Asal-usul Kata Halo: Sapaan Telepon yang Mendunia
Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 09:15 AM


Mengapa Kita Mengatakan "Halo" Saat Menjawab Telepon? Rivalitas "Bajak Laut" vs "Si Jenius Lampu"
Pernahkah kalian merasa penasaran, kenapa setiap kali ada telepon masuk, kata pertama yang meluncur dari mulut kita hampir selalu "Halo"? Bukan "Oi", "Apa kabar", atau mungkin "Siapa nih?". Kebiasaan ini sudah mendarah daging secara global, melintasi batas negara dan bahasa. Tapi, tahukah kalian kalau di balik satu kata sederhana itu, tersimpan drama rivalitas tingkat tinggi antara dua jenius paling berpengaruh di dunia? Ya, kita bicara soal Thomas Alva Edison dan Alexander Graham Bell.
Bayangkan sebuah dunia paralel di mana kalian mengangkat telepon dan berteriak, "Ahoy!". Terdengar seperti anggota kru bajak laut Topi Jerami di anime One Piece, bukan? Tapi faktanya, itulah yang hampir terjadi jika sejarah memihak pada Alexander Graham Bell, sang penemu telepon yang kita kenal di buku-buku sekolah.
Ambisi Bell: Menjadikan Kita Semua "Pelaut"
Alexander Graham Bell adalah sosok yang sangat menghargai tradisi. Ketika ia berhasil mematenkan telepon pada tahun 1876, ia merasa butuh sebuah kata sapaan yang berwibawa dan mudah dikenali untuk memulai percakapan lewat kabel tembaga tersebut. Pilihan Bell jatuh pada kata "Ahoy".
Kata "Ahoy" sebenarnya punya sejarah panjang di dunia maritim. Para pelaut sudah menggunakannya sejak ratusan tahun lalu untuk memanggil kapal lain atau sekadar menyapa rekan di pelabuhan. Bell merasa "Ahoy" punya frekuensi suara yang tegas dan sulit disalahpahami meski kualitas audio telepon zaman dulu masih kresek-kresek parah. Sampai akhir hayatnya, Bell dikabarkan tetap setia menggunakan "Ahoy" setiap kali mengangkat telepon. Dia benar-benar berkomitmen dengan pilihannya, sebuah sikap yang mungkin sekarang kita sebut sebagai "konsisten tingkat dewa".
Masalahnya, dunia punya rencana lain. Dan rencana itu datang dari rival bebuyutannya yang punya insting pemasaran lebih tajam.
Edison dan Revolusi "Hello"
Di sudut lain, Thomas Edison sedang sibuk menyempurnakan teknologi pemancar telepon milik Bell agar suaranya lebih jernih. Edison, yang lebih dikenal sebagai penemu lampu pijar, punya pandangan yang lebih praktis dan—bisa dibilang—lebih "pop". Dia merasa "Ahoy" terlalu kaku dan terdengar aneh untuk percakapan sehari-hari di darat.
Sekitar tahun 1877, Edison mengusulkan penggunaan kata "Hello". Menariknya, pada masa itu, "Hello" (atau variasi lamanya seperti hallo atau hullo) bukanlah kata sapaan untuk memulai obrolan. Orang zaman dulu menggunakan "Hello" untuk mengekspresikan rasa terkejut, seperti saat kita bilang "Lho!" atau "Eh!".
Dalam sebuah surat yang dikirimkan Edison kepada T.B.A. David, presiden Central District and Printing Telegraph Company di Pittsburgh, Edison menyarankan agar operator telepon menggunakan kata "Hello" untuk memanggil pelanggan. Logikanya sederhana: kata ini punya bunyi vokal yang kuat yang bisa menembus gangguan statis pada kabel telepon purba. Edison tidak butuh kewibawaan ala pelaut; dia butuh efektivitas.
Pertempuran Budaya di Meja Operator
Lantas, bagaimana "Hello" bisa menang telak melawan "Ahoy"? Jawabannya ada pada para "Hello Girls". Di awal kemunculan telepon, tidak ada fitur direct dialing. Kalian harus tersambung ke pusat penyambung (switchboard) yang dioperasikan oleh manusia—biasanya perempuan muda.
