Ceritra
Ceritra Warga

Mengungkap Misteri Merkurius Sebagai Planet yang Seharusnya Tidak Ada di Tata Surya

Nisrina - Wednesday, 21 January 2026 | 01:15 PM

Background
Mengungkap Misteri Merkurius Sebagai Planet yang Seharusnya Tidak Ada di Tata Surya
Potret Merkurius yang diambil di Turki pada 2019. (Anadolu Agency via Getty Images/Ozkan Bilgin)

Merkurius sering kali dipandang sebelah mata sebagai planet yang membosankan di lingkungan Tata Surya kita. Dengan permukaannya yang gersang, penuh kawah, dan tanpa atmosfer yang tebal, planet ini sekilas tampak seperti bola batu mati yang terpanggang matahari. Namun di balik penampilannya yang sederhana, Merkurius menyimpan anomali besar yang membuat para astronom di seluruh dunia kebingungan selama bertahun-tahun. Berdasarkan model pembentukan planet yang kita pahami saat ini, Merkurius memiliki karakteristik yang sangat bertentangan dengan logika sains. Bahkan beberapa ilmuwan menyebutnya sebagai planet yang seharusnya tidak ada.

Salah satu keanehan utama Merkurius terletak pada struktur fisiknya yang ekstrem. Planet ini berukuran sangat kecil, bahkan lebih kecil dari beberapa bulan di Tata Surya, namun memiliki kepadatan yang luar biasa tinggi. Merkurius adalah planet terpadat kedua setelah Bumi. Kepadatan ini disebabkan oleh inti logam raksasa yang menyumbang sekitar 85 persen dari jari-jari planet tersebut. Sebagai perbandingan, inti Bumi hanya memakan separuh dari jari-jarinya. Struktur ini menyisakan kerak dan mantel berbatu yang sangat tipis pada Merkurius, sebuah komposisi yang sulit dijelaskan oleh teori pembentukan planet standar.

Misteri semakin dalam ketika misi Messenger milik NASA mengorbit planet ini antara tahun 2011 hingga 2015. Dengan jarak yang sangat dekat ke matahari, suhu permukaan Merkurius bisa melonjak hingga 430 derajat Celcius. Logikanya, panas ekstrem ini seharusnya sudah lama menguapkan unsur-unsur volatil atau mudah menguap. Namun data menunjukkan sebaliknya. Messenger menemukan keberadaan kalium, torium, klorin, dan bahkan es air yang tersembunyi di kawah kutub yang gelap. Keberadaan unsur-unsur ini membantah teori lama yang menyatakan bahwa Merkurius terbentuk melalui tabrakan panas yang dahsyat yang seharusnya menghilangkan zat-zat tersebut.

Para ahli dinamika planet telah mengajukan berbagai teori untuk memecahkan teka-teki asal-usul Merkurius. Salah satu skenario populer adalah teori tabrakan raksasa. Teori ini menduga bahwa Merkurius awalnya berukuran dua kali lebih besar, mungkin setara dengan Mars. Namun pada masa awal pembentukannya, sebuah objek raksasa menabraknya dan mengikis sebagian besar mantel serta kerak luarnya sehingga hanya menyisakan inti besi yang padat. Meskipun teori ini bisa menjelaskan ukuran intinya, teori ini gagal menjelaskan mengapa unsur volatil masih bertahan pasca tabrakan yang seharusnya sangat eksplosif.

Skenario lain yang lebih radikal menyarankan bahwa Merkurius mungkin terbentuk di wilayah yang jauh lebih dingin dan jauh dari matahari sebelum akhirnya bermigrasi ke posisinya saat ini. Ada pula hipotesis yang menyebutkan bahwa Merkurius terbentuk dari material kaya besi di dekat matahari yang tersisa setelah debu-debu ringan diuapkan oleh letusan matahari muda. Namun semua model ini memiliki celah dan belum ada satu pun yang mampu menjelaskan kondisi Merkurius secara utuh dan memuaskan.

Tantangan untuk memahami Merkurius bukan hanya soal memecahkan sejarah Tata Surya kita sendiri, melainkan juga untuk memahami alam semesta yang lebih luas. Pengamatan astronomi menemukan bahwa galaksi kita mungkin dipenuhi oleh planet serupa yang disebut sebagai "Super Mercuries". Planet-planet eksoplanet ini memiliki karakteristik padat dan kaya besi seperti Merkurius namun dengan ukuran yang jauh lebih besar. Jika kita tidak bisa memahami bagaimana Merkurius terbentuk di halaman belakang kita sendiri, akan sulit bagi ilmuwan untuk memahami bagaimana planet serupa terbentuk di bintang lain.

Harapan baru kini tertumpu pada misi BepiColombo. Ini adalah misi gabungan antara Badan Antariksa Eropa (ESA) dan Badan Antariksa Jepang (JAXA) yang diluncurkan pada 2018. Wahana antariksa ini dijadwalkan memasuki orbit Merkurius pada November 2026. Misi ini membawa instrumen canggih yang dirancang untuk memetakan komposisi permukaan, gravitasi, dan medan magnet planet secara mendetail. Data dari BepiColombo diharapkan dapat memberikan petunjuk apakah Merkurius pernah memiliki lautan magma purba atau apakah intinya memiliki sejarah yang berbeda dari yang kita duga.

Selain misi luar angkasa, para ilmuwan di Bumi juga sedang meneliti jenis meteorit langka bernama aubrit. Batuan luar angkasa ini memiliki kemiripan kimiawi yang mencolok dengan apa yang diperkirakan sebagai komposisi proto-Merkurius. Jika terbukti bahwa aubrit adalah pecahan dari Merkurius purba yang terlempar akibat tabrakan, maka batu ini bisa menjadi kunci jawaban yang selama ini dicari.

Merkurius tetap menjadi sebuah paradoks yang menggantung di langit. Keberadaannya menantang pemahaman manusia tentang bagaimana sebuah sistem tata surya bekerja. Dari sebuah titik kecil yang terlihat membosankan, Merkurius ternyata adalah laboratorium raksasa yang menyimpan rahasia tentang kekerasan, migrasi, dan evolusi planet di alam semesta. Hingga misi BepiColombo mengirimkan data terbarunya nanti, Merkurius akan tetap menyandang gelar sebagai planet misterius yang menolak untuk tunduk pada aturan yang kita buat.

Logo Radio
🔴 Radio Live