Kenapa Donat Bolong Tengahnya? Ini Alasan Unik di Baliknya
Nisrina - Thursday, 19 February 2026 | 04:15 PM


Filosofi Lubang Donat: Mengapa Tengahnya Harus Hilang Demi Kenikmatan Hakiki?
Pernahkah kalian tengah asyik nongkrong di kafe, memesan segelas kopi susu gula aren, lalu ditemani sepiring donat glaze yang mengkilap, dan tiba-tiba sebuah pertanyaan eksistensial muncul di kepala: "Kenapa sih donat harus bolong tengahnya?" Apakah ini konspirasi para penjual roti supaya mereka bisa menghemat adonan? Ataukah lubang itu sengaja dibuat agar kita bisa menyelipkan jari telunjuk dan memutarnya seperti gasing sebelum dimakan?
Tenang, rasa penasaran kalian itu valid. Tapi sebelum kejauhan berpikir kalau ini adalah trik marketing demi cuan semata, mari kita bedah secara mendalam. Lubang di tengah donat itu bukan sekadar hiasan atau estetika biar kelihatan Instagrammable. Ada alasan sejarah yang heroik dan prinsip fisika yang sangat masuk akal di balik kekosongan tersebut. Iya, kita akan bicara soal perpindahan panas, kawan.
Sejarah Singkat: Dari Adonan Mentah ke Revolusi Kapten Kapal
Kalau kita tarik mundur ke abad ke-19, donat tidak selalu punya lubang. Di Belanda, nenek moyang donat dikenal dengan nama olykoeks atau kue minyak. Bentuknya cuma bola-bola adonan manis yang digoreng dalam lemak babi sampai warnanya kecokelatan. Masalahnya satu: karena bentuknya bulat utuh dan padat, bagian luarnya sering kali sudah garing bahkan hampir gosong, sementara bagian tengahnya masih lembek, lengket, dan mentah. Bayangkan kalian menggigit sesuatu yang renyah tapi tiba-tiba menemukan "ranjau" adonan basah di dalamnya. Nggak enak banget, kan?
Nah, di sinilah legenda Hanson Gregory muncul. Gregory adalah seorang kapten kapal asal Amerika yang pada tahun 1847 merasa jengah dengan kue goreng yang bagian tengahnya selalu mentah. Ada versi cerita yang bilang dia menggunakan botol merica untuk melubangi bagian tengah adonan sebelum digoreng. Alhasil, masalah "tengah mentah" itu hilang seketika. Gregory menciptakan solusi desain yang jenius tanpa ia sadari bahwa ia baru saja menerapkan prinsip termodinamika sederhana.
Fisika di Balik Lubang: Rahasia Matang Merata
Sekarang, mari kita masuk ke bagian yang agak "ilmiah" tapi tetap santai. Mengapa lubang itu krusial? Jawabannya adalah Heat Transfer alias perpindahan panas. Saat kita menggoreng sesuatu dalam minyak panas, panas merambat dari permukaan luar menuju ke bagian dalam adonan. Masalahnya, adonan donat itu cukup padat dan tebal.
Dalam fisika, semakin besar volume suatu benda dibandingkan dengan luas permukaannya (surface area to volume ratio), semakin lama waktu yang dibutuhkan panas untuk mencapai titik pusatnya. Jika donat berbentuk bola padat, bagian luar akan terpapar minyak panas bersuhu 180 derajat Celcius secara terus-menerus. Sementara itu, bagian tengah yang "terisolasi" oleh lapisan adonan di sekelilingnya butuh waktu jauh lebih lama untuk matang.
Kalau kalian memaksakan menggoreng sampai bagian tengahnya matang, bagian luarnya pasti sudah berubah jadi arang. Sebaliknya, kalau kalian mengangkatnya saat bagian luar sudah cantik keemasan, bagian tengahnya masih berupa adonan cair yang bikin sakit perut. Dengan memberikan lubang di tengah, kita secara otomatis meningkatkan luas permukaan adonan yang bersentuhan langsung dengan minyak panas. Panas tidak lagi harus "berjalan jauh" ke tengah, karena bagian tengahnya sudah ditiadakan dan diganti dengan permukaan baru yang juga terpapar panas. Hasilnya? Donat matang dengan sempurna, konsisten, dan teksturnya merata dari luar sampai ke dalam.
Bukan Sekadar Estetika, Ini Efisiensi yang Estetik
Selain soal kematangan, lubang donat juga membantu dalam proses penggorengan massal. Tanpa lubang, donat cenderung akan bergulung-gulung tidak beraturan di dalam wajan karena distribusi berat yang tidak seimbang saat mengembang. Lubang di tengah memberikan titik keseimbangan yang lebih baik, sehingga donat tetap stabil saat mengapung di minyak.
Mungkin ada yang berargumen, "Tapi kan ada bomboloni atau donat isi yang nggak bolong?" Benar sekali. Tapi perhatikan bedanya: bomboloni biasanya memiliki tekstur adonan yang lebih ringan, atau digoreng dengan teknik suhu yang lebih rendah dan terkontrol agar matang ke dalam tanpa menghanguskan kulit luarnya. Dan tetap saja, risiko bagian dalam yang agak doughy tetap ada jika tidak ditangani oleh tangan profesional.
Jadi, lubang pada donat itu adalah bukti bahwa kuliner bukan cuma soal rasa, tapi juga soal teknik dan pemahaman terhadap material. Lubang itu adalah ruang kosong yang penuh makna. Ia ada agar kita tidak perlu memakan adonan mentah. Ia ada agar setiap gigitan dari pinggir hingga ke dekat lubang memiliki kerenyahan yang sama.
Kesimpulan: Menghargai Ruang Kosong
Lain kali kalau kalian memegang donat, jangan lagi menganggap lubang itu sebagai bentuk kerugian konsumen karena adonannya dikurangi. Pikirkanlah lubang itu sebagai mahakarya teknik masa lalu yang memecahkan masalah distribusi panas. Tanpa lubang itu, donat hanyalah roti goreng gagal yang tengahnya bikin mual.
Secara filosofis, donat mengajarkan kita bahwa terkadang, untuk mencapai kesempurnaan, kita harus merelakan sesuatu untuk hilang. Kekosongan di tengah itulah yang justru membuat keseluruhan bagian lainnya menjadi berarti dan nikmat untuk disantap. Jadi, nikmatilah donat kalian, hargai lubangnya, dan syukurilah betapa pintarnya Kapten Gregory (atau siapa pun penemunya) dalam membuat camilan yang matangnya merata sampai ke hati. Selamat makan!
Next News

Fakta Keju Emmental Ikon Kartun Tom and Jerry yang Mendunia
in 6 hours

Saus Tomat Tak Mau Keluar? Simak Tips Ampuh Agar Tidak Tumpah
in 5 hours

Rahasia Ruang Operasi: Kenapa Dokter Tidak Pakai Jas Putih?
in 3 hours

Perut Kembung Setelah Buka Puasa? Lakukan Ini Agar Begah Hilang
in 5 hours

Kenapa Bus Sekolah Warna Kuning? Bukan Sekadar Estetika!
in 2 hours

Kenapa Nggak Biru atau Ungu? Rahasia Warna Lampu Lalu Lintas
in an hour

Jangan Kalap! Ini Bahaya Makan Berlebihan Saat Buka Puasa
in 6 hours

Arti Warna Paspor: Dari Alasan Geopolitik hingga Standar Global
in 18 minutes

Arti di Balik Tradisi Cheers yang Sering Kamu Lakukan
42 minutes ago

Panduan Bijak Beli Takjil Agar Dompet Tidak Menangis
in 2 hours






