Ceritra
Ceritra Warga

Jangan Kalap! Ini Bahaya Makan Berlebihan Saat Buka Puasa

Refa - Thursday, 19 February 2026 | 06:00 PM

Background
Jangan Kalap! Ini Bahaya Makan Berlebihan Saat Buka Puasa
Ilustrasi buka puasa (Freepik/rawpixel.com)

Jangan Langsung "Balas Dendam": Begini Urutan Berbuka Puasa yang Benar Biar Nggak Tumbang

Bayangkan skenario ini: Adzan Maghrib berkumandang, suara muadzin terdengar bagaikan melodi paling indah sejagat raya. Di depan mata sudah tersaji segelas es teh manis yang embun dinginnya menggoda, sepiring gorengan yang masih berasap, hingga rendang sisa sahur tadi pagi yang baunya memanggil-manggil nama kamu. Tanpa pikir panjang, semua langsung "dihajar" dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Hasilnya? Perut kembung, begah, dan mata mendadak seberat timbangan dosa sampai-sampai shalat Tarawih pun jadi wacana karena kamu ketiduran di depan TV.

Fenomena "balas dendam" saat berbuka puasa ini sebenarnya sudah jadi budaya yang mendarah daging di kita. Padahal, kalau kita tanya ahli gizi, pola makan bar-bar kayak gitu adalah tiket VIP menuju masalah pencernaan dan penurunan produktivitas selama Ramadan. Jujur saja, menahan lapar selama 13 hingga 14 jam itu bukan perkara mudah, tapi memperlakukan perut seperti tong sampah sesaat setelah adzan adalah kesalahan fatal. Ada sains di balik rasa lapar kita, dan ada urutan mainnya kalau mau tetap sehat sampai hari kemenangan nanti.

Kenapa Perut Nggak Boleh Langsung "Dihantam" Beban Berat?

Mari kita bicara logika sederhana. Selama belasan jam, sistem pencernaan kita itu ibarat mesin yang sedang dalam mode standby atau istirahat total. Enzim-enzim pencernaan tidak diproduksi sebanyak biasanya, dan lambung sedang dalam kondisi kosong serta sensitif. Kalau tiba-tiba kamu memasukkan nasi padang porsi kuli atau es buah dengan sirup yang melimpah, lambung bakal kaget bukan main. Ini yang disebut dengan shock sistem pencernaan.

Menurut para ahli gizi, ketika kita langsung makan berat, gula darah akan melonjak drastis (spike). Tubuh kemudian memproduksi insulin secara besar-besaran untuk mengatasinya. Efeknya? Kamu bakal merasa ngantuk luar biasa yang sering kita sebut dengan istilah food coma. Selain itu, kerja lambung yang terlalu berat secara mendadak bisa memicu asam lambung naik (GERD), perut melilit, hingga rasa mual yang nggak nyaman banget.

Tahap Pertama: Rehidrasi yang Sopan

Urutan pertama dan yang paling sakral tentu saja adalah air putih. Tapi, tunggu dulu. Jangan langsung menenggak air es segalon. Meskipun air es terasa sangat segar di kerongkongan yang kering, suhu yang terlalu kontras dengan suhu tubuh bisa memicu kontraksi pada lambung. Pilihan terbaik adalah air putih dengan suhu ruang atau hangat kuku.

Air putih berfungsi untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang tanpa memberikan beban kerja yang berat pada sistem metabolisme. Minumlah secara perlahan, jangan seperti orang ikut lomba minum cepat. Berikan waktu bagi sel-sel tubuhmu untuk menyerap cairan tersebut dengan tenang.

Tahap Kedua: Karbohidrat Sederhana yang "Ramah"

Setelah air putih, barulah kita masuk ke menu takjil. Di sini, kuncinya adalah mengembalikan energi dengan cepat tapi bertahap. Kurma adalah pilihan yang paling direkomendasikan secara medis, bukan cuma karena alasan sunnah. Kurma mengandung glukosa dan fruktosa alami yang mudah diserap tubuh untuk menaikkan kadar gula darah yang drop selama puasa.

Kalau nggak suka kurma, buah-buahan segar seperti pisang atau pepaya juga oke banget. Hindari gorengan sebagai menu pembuka utama. Kita tahu, gorengan adalah "kriptonit" bagi orang Indonesia—sulit ditolak tapi jahat. Lemak jenuh dalam gorengan sangat sulit dicerna oleh lambung yang baru bangun tidur, dan ini sering jadi penyebab utama perut terasa begah.

Tahap Ketiga: Jeda Shalat Maghrib (Waktu Istirahat untuk Lambung)

Nah, ini adalah rahasia para ahli gizi yang sering kita abaikan: beri jeda. Setelah minum air dan makan sedikit buah atau kurma, jangan langsung sikat nasi. Gunakan waktu shalat Maghrib sebagai waktu "pemanasan" bagi perut. Jeda sekitar 15 sampai 20 menit ini sangat krusial agar enzim pencernaan mulai berproduksi secara normal dan otak mendapatkan sinyal bahwa makanan sudah mulai masuk.

Jeda ini juga berfungsi sebagai pengendali nafsu makan. Biasanya, kalau kita langsung makan berat dalam keadaan sangat lapar, kita cenderung makan berlebihan (overeating). Dengan memberi jeda, rasa lapar yang meledak-ledak tadi akan sedikit mereda, sehingga saat makan besar nanti, kamu bisa lebih terkontrol.

Tahap Keempat: Makan Besar dengan Aturan Gizi Seimbang

Setelah shalat Maghrib, barulah saatnya makan besar. Tapi ingat, "makan besar" bukan berarti "makan sepuasnya". Ahli gizi tetap menyarankan prinsip piring makanku: setengah piring berisi sayur dan buah, seperempat karbohidrat (nasi, kentang, atau jagung), dan seperempat protein (ikan, ayam, tempe, atau tahu).

Pilih karbohidrat kompleks jika memungkinkan, seperti nasi merah atau gandum, karena mereka melepaskan energi secara perlahan sehingga kamu nggak cepat lapar lagi di tengah malam. Dan yang terpenting, kunyahlah makanan dengan perlahan. Lambung tidak punya gigi, jadi bantu dia dengan menghancurkan makanan secara maksimal di mulut.

Opini Pribadi: Melawan Budaya "Lapar Mata"

Kalau mau jujur, tantangan terbesar saat berbuka puasa itu bukan rasa lapar di perut, tapi "lapar mata" di kepala. Kita seringkali merasa sanggup menghabiskan seluruh isi pasar takjil saat jam 5 sore, tapi kenyataannya perut kita punya kapasitas terbatas. Mengikuti urutan berbuka yang benar bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga soal melatih kesadaran (mindfulness) dalam makan.

Seringkali kita merasa lemas setelah berbuka justru karena salah urutan makan. Kita ingin segar, tapi malah tumbang. Kita ingin bertenaga untuk ibadah malam, tapi malah sibuk mencari minyak kayu putih karena perut kembung. Jadi, mulai besok, coba deh rem sedikit nafsunya. Mulai dari yang ringan, beri jeda, baru masuk ke menu utama. Tubuhmu bakal berterima kasih, dan ibadah Ramadanmu pun jadi jauh lebih berkualitas tanpa drama perut melilit. Selamat mencoba dan selamat berbuka dengan bijak!

Logo Radio
🔴 Radio Live