Ceritra
Ceritra Warga

Menepis Stigma "Tidak Pantas" Bagi Perempuan di Sektor Maskulin

Nisrina - Wednesday, 17 December 2025 | 11:51 AM

Background
Menepis Stigma "Tidak Pantas" Bagi Perempuan di Sektor Maskulin
Perempuan bekerja di bidang engineering yang sering dikatakan pekerjaan laki-laki (Unsplash/Ascel Kadhem)

Selama berabad-abad, konstruksi sosial seolah telah membangun tembok tebal yang memisahkan jenis pekerjaan berdasarkan gender. Ada wilayah yang dianggap sebagai "domain domestik" yang lembut untuk perempuan, dan ada wilayah "domain publik" yang keras untuk laki-laki. Narasi yang terus diulang-ulang di telinga masyarakat adalah bahwa perempuan tidak pantas berada di tempat yang kotor, berbahaya, penuh debu, atau membutuhkan logika teknik yang rumit. Namun, seiring berjalannya waktu, tembok pemisah tersebut perlahan mulai runtuh. Hari ini, kita tidak lagi asing melihat perempuan mengenakan helm keselamatan di lokasi tambang yang gersang, memimpin operasi bedah saraf yang krusial di ruang operasi, atau menulis baris kode rumit di balik layar raksasa perusahaan teknologi dunia.

Kehadiran perempuan di bidang yang didominasi pria atau male-dominated fields ini bukan lagi sekadar upaya perusahaan untuk memenuhi kuota keberagaman atau gimmick pencitraan semata. Ini adalah bukti nyata bahwa kompetensi, ketahanan mental, dan kepemimpinan tidak ditentukan oleh kromosom, melainkan oleh kemampuan dan kerja keras. Salah satu alasan klasik yang sering digunakan untuk membatasi ruang gerak perempuan adalah faktor fisik. Pekerjaan di sektor pertambangan, perminyakan, atau konstruksi sering dianggap terlalu berat dan kasar bagi fisik perempuan. Padahal, kemajuan teknologi telah mengubah lanskap industri ini secara drastis. Saat ini, mengoperasikan alat berat atau mesin bor raksasa lebih membutuhkan presisi, kewaspadaan tinggi, dan keahlian teknis daripada sekadar otot semata.

Di sinilah perempuan justru membuktikan keunggulannya. Banyak perusahaan alat berat melaporkan bahwa operator perempuan cenderung lebih teliti dalam merawat mesin dan jauh lebih patuh terhadap prosedur keselamatan kerja, sehingga angka kecelakaan di lapangan dapat diminimalisir. Stigma lawas bahwa perempuan "terlalu emosional" atau "baperan" untuk pekerjaan teknis juga terbantahkan oleh data lapangan yang menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan manajemen risiko yang sangat baik, bahkan dalam situasi penuh tekanan. Ketika perempuan masuk ke dalam ruangan rapat yang penuh dengan laki-laki, mereka tidak hanya membawa keahlian teknis, tetapi juga membawa perspektif baru yang menyegarkan dan memanusiakan lingkungan kerja.

Dalam dunia korporasi teknologi atau STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika), kehadiran pemimpin perempuan sering kali mengubah budaya kerja menjadi lebih inklusif dan empatik. Perempuan secara alami cenderung memiliki gaya kepemimpinan yang kolaboratif dan mau mendengar. Di industri yang kaku seperti manufaktur atau militer, pendekatan ini sangat berharga untuk membangun tim yang solid dan menyelesaikan konflik internal tanpa ego yang berlebihan. Mereka membuktikan bahwa ketegasan seorang pemimpin tidak harus selalu ditampilkan dengan suara keras atau dominasi agresif, melainkan bisa hadir dalam bentuk diplomasi yang elegan dan pengambilan keputusan yang matang dengan mempertimbangkan aspek kesejahteraan manusia di dalamnya.

Kendati pintu kesempatan sudah terbuka, perjalanan perempuan di jalur ini belumlah bertabur bunga sepenuhnya. Mereka menghadapi tantangan ganda yang unik dan melelahkan. Selain harus menaklukkan kesulitan teknis dari pekerjaan itu sendiri, mereka juga harus terus-menerus berjuang membuktikan bahwa mereka "layak" berada di sana. Sering kali muncul perasaan Imposter Syndrome, yaitu keraguan terhadap kemampuan diri sendiri dan merasa seperti penipu di tengah lingkungan mayoritas pria. Belum lagi komentar-komentar seksis berbalut candaan atau tatapan meremehkan dari rekan kerja yang harus dihadapi dengan kepala dingin. Namun, justru tekanan inilah yang menempa mental mereka menjadi baja. Para perempuan ini belajar untuk bekerja dua kali lebih keras dan berbicara lebih lantang melalui hasil kerja yang tak terbantahkan.

Tujuan akhir dari narasi ini bukanlah untuk terus-menerus menganggap perempuan di sektor maskulin sebagai sesuatu yang "luar biasa" atau "langka" sehingga harus selalu dielu-elukan. Tujuannya adalah normalisasi. Kita berharap di masa depan, seorang anak perempuan yang bercita-cita menjadi insinyur sipil, nakhoda kapal, atau pilot pesawat tempur tidak lagi dianggap sedang melawan kodrat, melainkan sedang mengejar karier yang wajar. Perempuan-perempuan tangguh yang hari ini berdiri di anjungan lepas pantai, di dalam kokpit pesawat, atau di ruang server, sesungguhnya sedang membuka jalan lebar bagi generasi berikutnya. Mereka mengirimkan pesan kuat bahwa tidak ada profesi yang "tidak pantas" bagi perempuan. Selama ada kemampuan, kemauan, dan kesempatan, setiap perempuan berhak menorehkan jejaknya di bidang apa pun, bahkan di tempat yang paling keras, kotor, dan maskulin sekalipun.

Logo Radio
🔴 Radio Live