mata mereka segar, tangan mereka tetap stabil, dan pengambilan keputusan tetap tajam.

Bukan Sekadar Hijau Biasa

Mungkin ada yang bertanya, "Kenapa sekarang banyak juga yang pakai biru?" Jawabannya sebenarnya mirip. Biru juga merupakan warna dingin yang letaknya cukup dekat dengan hijau dalam spektrum warna, sehingga fungsinya hampir sama dalam menetralkan warna merah darah. Selain itu, biru laut sering dianggap lebih nyaman di mata bagi beberapa orang dibandingkan hijau yang terlalu terang.

Di era modern ini, seragam operasi (yang sering disebut scrubs) memang sudah jadi standar global. Bukan cuma soal warna, tapi bahannya pun dibuat agar mudah dicuci dan didisinfeksi. Namun tetap saja, pemilihan warna hijau dan biru adalah bukti bahwa sains dan kedokteran itu memperhatikan detail sekecil apa pun, bahkan hingga ke urusan bagaimana mata kita memproses cahaya.

Jadi, lain kali kalau kamu melihat dokter memakai baju hijau di rumah sakit, jangan anggap mereka lagi ingin bergaya ala karakter di film-film. Mereka sedang menggunakan teknologi warna untuk memastikan bahwa mata mereka tetap prima demi menyelamatkan hidup seseorang. Ternyata, urusan pilih warna baju nggak cuma penting buat kencan atau kondangan saja, ya! Di meja operasi, salah pilih warna bisa jadi perkara beda nasib.

Sebagai penutup, kita bisa belajar bahwa hal-hal sederhana di sekitar kita seringkali punya alasan ilmiah yang sangat masuk akal. Kadang, solusi untuk masalah besar tidak selalu berupa teknologi canggih yang mahal, tapi cukup dengan memahami bagaimana tubuh manusia bekerja dan menyesuaikannya dengan sedikit bantuan dari roda warna.

Logo Radio
🔴 Radio Live