Ceritra
Ceritra Warga

Mengapa Street Feeding Dapat Menjadi Bumerang Lingkungan

Nisrina - Saturday, 13 December 2025 | 02:50 AM

Background
Mengapa Street Feeding Dapat Menjadi Bumerang Lingkungan
Street feeding kucing jalanan (iStock/)

Fenomena memberi makan kucing liar atau kucing jalanan (stray cats) telah menjadi praktik yang meluas di Indonesia, didorong oleh niat baik dan rasa kasih sayang terhadap hewan. Meskipun tindakan ini mulia, praktik "feeding only" yakni hanya memberi makan tanpa diikuti dengan tanggung jawab perawatan, sanitasi, dan pengendalian populasi, secara paradoksal dapat menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan publik yang serius, menjadi bumerang bagi komunitas yang berniat membantu.

Efek Bumerang dari Feeding Only dan Ancaman Overpopulasi

Ketika seseorang secara rutin menyediakan sumber makanan di lokasi yang sama, mereka tanpa sengaja menciptakan magnet bagi kucing-kucing liar. Ketersediaan makanan yang stabil menghilangkan tantangan kelangsungan hidup alami, yang pada gilirannya:

  1. Meningkatkan Angka Reproduksi: Kucing betina akan mencapai kondisi fisik yang lebih baik untuk bereproduksi, sehingga meningkatkan frekuensi dan jumlah kelahiran anak kucing.
  2. Memicu Penumpukan: Kucing akan terus berkumpul di lokasi tersebut, menantikan makanan, yang menyebabkan kepadatan populasi lokal yang ekstrem (overpopulation).

Dalam jumlah yang tidak terkontrol, populasi kucing liar yang padat berpotensi berubah menjadi hama lingkungan. Masalah kebersihan menjadi isu utama, di mana kotoran, urin, dan bangkai yang tidak ditangani dapat mencemari lingkungan, memicu bau tidak sedap, dan berpotensi menyebarkan penyakit (zoonosis). Selain itu, persaingan untuk mendapatkan makanan dan teritori memicu perilaku agresif yang mengganggu ketenangan lingkungan.

TNR: Solusi Etis dan Efektif untuk Pengendalian Populasi

Pendekatan yang paling tepat dan etis untuk mengatasi dilema ini adalah melalui program TNR (Trap, Neuter, and Return), atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Tangkap, Kebiri, dan Kembalikan. Tujuan dari TNR bukanlah untuk memusnahkan populasi, melainkan untuk menstabilkan dan mengurangi jumlah kucing liar secara manusiawi dalam jangka panjang.

  • Tangkap (Trap): Kucing liar ditangkap secara aman menggunakan perangkap yang manusiawi.
  • Kebiri (Neuter): Kucing menjalani prosedur sterilisasi (kebiri) oleh dokter hewan, yang mencegah reproduksi di masa mendatang. Kucing yang telah disteril ditandai (biasanya dengan memotong sedikit ujung telinga/ eartip) agar mudah dikenali.
  • Kembalikan (Return): Kucing yang telah pulih dikembalikan ke lokasi asal mereka. Kucing-kucing ini, meskipun tidak lagi dapat bereproduksi, masih berfungsi mengontrol populasi hama lain seperti tikus, sambil hidup lebih sehat karena energinya tidak lagi terkuras untuk siklus reproduksi.

Peran Komunitas dan Dukungan Medis

Kesuksesan program TNR sangat bergantung pada kolaborasi antara komunitas, aktivis kesejahteraan hewan, dan pihak medis. Di Indonesia, kesadaran ini mulai meningkat. Banyak dokter hewan dan klinik kini secara aktif menyelenggarakan program steril subsidi atau steril gratis demi menyemarakkan dan mendukung pelaksanaan TNR.

Dengan mengalihkan fokus dari sekadar memberi makan menjadi tindakan yang bertanggung jawab melalui sterilisasi, komunitas dapat secara signifikan mengurangi dampak negatif overpopulasi kucing. TNR bukan hanya tentang mengelola populasi, tetapi juga tentang menjamin kesejahteraan hewan yang lebih baik dan menciptakan lingkungan komunitas yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Logo Radio
🔴 Radio Live