Membedah Insomnia, Jenis, dan Bahayanya Bagi Tubuh
Refa - Monday, 22 December 2025 | 09:16 AM


Banyak orang sering berkata "Aku insomnia nih" hanya karena mereka terjaga sampai jam 2 pagi menonton film atau bermain media sosial. Padahal, secara medis, itu bukanlah insomnia, melainkan gaya hidup.
Insomnia didefinisikan sebagai ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan tidur, padahal ada kesempatan dan waktu yang cukup untuk tidur. Jadi, jika seseorang ingin tidur tapi tubuh menolak padam, itulah insomnia.
Gangguan ini bukan masalah sepele. Memahami anatomi insomnia adalah langkah pertama untuk menanganinya sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan kronis.
Berikut adalah hal-hal fundamental yang perlu diketahui tentang insomnia.
Insomnia Akut vs Kronis
Tidak semua insomnia sama. Dunia medis membaginya menjadi dua kategori utama berdasarkan durasinya:
- Insomnia Akut (Jangka Pendek): Biasanya berlangsung beberapa hari hingga beberapa minggu. Penyebabnya jelas, seperti stres ujian, putus cinta, jet lag, atau berduka. Biasanya akan sembuh sendiri saat pemicu stresnya hilang.
- Insomnia Kronis (Jangka Panjang): Gangguan tidur yang terjadi minimal 3 malam per minggu dan berlangsung selama 3 bulan atau lebih. Ini adalah kondisi serius yang sering kali tidak lagi berhubungan dengan pemicu stres awal, melainkan sudah menjadi pola perilaku yang menetap dan membutuhkan intervensi medis.
Bukan Cuma "Susah Merem"
Gejala insomnia tidak hanya terbatas pada sulit memejamkan mata di awal malam (Sleep Onset Insomnia). Ada varian lain yang sama menyiksanya:
- Sleep Maintenance Insomnia: Penderita bisa tertidur dengan cepat, tapi terbangun di tengah malam (misalnya jam 2 pagi) dan tidak bisa tidur lagi hingga pagi.
- Early Morning Awakening: Terbangun jauh lebih awal dari yang diinginkan (misalnya jam 4 pagi) dan merasa lelah, tapi tidak bisa kembali tidur.
- Non-Restorative Sleep: Tidur cukup durasinya (7-8 jam), tapi bangun dengan perasaan lelah, pegal, dan tidak segar seolah-olah tidak tidur sama sekali.
Lingkaran Setan "Psychophysiological Insomnia"
Ini adalah jenis insomnia yang paling umum terjadi pada penderita kronis. Ironisnya, penyebab utamanya adalah rasa takut tidak bisa tidur.
Penderita menjadi cemas saat melihat jam dinding. "Waduh, sudah jam 12, kalau tidak tidur sekarang besok pasti hancur." Kecemasan ini memicu pelepasan adrenalin dan kortisol (hormon stres). Akibatnya, jantung berdetak kencang dan otak menjadi waspada.
Lama-kelamaan, otak melakukan asosiasi negatif (conditioning): Kamar Tidur = Bahaya/Stres. Penderita mungkin mengantuk saat duduk di sofa, tapi begitu masuk kamar tidur, matanya langsung segar dan jantung berdebar. Kasur bukan lagi tempat istirahat, melainkan medan perang mental.
Insomnia Seringkali Hanyalah "Gejala", Bukan Penyakit Utama
Sering kali insomnia adalah "asap", dan ada "api" lain yang menyebabkannya. Ini disebut Insomnia Sekunder. Penyebab yang mendasarinya bisa berupa:
- Masalah Medis: Asma, GERD (asam lambung naik saat berbaring), hipertiroid, atau nyeri kronis (sakit punggung/sendi).
- Masalah Psikologis: Depresi dan gangguan kecemasan (Anxiety Disorder) adalah pasangan setia insomnia.
- Gangguan Tidur Lain: Seperti Sleep Apnea (henti napas saat tidur yang membuat otak membangunkan tubuh ratusan kali semalam) atau Restless Leg Syndrome (kaki yang terasa tidak nyaman dan ingin terus digerakkan).
Dampak Sistemik pada Tubuh
Kurang tidur bukan hanya menyebabkan mata panda atau rasa kantuk. Dampaknya merusak hingga ke tingkat seluler:
- Otak: Penurunan konsentrasi, daya ingat memburuk, dan risiko tinggi mengalami microsleep (tertidur sedetik) saat mengemudi. Jangka panjangnya berkaitan dengan risiko Alzheimer karena otak gagal membersihkan "sampah" protein saat tidur.
- Jantung: Saat tidur, tekanan darah seharusnya turun. Insomnia membuat tekanan darah tetap tinggi, meningkatkan risiko hipertensi dan serangan jantung.
- Metabolisme & Berat Badan: Kurang tidur mengacaukan hormon lapar. Hormon Ghrelin (pemicu lapar) naik, dan Leptin (penahan kenyang) turun. Akibatnya, penderita insomnia cenderung makan berlebihan dan berisiko obesitas serta diabetes tipe 2.
Kapan Harus ke Dokter?
Mengandalkan obat tidur warung (over-the-counter) bukanlah solusi jangka panjang karena bisa menyebabkan ketergantungan dan toleransi (butuh dosis makin tinggi).
Pemeriksaan medis diperlukan jika:
- Gangguan tidur sudah mengganggu aktivitas siang hari (kerja berantakan, emosi labil).
- Berlangsung lebih dari 3 bulan.
- Pasangan tidur melaporkan adanya dengkuran keras yang terputus-putus (tanda sleep apnea).
- Sering ketindihan atau melakukan gerakan fisik aneh saat tidur.
Next News

Malam Paling Agung di Masjidil Aqsa Saat Nabi Muhammad SAW Menjadi Imam Seluruh Nabi
in 42 minutes

4 Lokasi Bersejarah yang Disinggahi dan Menjadi Tempat Sholat Rasulullah Saat Isra' Mi'raj
in 12 minutes

Bukan Sekadar Perjalanan, Ini Protokol Langit Saat Nabi Muhammad SAW Naik Buraq
in 12 minutes

Langkahnya Sejauh Pandangan Mata, Keajaiban Buraq dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
18 minutes ago

Kenapa Rajaban Selalu Dinanti? Tradisi Jawa Rayakan Isra’ Mi’raj dengan Cara Berbeda
an hour ago

Mengapa Isra’ Mi’raj Terjadi Setelah Tahun Kesedihan? Ini Jawabannya
an hour ago

Salat Masih Terasa Hampa? Coba Renungi Makna Al-Fatihah Ayat per Ayat
2 hours ago

Bukan Sihir! Penyakit Aneh Ini Bisa Bikin Kamu Mabuk Berat Cuma Gara-gara Sepotong Roti
3 minutes ago

Sholat Sering Melamun? Coba 6 Teknik Ini agar Lebih Khusyuk
3 hours ago

Bukan Beban, Ini Alasan Sholat Disebut Hadiah Langsung dari Allah
3 hours ago






