Membedah Invisible Work dari Perspektif Tahun 1956 Hingga Realitas Rumah Tangga Modern
Nisrina - Saturday, 13 December 2025 | 08:51 AM


Di tengah dinamika rumah tangga modern, pembagian peran tradisional seringkali masih menempatkan tanggung jawab utama atas pekerjaan domestik dan pengasuhan anak pada sosok ibu. Fenomena ini telah menjadi subjek diskusi panjang, bahkan jauh sebelum terjadi pergeseran besar peran gender saat ini. Pada 16 Juli 1956, majalah LIFE memuat sebuah esai foto menarik yang kini menjadi studi kasus abadi tentang nilai tak terukur dari pekerjaan domestik (unpaid labor).
Esai yang dipotret oleh fotografer LIFE, Joe Scherschel, tersebut mengikuti kisah Joe Gordon, seorang arsitek berusia 33 tahun dari Dallas. Joe harus mengambil alih penuh peran istrinya selama akhir pekan, sendirian mengurus empat anaknya: Laura Lea (9 tahun), Spencer (3 tahun), dan sepasang bayi kembar berusia dua bulan. Sang istri pergi ke Tulsa untuk mendapatkan istirahat yang sangat dibutuhkan. Meskipun esai ini dibangun di atas asumsi peran ayah pada era 1950-an, ia secara tidak langsung mengakui betapa berharganya kerja domestik yang selama ini dilakukan ibu.
Eksperimen ini dimulai dengan antusiasme Joe, yang segera dihadapkan pada kekacauan sehari-hari dalam pengasuhan. Berbeda dengan deadline kantor yang terstruktur, pekerjaan rumah tangga bersifat tanpa akhir dan menuntut perhatian simultan: tangisan bayi, pergantian popok, bangun pagi yang ekstrem, hingga krisis tak terduga (seperti Spencer bermain paku di lorong). Foto-foto dari esai tersebut menangkap kekacauan ini, yang terasa seperti cuplikan dari situasi komedi tahun 50-an.

Joe Gordon sedang mengganti popok salah satu bayi kembarnya, sementara bayi kembar yang lain bertengger di bahunya.
Kelelahan yang dialami Joe bukan hanya fisik, tetapi juga mental. Ia harus mengurus semua aspek emotional labor, yaitu perencanaan, pengorganisasian, dan pemeliharaan kesejahteraan emosional keluarga. Tugas ini menguras energi kognitif yang besar.

Joe Gordon sedang mengamati tumpukan piring kotor dan botol susu formula di dapur. Ia baru berhasil mencuci semua piring tersebut pada pukul 11 malam di hari yang sama.
Pengalaman singkat ini membawa Joe pada kesimpulan yang penting. Di akhir episode tersebut, ia berkata kepada LIFE, “Saya merasa seperti telah melakukan pendakian sejauh 25 mil dengan ransel penuh… Saya tidak akan bertukar pekerjaan dengan istri sedikit pun.”

Sang Ibu akhirnya pulang setelah menghabiskan akhir pekan di luar kota, menyambut suaminya, Joe Gordon, dan anak-anak mereka (1956).
Pengalaman Joe Gordon pada tahun 1956 menjadi sangat relevan dengan konteks saat ini. Meskipun peran rumah tangga telah banyak berubah sejak era LIFE, studi dari Pew Research Center tahun 2023 menunjukkan bahwa meskipun jumlah pernikahan di mana wanita menjadi pencari nafkah utama telah berlipat ganda dalam 50 tahun terakhir, wanita masih lebih cenderung memikul beban yang lebih berat dalam hal pengasuhan dan pekerjaan domestik. Kisah Joe Gordon, oleh karena itu, tetap menjadi pengingat yang kuat: rumah tangga yang harmonis diukur dari kesediaan pasangan untuk melihat, menghargai, dan berbagi beban kerja, terutama beban kerja domestik dan emosional yang tak terlihat sebagai fondasi utama bagi kemitraan yang berkelanjutan.
Pengalaman singkat ini membawa Joe pada kesimpulan yang penting. Di akhir episode tersebut, ia berkata kepada LIFE, “Saya merasa seperti telah melakukan pendakian sejauh 25 mil dengan ransel penuh… Saya tidak akan bertukar pekerjaan [dengan istri] sedikit pun."
Kisah Joe Gordon pada tahun 1956 menjadi sangat relevan dengan keadaan masa kini. Meskipun peran rumah tangga telah banyak berubah drastis, ketika studi dari Pew Research Center tahun 2023 menunjukkan bahwa wanita semakin banyak menjadi pencari nafkah utama, beban pengasuhan dan pekerjaan domestik masih secara tidak proporsional diemban oleh pihak wanita. Dengan demikian, pengalaman Joe, yang terjadi hampir tujuh dekade lalu, tetap menjadi pengingat yang kuat bagi pasangan modern. Rumah tangga yang harmonis diukur bukan hanya dari kesamaan finansial, tetapi dari kesediaan kedua belah pihak untuk melihat, menghargai, dan berbagi secara adil beban kerja domestik dan emosional yang tak terlihat. Kisah ini menegaskan bahwa kemitraan sejati dibangun di atas apresiasi, yang merupakan fondasi utama bagi kebahagiaan keluarga yang berkelanjutan di era mana pun.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
17 hours ago

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
18 hours ago

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
18 hours ago

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
18 hours ago

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
19 hours ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
19 hours ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
20 hours ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
18 hours ago

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
21 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
21 hours ago






