Mengapa Cabai Bisa Pedas dan Sulit Hilang di Tangan?
Nisrina - Tuesday, 23 December 2025 | 01:01 PM


Bagi mayoritas lidah masyarakat Indonesia, makan tanpa sambal bagaikan sayur tanpa garam. Kurang lengkap rasanya jika menyantap hidangan lezat tanpa ditemani sensasi "hah-hah" dan keringat yang bercucuran di dahi. Rasa pedas seolah memiliki daya magis tersendiri yang membuat kapok namun sekaligus bikin ketagihan. Namun pernahkah Anda bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi di dalam mulut kita saat menggigit cabai? Mengapa benda sekecil itu bisa menciptakan sensasi seperti terbakar api?
Jawabannya terletak pada satu senyawa kimia nakal bernama capsaicin. Senyawa ini tersimpan rapat di dalam plasenta cabai atau bagian putih tempat biji-biji cabai menempel. Banyak orang mengira biji cabai adalah sumber pedasnya, padahal lapisan putih itulah gudang utamanya.
Fakta yang cukup mengejutkan adalah pedas sebenarnya bukanlah sebuah rasa. Lidah manusia hanya memiliki reseptor untuk mengecap rasa manis, asin, asam, pahit, dan umami. Pedas sejatinya adalah sensasi nyeri atau sakit.
Saat capsaicin menyentuh lidah, ia akan berikatan dengan reseptor saraf bernama TRPV1. Dalam kondisi normal, reseptor ini bertugas mendeteksi suhu panas yang berbahaya, misalnya saat kita tidak sengaja menyentuh air mendidih. Capsaicin memiliki kemampuan unik untuk membajak reseptor ini dan menipunya.
Senyawa ini mengirimkan sinyal palsu ke otak bahwa mulut sedang mengalami kontak dengan suhu panas ekstrem. Otak yang panik kemudian merespons "kebakaran" tersebut dengan mekanisme pendinginan tubuh alami. Itulah sebabnya jantung kita berdetak lebih cepat, wajah memerah, dan keringat mengucur deras untuk mendinginkan suhu tubuh yang sebenarnya tidak naik sama sekali.
Mengapa Panas Cabai "Lengket" di Tangan?
Kejadian yang tak kalah menyiksa adalah saat tangan kita terasa panas setelah mengolah sambal. Sering kali rasa panas ini bertahan berjam-jam bahkan setelah dicuci berkali-kali dengan air keran. Hal ini terjadi karena sifat kimiawi capsaicin itu sendiri.
Capsaicin adalah senyawa hidrofobik atau zat yang takut air. Ia memiliki karakteristik seperti minyak yang tidak akan pernah bisa larut jika hanya dibilas dengan air biasa. Saat kita mencuci tangan dengan air, molekul capsaicin justru semakin menyebar ke seluruh permukaan kulit tanpa terbuang.
Untuk mengusir rasa panas di tangan, kita harus melawan minyak dengan pelarut minyak. Anda bisa menggunakan sabun cuci piring yang memang didesain untuk mengangkat lemak, atau menggosokkan minyak goreng maupun susu full cream ke bagian yang panas. Lemak di dalam susu atau minyak akan mengikat capsaicin dan mengangkatnya dari pori-pori kulit Anda.
Mengukur Level Penyiksaan: Skala Scoville
Dunia persambalan mengenal sebuah satuan ukur bernama SHU atau Scoville Heat Units. Skala ini diciptakan oleh apoteker bernama Wilbur Scoville pada tahun 1912 untuk mengukur kadar capsaicin dalam berbagai jenis cabai. Semakin tinggi angkanya, semakin "mematikan" efeknya bagi lidah.
Mari kita lihat perbandingannya agar kita tahu di mana posisi ketahanan lidah kita:
1. Paprika (0 SHU) Cabai besar yang sering kita temukan di piza ini menempati posisi paling dasar. Ia sama sekali tidak memiliki kandungan capsaicin yang signifikan sehingga rasanya hanya manis dan segar tanpa sengatan pedas sedikit pun.
2. Jalapeno (2.500 hingga 8.000 SHU) Cabai gendut asal Meksiko ini sering muncul sebagai pelengkap nachos atau burger. Tingkat kepedasannya tergolong "sopan" dan masih bisa dinikmati oleh pemula sebagai penghangat suasana.
3. Cabai Rawit (50.000 hingga 100.000 SHU) Ini adalah standar pedas lidah nusantara. Si kecil cabe rawit atau bird's eye chili memiliki lonjakan angka SHU yang cukup drastis dibandingkan Jalapeno. Di level ini, keringat sudah pasti mulai bercucuran dan telinga mulai berdengung.
4. Habanero (100.000 hingga 350.000 SHU) Berbentuk seperti lampion kecil berwarna oranye, Habanero menawarkan sensasi pedas yang menyengat tajam. Di Indonesia, jenis ini sering disebut sebagai cabai gendot. Rasa pedasnya tidak main-main dan bisa bertahan lama di rongga mulut.
5. Carolina Reaper (1.500.000 hingga 2.200.000+ SHU) Inilah raja diraja yang pernah memegang rekor dunia. Tingkat kepedasannya puluhan kali lipat dari cabai rawit kita. Mengonsumsinya bukan lagi soal kenikmatan makan, melainkan sebuah uji nyali yang bisa menyebabkan kram perut hingga sesak napas bagi yang tidak terbiasa.
Melihat fakta di atas, cabai rawit yang biasa kita makan ternyata masih berada di level menengah dalam hierarki kepedasan dunia. Namun bagi pecinta kuliner, rasa sakit dari capsaicin adalah bumbu penyedap kehidupan yang sulit untuk ditinggalkan.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
9 hours ago

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
10 hours ago

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
10 hours ago

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
10 hours ago

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
11 hours ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
11 hours ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
12 hours ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
10 hours ago

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
13 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
13 hours ago