Para operator ini dilatih untuk menggunakan kata "Hello" saat menyambungkan kabel. Karena merekalah yang menjadi wajah (atau suara) dari teknologi baru ini, masyarakat pun mulai meniru gaya bicara mereka. Lambat laun, "Hello" menjadi standar emas komunikasi jarak jauh. Buku panduan telepon pertama di dunia bahkan mencantumkan kata "Hello" sebagai standar sapaan resmi. Bell mungkin punya paten teknologinya, tapi Edison memenangkan hati dan lidah masyarakat.
Rasanya agak lucu kalau dipikir-pikir. Kita secara tidak sadar mengikuti saran seorang pengusaha dari abad ke-19 setiap kali memegang smartphone canggih kita. Sejarah memang punya cara yang unik untuk bertahan dalam kebiasaan receh kita sehari-hari.
Mengapa "Halo" Terasa Lebih Pas?
Jika kita melihat dari kacamata linguistik, pilihan Edison sebenarnya cukup jenius. Kata "Hello" memiliki struktur yang memungkinkan mulut terbuka lebar di bagian akhir, memberikan penekanan yang jelas. Di sisi lain, "Ahoy" terasa lebih tertutup di bagian akhir. Dalam komunikasi yang seringkali terganggu sinyal, kejelasan suara adalah segalanya.
Selain itu, ada faktor psikologis. "Ahoy" membawa beban identitas profesi tertentu (pelaut), sementara "Hello" terasa lebih netral dan bisa masuk ke semua kalangan. Dari kalangan bangsawan hingga rakyat biasa, semua merasa nyaman menggunakan kata yang awalnya hanya ekspresi kaget ini.
Bayangkan saja kalau kita masih memakai "Ahoy" sekarang. Saat gebetan menelepon, kita bakal menjawab, "Ahoy, sayang!"—yang jujur saja, malah terdengar seperti kita sedang berada di atas kapal nelayan mencari ikan tuna daripada sedang PDKT.
Warisan yang Tak Tergantikan
Hingga hari ini, pengaruh Edison tetap abadi. Meskipun bahasa terus berkembang, meskipun slang baru bermunculan setiap minggu di TikTok, kata "Halo" atau "Hello" tetap tak tergoyahkan. Ia telah bertransformasi dari sekadar kata menjadi sebuah protokol global.
Bahkan Alexander Graham Bell, sang pencetus "Ahoy", mungkin akan terheran-heran melihat betapa dominannya pilihan rivalnya itu. Meskipun Bell memenangkan perlombaan teknologi, Edison memenangkan budaya. Ini membuktikan bahwa dalam inovasi, bukan cuma soal siapa yang menemukan alatnya, tapi soal siapa yang bisa mendefinisikan cara manusia menggunakannya.
Jadi, lain kali kalau kalian mengangkat telepon, ingatlah bahwa kalian sedang melakukan sebuah ritual kecil yang merupakan hasil dari "perang dingin" dua ilmuwan hebat masa lalu. Dan jika kalian merasa bosan dengan kata "Halo", coba sesekali gunakan "Ahoy" saat menjawab telepon dari teman akrab. Siapa tahu, kalian bisa membangkitkan kembali semangat Alexander Graham Bell yang terpendam, meski risikonya mungkin kalian akan dianggap sedang halu jadi bajak laut.
Next News

Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?
in 6 hours

Kenapa Bus Sekolah Warna Kuning? Bukan Sekadar Estetika!
in 5 hours

Kenapa Nggak Biru atau Ungu? Rahasia Warna Lampu Lalu Lintas
in 4 hours

Arti Warna Paspor: Dari Alasan Geopolitik hingga Standar Global
in 3 hours

Arti di Balik Tradisi Cheers yang Sering Kamu Lakukan
in 2 hours

Panduan Bijak Beli Takjil Agar Dompet Tidak Menangis
in 5 hours

Alasan Mona Lisa Tak Sebesar Bayanganmu dan Karya Lain yang Terabaikan
in an hour

Suka Bau Tanah Saat Hujan Itu Namanya Petrichor
5 minutes ago

Misteri Menguap Berjamaah: Mengapa Kita Saling Menulari?
35 minutes ago

Hemat Saat Ramadan! Ini Cara Simpan Stok Makanan Biar Gak Mubazir
in 6 hours






