Ceritra
Ceritra Warga

Mengungkap Wajah Ganda Bencana Banjir Ternyata Tak Selalu Disebabkan Hujan Deras

Refa - Wednesday, 10 December 2025 | 03:30 PM

Background
Mengungkap Wajah Ganda Bencana Banjir Ternyata Tak Selalu Disebabkan Hujan Deras
Banjir (NBC News/)

Memasuki puncak musim hujan di bulan Desember, istilah banjir kembali mendominasi percakapan sehari-hari dan lini masa media sosial. Bagi orang awam, semua air yang menggenangi daratan sering kali dipukul rata dengan satu sebutan, yaitu banjir. Padahal secara hidrologi dan karakteristik, bencana ini memiliki berbagai "wajah" yang berbeda.


Memahami perbedaan jenis banjir bukan sekadar menambah wawasan, melainkan kunci vital dalam mitigasi bencana. Strategi penyelamatan diri saat menghadapi banjir rob tentu sangat berbeda dengan saat menghadapi banjir bandang. Berikut adalah klasifikasi tipe banjir yang kerap melanda wilayah Indonesia.


Banjir Bandang yang Datang Tanpa Ketuk Pintu

Ini adalah jenis banjir yang paling berbahaya dan mematikan. Banjir bandang atau flash flood terjadi secara tiba-tiba dengan kecepatan arus yang sangat tinggi. Biasanya bencana ini dipicu oleh hujan lebat di daerah dataran tinggi atau pegunungan yang tanahnya sudah jenuh air atau gundul.


Ciri khas mengerikan dari banjir bandang adalah material yang dibawanya. Air tidak hanya datang sendiri, tetapi bercampur dengan lumpur pekat, bebatuan besar, dan batang-batang pohon yang tercabut dari akar. Karena datangnya sangat cepat (sering kali dalam hitungan menit), waktu evakuasi menjadi sangat sempit. Tanda alam yang sering muncul biasanya adalah air sungai yang mendadak keruh berlumpur dan surut drastis sebelum kemudian menerjang dengan volume raksasa.


Banjir Rob Akibat Pasang Air Laut

Bagi masyarakat yang tinggal di pesisir utara Jawa seperti Semarang, Jakarta Utara, atau Surabaya, banjir rob adalah tamu bulanan yang menyebalkan. Uniknya, banjir jenis ini bisa terjadi meski tidak ada hujan setetes pun. Penyebab utamanya adalah pasang air laut yang lebih tinggi daripada daratan.


Fenomena ini erat kaitannya dengan siklus gravitasi bulan. Saat bulan purnama atau bulan mati, gaya tarik bulan menyebabkan permukaan air laut naik dan meluap ke daratan rendah di pesisir. Masalah ini semakin parah di kota-kota yang mengalami penurunan muka tanah (land subsidence) akibat penyedotan air tanah berlebihan. Air laut yang asin ini sifatnya korosif, sehingga lebih cepat merusak kendaraan dan bangunan dibandingkan air hujan biasa.


Banjir Cileuncang atau Genangan Lokal

Masyarakat perkotaan sering menyebutnya sebagai "banjir numpang lewat". Banjir Cileuncang terjadi akibat hujan deras lokal yang tidak mampu ditampung oleh sistem drainase atau selokan. Penyebab utamanya hampir selalu karena ulah manusia, seperti sampah yang menyumbat got atau permukaan tanah yang tertutup beton sehingga air tidak bisa meresap.


Biasanya, banjir jenis ini akan segera surut beberapa jam setelah hujan berhenti. Meskipun tidak terlalu membahayakan nyawa, banjir Cileuncang adalah biang kerok kemacetan lalu lintas dan kerusakan mesin motor yang mogok karena nekat menerobos genangan.


Banjir Kiriman dari Hulu

Istilah ini sering terdengar di Jakarta saat pintu air Katulampa di Bogor berstatus Siaga 1. Banjir kiriman terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu sungai, lalu volume air yang besar mengalir ke wilayah hilir yang mungkin cuacanya sedang cerah-cerah saja.


Karena air menempuh perjalanan jauh melalui aliran sungai, biasanya ada jeda waktu beberapa jam sebelum banjir benar-benar merendam permukiman di hilir. Karakteristik banjir ini adalah naiknya permukaan air secara perlahan namun pasti, dan genangannya bisa bertahan berhari-hari hingga berminggu-minggu jika curah hujan di hulu terus berlanjut dan sungai mengalami pendangkalan.


Mengenali musuh adalah langkah awal untuk selamat. Dengan mengetahui jenis banjir yang berpotensi menyerang lingkungan tempat tinggal, persiapan logistik dan rute evakuasi bisa direncanakan dengan lebih tepat dan tenang.

Logo Radio
🔴 Radio Live