Mengapa Masuk Akun "Univ Ganteng/Cantik" Bukan Sebuah Prestasi
Nisrina - Tuesday, 16 December 2025 | 12:47 PM


Sejarah digital kita sepertinya sedang mengalami fase mundur yang cukup ironis. Masih segar dalam ingatan kita pada masa pandemi beberapa tahun lalu ketika media sosial diramaikan oleh kemunculan akun-akun berbasis kampus dengan label "Cantik" atau "Ganteng". Kala itu, fenomena ini menuai kecaman keras dari berbagai pihak karena isu privasi dan etika digital. Namun, di tahun 2025 ini, tren tersebut justru bangkit kembali dengan wajah baru yang lebih masif di platform TikTok.
Akun-akun seperti "Univ X Ganteng" atau "Univ X Cantik" kembali bermunculan di beranda TikTok dan menarik ribuan interaksi. Fenomena ini bukan sekadar hiburan visual semata melainkan sebuah sinyal peringatan tentang bagaimana kita memandang privasi, validasi diri, dan esensi dari pendidikan tinggi itu sendiri.
Masalah paling mendasar dari eksistensi akun-akun ini adalah mekanisme kerjanya yang sering kali menabrak batasan privasi. Banyak admin akun tersebut mengambil foto mahasiswa dari media sosial pribadi mereka tanpa izin lalu mengunggahnya kembali demi konten publik.
Meskipun foto tersebut mungkin sudah ada di ranah publik seperti Instagram, mengurasi dan memajangnya dalam konteks penilaian fisik tanpa consent atau persetujuan pemilik adalah tindakan yang tidak etis. Hal ini pernah dikecam habis-habisan di masa lalu karena berpotensi memicu pelecehan digital. Munculnya kembali tren ini di tahun 2025 menunjukkan bahwa literasi digital dan penghargaan terhadap privasi orang lain masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi generasi muda kita. Kita seolah lupa bahwa setiap individu memiliki hak penuh atas bagaimana citra dirinya ditampilkan dan dikonsumsi oleh publik.
Objektifikasi dan Jebakan Validasi Semu
Di balik ribuan likes dan komentar pujian, terdapat praktik objektifikasi yang meresahkan. Akun-akun ini secara tidak sadar mereduksi manusia yang utuh dengan segala pemikiran dan gagasannya menjadi sekadar objek visual untuk dinikmati. Hal ini sangat rentan terjadi pada perempuan yang kerap menjadi sasaran utama objektifikasi di dunia maya. Mahasiswi dinilai hanya berdasarkan standar kecantikan yang sempit dan dijadikan bahan konsumsi mata publik.
Lebih jauh lagi, fenomena ini menyuburkan budaya haus validasi yang toxic. Bagi sebagian mahasiswa, masuk ke dalam radar akun-akun ini dianggap sebagai sebuah pencapaian sosial. Ini adalah bentuk pencarian validasi diri yang rapuh karena digantungkan pada penilaian fisik orang lain. Ego yang terpuaskan oleh pujian fisik di kolom komentar hanyalah kebahagiaan semu yang tidak membangun karakter. Justru, hal ini dapat menciptakan tekanan mental bagi mereka yang merasa tidak memenuhi standar "cantik" atau "ganteng" versi admin akun tersebut.
Mengembalikan Marwah "Perguruan Tinggi"
Kita perlu merenung kembali makna dari frasa "Perguruan Tinggi". Kampus sejatinya adalah kawah candradimuka bagi para intelektual muda untuk mengasah nalar, keterampilan, dan karakter. Sangat disayangkan jika iklim akademis ini dicemari oleh budaya yang hanya mengagungkan tampilan fisik atau "jual tampang".
Mahasiswa adalah agen perubahan yang seharusnya dikenal karena gagasan briliannya, bukan sekadar paras menawannya. Citra kampus seharusnya dibangun oleh deretan prestasi mahasiswanya di kancah nasional maupun internasional, bukan oleh seberapa banyak mahasiswa "ganteng" atau "cantik" yang mereka miliki di TikTok.
Daripada terjebak dalam angan-angan untuk viral di akun kurasi fisik, alangkah lebih bijaknya jika mahasiswa mengalihkan energi mereka untuk hal-hal yang lebih substansial. Tahun-tahun kuliah adalah waktu emas untuk membangun portofolio kehidupan nyata.
Menorehkan prestasi dalam kompetisi ilmiah, terlibat dalam proyek pengabdian masyarakat, atau mencari pengalaman melalui kerja paruh waktu (part-time) dan magang jauh lebih berharga. Pengalaman-pengalaman ini memberikan validasi yang nyata dan abadi. Sebuah sertifikat kompetensi atau surat rekomendasi kerja akan jauh lebih berguna di masa depan daripada tangkapan layar pernah masuk di akun "Kampus Cantik".
Sudah saatnya kita menormalisasi ajang pamer prestasi ketimbang pamer fisik. Mari kita ubah algoritma media sosial kampus kita. Biarkan yang viral adalah mereka yang menemukan inovasi baru, mereka yang memenangkan debat internasional, atau mereka yang merintis usaha mandiri. Dengan begitu, kita mengembalikan kehormatan dunia pendidikan ke tempat yang seharusnya yaitu sebagai panggung intelektualitas, bukan kontes kecantikan digital.
Next News

Kebiasaan Mepet di Lampu Merah Ternyata Simpan Bahaya Maut, Ini Jarak Amannya
3 hours ago

Stop Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut, Risikonya Bisa Ubah Struktur Wajah Hingga Gigi Hancur!
4 hours ago

Makan Sehari Sekali Bikin Kurus? Hati-Hati, Tren OMAD Bisa Berujung Operasi Batu Empedu
4 hours ago

Janji Energi Instan Berujung Petaka, Bahaya Energy Drink bagi Tubuh dan Otak
5 hours ago

Tak Disangka, Air Putih di Botol Minum Bisa Picu Infeksi Jika Lakukan Ini
6 hours ago

Siapa Saja yang Wajib Vaksin Dengue? Ini Rekomendasi Resmi Dokter
5 hours ago

4 Gejala Klasik Ini Bisa Jadi Tanda Arteri Jantung Tersumbat
6 hours ago

Fenomena Hilangnya Kemampuan Mengeja pada Generasi Digital dan Dampak Jangka Panjangnya
5 hours ago

Pesona Magis Celak Mata Warisan Budaya Lintas Peradaban
6 hours ago

Menikmati Kehangatan Budaya Kopi Khas Arab Saudi di Pegunungan Sarawat
6 hours ago






